Suasana di TPST Bantargebang. Metrotvnews.com/ Antonio
Pemkot Bekasi Belajar Teknologi Ubah Sampah Jadi Listrik di Tiongkok
Antonio • 26 June 2026 17:23
Bekasi: Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi bersama DPRD Kota Bekasi dan perwakilan tokoh masyarakat Bantargebang melakukan kunjungan kerja ke fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA) milik Wangneng Environment di Huzhou, Tiongkok, Jumat, 26 Juni 2026.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Kiswatiningsih, mengatakan kunjungan ini dilakukan untuk mempelajari secara langsung teknologi pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy) yang akan diterapkan dalam proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Kota Bekasi. Mulai dari penerimaan sampah, pengolahan, pengendalian emisi hingga konversi menjadi energi listrik.
"Kami ingin seluruh proses pembangunan PSEL berjalan secara transparan dan dipahami bersama oleh seluruh pihak. Dengan melihat langsung fasilitas yang telah beroperasi, masyarakat dapat memperoleh gambaran yang utuh mengenai manfaat teknologi, standar operasional, serta aspek lingkungan yang diterapkan," kata Kiswatiningsih, Jumat, 26 Juni 2026.
Dia mengatakan, kunjungan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian persiapan menjelang pembangunan fisik PSEL Kota Bekasi yang saat ini tengah dipercepat. Ia juga menegaskan seluruh biaya kunjungan ditanggung oleh Wangneng Environment Co., Ltd. selaku Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP) yang telah ditetapkan dalam proyek PSEL Kota Bekasi.
"Pembiayaan kunjungan sepenuhnya ditanggung oleh Wangneng sebagai BUPP sehingga tidak membebani keuangan daerah," ungkapnya.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan pembangunan PSEL tidak hanya bertujuan menghadirkan fasilitas pengolahan sampah modern, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi kawasan Bantargebang. Selama puluhan tahun, kata Tri, Bantargebang dikenal sebagai lokasi pengolahan dan pembuangan sampah terbesar di Indonesia.
"Kami ingin mengubah stigma masyarakat terhadap Bantargebang. Tidak lagi hanya dikenal sebagai tempat pembuangan sampah, tetapi menjadi pusat inovasi lingkungan hidup yang mampu mengubah sampah menjadi energi, membuka peluang ekonomi baru, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar," ujar Tri.
Menurutnya, transformasi tersebut tidak hanya ditopang oleh pembangunan PSEL. Pemkot Bekasi juga tengah mendorong pengembangan industri berbasis ekonomi sirkular, termasuk pemanfaatan fly ash dan bottom ash (FABA) yang dihasilkan dari proses pengolahan sampah menjadi energi.

Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com
Pengembangan industri berbasis FABA dinilai berpotensi menghasilkan berbagai produk konstruksi bernilai tambah, menciptakan lapangan kerja baru, sekaligus mendorong tumbuhnya kawasan industri hijau yang terintegrasi di Bantargebang.
"Dengan begitu, manfaatnya tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar," ungkapnya.
Tri menyatakan pihaknya menargetkan tahapan groundbreaking proyek PSEL dapat dilaksanakan pada awal Juli 2026. Prosesi peletakan batu pertama tersebut direncanakan akan dihadiri dan diresmikan langsung oleh Prabowo Subianto.
Pemkot Bekasi berharap pembangunan PSEL beserta pengembangan industri pendukungnya dapat menjadikan Bantargebang sebagai model transformasi kawasan lingkungan yang berhasil mengubah persoalan sampah menjadi peluang pembangunan berkelanjutan.
"Dulu orang mengenal Bantargebang karena gunungan sampahnya. Ke depan, kami ingin Bantargebang dikenal sebagai simbol keberhasilan pengelolaan lingkungan modern, tempat lahirnya energi bersih, inovasi teknologi, dan pusat pertumbuhan ekonomi hijau di Kota Bekasi," jelas Tri.
Beberapa orang yang akan berangkat di antaranya Wali Kota Bekasi Tri Adhianto dan diikuti Ketua DPRD Kota Bekasi Sardi Efendi, pimpinan serta anggota Komisi II DPRD Kota Bekasi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi Kiswatiningsih, serta sejumlah tokoh masyarakat Bantargebang.