BGN Tegaskan Nol Toleransi terhadap Insiden Keamanan Pangan MBG

Kepala BGN Sudaryono (dua dari kanan) saat menjenguk korban dugaan insiden keamanan pangan yang menimpa ratusan siswa SMK Negeri 6 Semarang di sejumlah rumah sakit di Kota Semarang, Sabtu (1/8/2026). ANTARA/HO-BGN.

BGN Tegaskan Nol Toleransi terhadap Insiden Keamanan Pangan MBG

Achmad Zulfikar Fazli • 2 August 2026 21:03

Jakarta: Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan zero tolerance atau nol toleransi terhadap insiden keamanan pangan maupun penyimpangan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini disampaikan Sudaryono usai menjenguk korban dugaan insiden keamanan pangan yang menimpa ratusan siswa SMK Negeri 6 Semarang di sejumlah rumah sakit, Kota Semarang, Sabtu, 1 Agustus 2026.

"Saya sebagai Kepala BGN yang baru ini, memastikan zero tolerance terhadap keracunan, tindak pidana korupsi, dan hanky-panky (tindakan menyimpang dan tidak jujur), titip-menitip duit, itu enggak boleh lagi," ujar Sudaryono dalam keterangan tertulis di Jakarta, dilansir dari Antara, Minggu, 2 Agustus 2026.

Dia menegaskan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wajib mematuhi standar operasional prosedur (SOP) secara ketat. Hal ini untuk mencegah terulangnya insiden keamanan pangan dalam pelaksanaan program.

Menurut dia, kepatuhan terhadap SOP dan sistem pengelolaan dapur merupakan kunc menjamin keamanan makanan yang disajikan kepada penerima manfaat. Dia menekankan kepala dapur bertanggung jawab penuh memastikan seluruh prosedur dijalankan dengan disiplin.

"Supaya tidak terulang lagi, harus ikuti SOP. Sistem juga diikuti, kemudian komandannya kepala SPPG. Saya paham Anda punya koki, pengawas gizi, atau orang-orang yang bekerja di situ, barangkali mungkin ada satu atau dua yang ngeyel, sehingga harus ada kepemimpinan yang tegas di situ," tutur Sudaryono.


Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono. Foto: Dok. Metro TV

Sudaryono mengemukakan kepala SPPG harus bertindak tegas terhadap petugas yang tidak mematuhi prosedur kebersihan dan keamanan pangan, seperti tidak mencuci tangan, tidak menggunakan sarung tangan, atau tidak mengenakan masker saat mengolah makanan.

"Kalau misalnya ada di antara pegawai di dapur itu barangkali mungkin susah dikasih tahu untuk cuci tangan-lah, atau memakai SOP harus pakai sarung tangan, pakai masker, ya harus dikeluarkan, harus tegas ini! Karena kesehatan dan nyawa seseorang itu sangat berarti enggak boleh lagi (ada toleransi)," ucap Sudaryono.

(Achmad Zulfikar Fazli)