Kebakaran Gambut di Kubu Raya, Petugas Terkendala Akses Air

Bupati Kubu Raya Sujiwo bersama petugas TNI/Polri berjibaku memadamkan api pada lahan gambut di Kecamatan Sungai Raya (ANTARA/Rendra Oxtora)

Kebakaran Gambut di Kubu Raya, Petugas Terkendala Akses Air

Lukman Diah Sari • 20 July 2026 18:23

Pontianak: Tim Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Kubu Raya masih berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut Desa Rasau Jaya Umum, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

"Karakteristik lahan gambut menjadi tantangan utama karena api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga merambat hingga ke lapisan bawah tanah sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk dipadamkan. Proses pemadaman cukup sulit karena lahan didominasi gambut. Kami terus berupaya agar api tidak meluas ke wilayah lain," kata Kepala Regu Brigade Dalkarhutla KPH Wilayah Kubu Raya Florensius Loren di Sungai Raya, Senin, 20 Juli 2026, melansir Antara.

Ia mengatakan, titik kebakaran berada di perbatasan Desa Rasau Jaya Umum dengan Desa Kuala Dua. Hingga Minggu, 19 Juli 2026, proses pemadaman terus dilakukan guna mencegah api meluas.

Florensius mengungkapkan, petugas menghadapi kendala sumber air yang cukup jauh dari lokasi kebakaran. Personel terpaksa mengangkut peralatan pemadam dalam jarak yang relatif panjang.

"Kendala di lapangan saat ini adalah sumber air yang cukup jauh sehingga menguras tenaga personel melangsir alat untuk menjangkaunya. Selain itu, jumlah selang hantar yang kami miliki masih terbatas sehingga belum mampu menjangkau titik api yang berada di bagian ujung," ujarnya.

Tingginya intensitas operasi pemadaman juga memengaruhi kondisi peralatan. Mesin pompa yang dioperasikan terus-menerus mulai mengalami penurunan performa akibat tingginya jam operasional.

Ilustrasi-Petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan api yang membakar lahan gambut di Kota Palangka Raya. (MI)

Florensius mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Hal ini berpotensi memicu kebakaran yang sulit dikendalikan, terutama di kawasan gambut saat musim kemarau.

"Jangan membuka lahan dengan cara membakar. Kebakaran di lahan gambut sangat sulit dipadamkan karena api dapat merambat hingga ke bawah permukaan tanah. Berbeda dengan lahan mineral yang lebih mudah ditangani," katanya.

Menurutnya, api di lahan gambut umumnya baru benar-benar padam setelah turun hujan berintensitas tinggi. Kondisi ini juga menyebabkan asap bertahan lebih lama, sehingga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan kualitas udara.

Florensius berharap, sinergi pemadaman oleh berbagai instansi, relawan, dan tim gabungan dapat segera mengendalikan karhutla, sehingga dampaknya terhadap lingkungan, kesehatan, dan aktivitas warga dapat diminimalisasi.

(Lukman Diah Sari)