Ilustrasi. Foto: Dok istimewa
Tekanan Jual Masih Dominan, Emas Berisiko Lanjut Tren Penurunan
Eko Nordiansyah • 30 June 2026 11:07
Jakarta: Harga emas dunia diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan Selasa, 30 Juni 2026.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, tren bearish masih mendominasi pergerakan emas di tengah kombinasi sentimen teknikal dan fundamental yang belum menunjukkan perubahan berarti.
"Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mengantisipasi potensi rebound jangka pendek karena harga saat ini telah memasuki area support yang cukup kuat," kata dia dalam keterangan tertulis, Selasa, 30 Juni 2026.
Geraldo menjelaskan, pada grafik H4, harga emas masih berada dalam fase penurunan yang relatif solid. Tekanan jual yang terjadi dalam beberapa sesi terakhir membuat harga berhasil mencapai area support utama di level USD3.956.
Area tersebut kini menjadi titik penting yang akan menentukan arah pergerakan emas selanjutnya. Selama tekanan jual masih bertahan dan tidak ada sinyal pembalikan yang kuat, peluang harga untuk melanjutkan pelemahan masih cukup besar.
"Dari sisi teknikal, tren turun masih menjadi skenario utama. Harga memang sudah berada di area support penting, namun hingga saat ini belum ada konfirmasi yang menunjukkan perubahan tren dari bearish menjadi bullish," ujar Geraldo.
Menurut dia, apabila level support USD3.956 gagal menahan tekanan jual, maka harga emas berpotensi melanjutkan penurunan menuju target support berikutnya di area USD3.874. Level tersebut diperkirakan menjadi sasaran berikutnya apabila dominasi seller masih terus berlanjut dalam jangka pendek.
Meski demikian, Geraldo mengingatkan posisi harga yang sudah berada di area support utama juga membuka peluang terjadinya koreksi naik atau pullback. Reaksi beli dari sebagian pelaku pasar berpotensi muncul karena ada investor yang memanfaatkan harga rendah untuk masuk ke pasar atau menutup posisi jual yang sebelumnya telah menghasilkan keuntungan.
Koreksi seperti ini dinilai sebagai bagian dari pergerakan normal dalam sebuah tren turun dan belum tentu menjadi sinyal perubahan arah. Selama harga belum mampu menembus area resistance penting dan membentuk struktur kenaikan yang lebih kuat, peluang penurunan masih lebih dominan dibandingkan potensi penguatan.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Unplash)
Sinyal bearish masih berlanjut
Dari sisi indikator teknikal, sinyal bearish juga masih terlihat cukup jelas. Indikator Moving Average masih bergerak menurun dan menunjukkan harga tetap berada di bawah garis rata-rata pergerakan utama. Kondisi tersebut menandakan bahwa tren turun masih berlangsung dan tekanan jual masih menguasai pasar.Sementara itu, indikator Stochastic terus bergerak menuju area oversold atau jenuh jual. Meski posisi tersebut sering menjadi indikasi harga berpotensi mengalami pantulan, hingga saat ini belum muncul sinyal pembalikan yang valid.
"Artinya, momentum penurunan masih relatif kuat meskipun ruang untuk koreksi jangka pendek tetap terbuka," jelas dia.
Faktor fundamental global
Selain faktor teknikal, pergerakan harga emas juga masih dipengaruhi oleh kondisi fundamental global yang belum banyak berubah. Salah satu faktor utama yang terus membebani harga emas adalah penguatan dolar Amerika Serikat."Ketika nilai tukar dolar meningkat, harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain sehingga permintaannya cenderung melemah," ungkap dia.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat US Treasury Yield yang masih bertahan pada level tinggi juga menjadi faktor yang mengurangi daya tarik emas. Sebagai aset yang tidak memberikan bunga atau imbal hasil, emas biasanya kurang diminati ketika instrumen pendapatan tetap menawarkan tingkat pengembalian yang lebih menarik.
Pasar juga masih menaruh perhatian pada arah kebijakan moneter Federal Reserve. Selama data ekonomi Amerika Serikat, seperti inflasi, pasar tenaga kerja, dan aktivitas bisnis, masih menunjukkan kondisi yang solid, ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi diperkirakan tetap bertahan.
"Kondisi tersebut mendukung penguatan dolar AS sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas," kata Geraldo.
Meski begitu, pelaku pasar tetap perlu mencermati kemungkinan terjadinya aksi short covering maupun profit taking. Setelah penurunan yang cukup tajam dalam beberapa waktu terakhir, sebagian investor dapat memilih merealisasikan keuntungan dari posisi jualnya. Aktivitas tersebut berpotensi memicu kenaikan harga dalam jangka pendek sebelum tren utama kembali berlanjut.
Permintaan safe haven dukung peluang rebound
Selain itu, perkembangan geopolitik maupun rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat juga masih berpotensi memengaruhi arah pergerakan emas. Apabila muncul sentimen yang meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, peluang terjadinya rebound dapat semakin besar."Sebaliknya, jika data ekonomi kembali menunjukkan hasil yang lebih baik dari perkiraan, tekanan terhadap emas diperkirakan akan tetap berlanjut," ujar dia.
Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai prospek harga emas hari ini masih cenderung bearish. Secara teknikal, harga masih bergerak dalam tren turun dengan target pelemahan berikutnya di area USD3.874, selama belum mampu keluar dari tekanan resistance dan membentuk sinyal pembalikan yang kuat.
Dari sisi fundamental, kombinasi penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, serta ekspektasi suku bunga tinggi masih menjadi faktor utama yang membatasi ruang kenaikan emas.
"Meski peluang koreksi jangka pendek tetap terbuka akibat posisi harga yang berada di area support, tren utama diperkirakan masih mengarah pada pelemahan hingga muncul katalis baru yang mampu mengubah sentimen pasar," ujarnya.