Antisipasi Karhutla, BMKG Sorong Tingkatkan Pemantauan Atmosfer

BMKB Sorong rapat koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya membahas antisipasi potensi kebakaran hutan yang berlangsung di Kota Sorong. ANTARA/Yuvensius Lasa Banafanu

Antisipasi Karhutla, BMKG Sorong Tingkatkan Pemantauan Atmosfer

Lukman Diah Sari • 25 July 2026 01:17

Sorong: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Pemantau Atmosfer Global (PAG) Sorong meningkatkan pemantauan parameter atmosfer sebagai upaya mengantisipasi meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Papua Barat Daya akibat pengaruh fenomena El Nino kuat.

Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global Sorong, Budi Satria, mengatakan hasil pemantauan atmosfer, cuaca, dan klimatologi menunjukkan dalam beberapa hari ke depan terdapat peningkatan potensi risiko karhutla di Kota Sorong dan wilayah sekitarnya.

"Perlu kami tegaskan bahwa BMKG tidak memprediksi akan terjadi kebakaran. Namun, kondisi cuaca saat ini dapat meningkatkan risiko apabila terdapat sumber api dari aktivitas manusia," kata Budi  di Sorong, Jumat, 24 Juli 2026, melansir Antara.

Ia menjelaskan peningkatan risiko tersebut dipengaruhi oleh berkurangnya intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir, kelembapan udara yang menurun pada siang hari, peningkatan suhu udara akibat penyinaran matahari yang cukup kuat, serta kondisi angin yang berpotensi mempercepat penyebaran api apabila terjadi kebakaran.

Menurut dia, sebagian besar kejadian karhutla dipicu oleh kelalaian manusia, seperti pembakaran sampah tanpa pengawasan, pembukaan lahan dengan cara dibakar, hingga pembuangan puntung rokok di area semak kering.

Budi mengatakan analisis perkembangan El Nino Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan nilai anomali positif suhu muka laut di Samudra Pasifik sebesar +1,88 yang mengindikasikan fase El Nino kuat. Kondisi tersebut menyebabkan berkurangnya pasokan uap air ke wilayah Papua Barat Daya sehingga musim kemarau menjadi lebih kering dibandingkan kondisi normal.

"Udara yang lebih kering serta vegetasi yang mengering memicu kondisi yang lebih mudah terbakar. Itu menjadi dasar ilmiah kami mengeluarkan status waspada karhutla," ujarnya.

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat melakukan proses pemadaman dan pendinginan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/nym.

Ia menjelaskan BMKG memanfaatkan sistem penilaian bahaya kebakaran (SPARTAN) untuk memberikan peringatan dini mengenai tingkat bahaya kebakaran hutan dan lahan serta potensi penyebaran api apabila terjadi kebakaran. Berdasarkan hasil analisis SPARTAN, lanjut dia, sebagian besar wilayah Papua Barat Daya dalam tiga hari ke depan memiliki tingkat kemudahan terbakar yang tinggi akibat kondisi permukaan yang sangat kering.

"Namun, kemudahan api menyala bukan berarti kami memprediksi akan terjadi kebakaran. Itu hanya menunjukkan bahwa jika ada sumber api, potensi kebakaran menjadi lebih besar," katanya.

BMKG mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, tidak meninggalkan api unggun dalam keadaan menyala, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api kepada aparat setempat.

Selain itu, masyarakat juga diminta terus mengikuti informasi cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG sebagai langkah mitigasi menghadapi potensi karhutla.

BMKG, kata dia, akan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi cuaca harian, parameter atmosfer, titik panas berdasarkan pengamatan satelit, serta perubahan meteorologi dan klimatologi yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran. Informasi hasil pemantauan akan disampaikan secara berkala kepada pemerintah daerah, BPBD, TNI/Polri, Manggala Agni, dan masyarakat.

(Lukman Diah Sari)