Pemerintah Yaman Ancam Balas Serangan Houthi yang Semakin Intensif

Yaman menyatakan siap merespons meningkatnya serangan rudal dan drone Houthi. (Anadolu Agency)

Pemerintah Yaman Ancam Balas Serangan Houthi yang Semakin Intensif

Muhammad Reyhansyah • 11 August 2026 17:05

Sanaa: Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyatakan akan merespons serangkaian serangan Houthi yang terus meningkat, di tengah gelombang serangan rudal dan drone terhadap wilayah yang dikuasai pemerintah.

Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden (PLC) Yaman, Rashad al-Alimi, mengatakan pasukan pemerintah kini lebih siap menghadapi eskalasi terbaru dan tidak akan lagi membiarkan Houthi menentukan waktu maupun skala konfrontasi militer.

Menurut laporan kantor berita pemerintah Yaman, Saba, al-Alimi menyampaikan pernyataan tersebut dalam pertemuan dengan para duta besar negara-negara yang mendukung proses politik Yaman di Riyadh, Arab Saudi.

Al-Alimi mengatakan pemerintah sebelumnya berupaya mempertahankan situasi relatif tenang yang tercipta setelah gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2022.

Namun, ia menegaskan komitmen pemerintah terhadap perdamaian tidak akan dibiarkan menjadi kesempatan bagi Houthi untuk melancarkan serangan tanpa menghadapi konsekuensi.

"Negara tidak memulai eskalasi ini dan tidak pula menginginkannya," kata al-Alimi, dikutip dari Xinhua, Selasa, 11 Agustus 2026.

Ia mengatakan serangkaian serangan terbaru menunjukkan bahwa situasi militer dan politik telah berubah. Menurutnya, serangan terhadap Marib, Hadramout, dan wilayah pesisir barat tidak akan lagi berlalu "tanpa konsekuensi."

Serangan Houthi Kian Intensif

Pernyataan al-Alimi disampaikan setelah beberapa hari serangan Houthi meningkat terhadap pasukan dan infrastruktur pemerintah di provinsi penghasil minyak Marib, Hadramout, dan Shabwa, serta Kota Mocha di pesisir barat.

Dalam beberapa pekan terakhir, Houthi meningkatkan serangan menggunakan rudal dan drone terhadap wilayah yang dikuasai pemerintah Yaman serta sasaran di Arab Saudi, yang merupakan salah satu pendukung utama pemerintah Yaman.

Pada Juli, Houthi mengumumkan larangan pelayaran bagi kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Arab Saudi. Sejak saat itu, kelompok tersebut mengklaim telah menyerang kapal tanker minyak yang terkait dengan Saudi di Laut Merah serta fasilitas energi di wilayah kerajaan.

Houthi menyatakan serangan terhadap pasukan pemerintah merupakan respons atas apa yang mereka sebut sebagai peningkatan kekuatan dan mobilisasi militer yang didukung Arab Saudi di Yaman.

Kelompok tersebut juga menggambarkan serangan ke wilayah Saudi sebagai aksi balasan terhadap apa yang mereka sebut sebagai blokade terhadap wilayah yang dikuasai Houthi.

Konflik di Yaman telah berlangsung sejak akhir 2014 ketika Houthi menguasai sebagian besar wilayah utara, termasuk ibu kota Sanaa. Kondisi tersebut kemudian mendorong koalisi yang dipimpin Arab Saudi melakukan intervensi militer pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman.

Gencatan senjata yang dimediasi PBB mulai berlaku pada April 2022 dan berakhir pada Oktober tahun yang sama tanpa perpanjangan resmi. Meski demikian, gencatan senjata de facto yang rapuh sebagian besar tetap bertahan setelahnya, meskipun bentrokan sporadis masih terjadi di sejumlah garis depan.

Baca juga:  Serangan Houthi di Bab al-Mandeb Tewaskan Tiga Awak Kapal, Termasuk Satu WNI

(Willy Haryono)