Guntur Soekarno tampil bersama grup band-nya. Foto: Istimewa
Guntur Soekarno Raih Rekor MURI, Intip Perjuangan Bermusik Putra Presiden Pertama RI
Muhamad Marup • 16 July 2026 16:31
Jakarta: Guntur Soekarno yang akrab disapa Mas Tok meraih penghargaan Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) atas pencapaiannya di bidang musik. Kategori karya yang dicapai Guntur Soekarno ini dinilai unik lantaran bisa diraih dalam kondisi politik, ekonomi dan keamanan yang saat itu tak mudah dijalani.
"Buat saya Rekor Muri ini mengejutkan dan surprise karena saya dari dulu tidak pernah memikirkan rekor-rekoran tersebut apalagi mengejarnya. Saya berkarya saja, main musik, cari duit, dan bahagia," ujar Guntur, dalam keterangan tertulis, Kamis, 16 Juli 2026.
Penganugerahan rekor MURI tersebut dilaksanakan di Gedung Jaya Suprana Institute, pada Kamis, 16 Juli 2026. Anugerah rekor diberikan langsung oleh Jaya Suprana.
Berawal dari Tambahan Uang Kuliah
Perjuangan bermusik Guntur bukan perkara mudah. Ia menceritakan, meski ayahnya seorang Presiden Pertama Republik Indonesia, tapi Soekarno bukanlah orang yang banyak duit.Soekarno tak bisa memberikan uang lebih untuk pegangan Guntur ketika diterima masuk ke Jurusan Teknik Mesin, Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat, pada 1962. Karena tak mau merecoki ayahnya, Mas Tok pun ingin mencari uang tambahan.
"Bapak di Jakarta, dan uang yang dikirimnya sama kecilnya dengan uang yang diberikan ayahnya dahulu kepada bapak. Saya lupa jumlahnya tetapi sama kecilnya dengan uang saku yang diterima bapak saat kos di Bandung dan kuliah di THS," tutur Mas Tok lagi.

Guntur Soekarno tampil bersama grup band-nya. Foto: Istimewa
Selain untuk tambahan uang jajan, Mas Tok menyalurkan bakat musiknya dengan bergabung dengan kelompok band Alulas, yang dipimpin Syamsuddin. Salah satu musisi yang kemudian menjadi personel group band Bimbo.
Usai melalui berbagai tes memainkan sejumlah alat musik, Mas Tok juga dites vokal membawakan sebuah lagu. Lolos semuanya, jadilah Mas Tok personel musik Alulas Band, sebuah kelompok musik yang dikenal di Bandung pada 1962.
Dari Alulas Band, Mas Tok mempelopori berdirinya kelompok musisi baru yang kemudian dinamakan Aneka Nada. Selain Syamsuddin, personil lainnya adalah Iwan Abdurachman, Iman Djumaedi, Memet Slamet, Yessy Wenas dan Alphonse (yang sekarang tinggal di Spanyol).
Aneka Nada saat itu menjadi wadah kreativitas musik bagi anak muda dan seniman di masanya itu. Band ini juga didukung oleh sejumlah musisi dan tokoh yang kelak menjadi legenda, seperti Syamsuddin, Iwan Abdurachman, dan Iman Djumaedi.
Kelompok band-nya juga cukup disegani dan sering tampil dalam berbagai acara serta mengiringi kegiatan-kegiatan seni. Selain nama-nama di atas, ada personel band lain, tapi Guntur mengaku lupa karena sebagian sudah ada yang meninggal dunia.
Dengan grup musik barunya itu, Mas Tok dan Aneka Nada bisa tampil di berbagai acara, di antaranya di hotel-hotel di Bandung dan tempat pertunjukan lainnya. Sejumlah lagu lawas era 1962-1963 pun mengalir dibawakan Mas Tok dan kawan-kawannya.
Terkadang Mas Tok memainkan alat musik gitar dan bergantian menabuh drum dan vibraphone dengan personel lainnya.
Ia juga sempat menciptakan beberapa lagu, di antaranya berjudul "Masa Lalu", menceritakan temannya yang ditinggal pergi sang kekasih. Sebuah musik instrumentalia juga berhasil diciptakan lewat petikan gitarnya, dan dibawakan Aneka Nada.
Mas Tok dan Aneka Nada tak sekadar tampil menghibur. Ia juga mengajak personel group band-nya merekam sejumlah lagu dalam piringan hitam. Sebelum merekam lagu-lagu dan musiknya, Mas Tok juga membentuk grup musik yang dimainkan hanya oleh empat personel band. Namanya, Kwartet Bintang.

Piringan hitam Aneka Nada. Foto: Istimewa
Personelnya, hanya empat yaitu Mas Tok sendiri, Memet Slamet, Yessy Wenas da Dodo Rukanda Ishak. Bersama Kwartet Bintang dan Aneka Nada pun, Mas Tok akhirnya berhasil merekam dalam piringan hitam.
Dengan piringan hitam yang dirilis itulah, Aneka Nada dan Kwartet Bintang menjadi salah satu pelopor grup musik modern saat itu yang turut mewarnai sejarah musik pop di Indonesia di masa tersebut. Sebagai apresiasi dan penghargaan terhadap putra Presiden Pertama yang membentuk group band dan Karyanya direkam dalam piringan hitam, Guntur Soekarno kini berhak menyandang gelar Rekor MURI atas dedikasi, karya dan bakat musiknya.