BMKG: 98 Zona Iklim Basah Terdampak Kekeringan akibat El Nino Kuat

Ilustrasi: Petani menanam padi di area genangan Waduk Saradan, Madiun, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Mada/YU

BMKG: 98 Zona Iklim Basah Terdampak Kekeringan akibat El Nino Kuat

Siti Yona Hukmana • 22 September 2026 11:55

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 98 Zona Musim (ZOM) yang biasanya memiliki karakteristik hujan sepanjang tahun, kini berbalik mengalami musim kemarau. Hal ini terjadi akibat tekanan fenomena El Nino sangat kuat sepanjang 2026.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3,4 Samudra Pasifik mencapai rata-rata +2,63. Hal itu menekan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.

"Secara klimatologis Indonesia memiliki 110 ZOM  tipe basah sepanjang tahun. Namun pada 2026 ini sebanyak 98 ZOM diantaranya ikut terdampak kekeringan dan mengalami musim kemarau," kata Ardhasena dalam konferensi pers di Jakarta, dilansir Antara, Selasa, 22 September 2026. 

Ardhasena memaparkan saat ini sebanyak 556 ZOM atau 61,91 persen dari total luas daratan Indonesia masih berada dalam cengkeraman musim kemarau panjang.

Dampak fenomena El Nino juga memicu Hari Tanpa Hujan (HTH) ekstrem di 25 provinsi, dengan durasi terlama tercatat di Kabupaten Bantul (Daerah Istimewa Yogyakarta/DIY) yang mencapai 131 hari atau lebih dari empat bulan tanpa hujan, kemudian Kabupaten Bima di Nusa Tenggara Barat (NTB) selama 120 hari.

Ilustrasi kekeringan. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/agr

Sementara itu, untuk indikator Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia saat ini berada pada angka positif 0,376 (kategori netral) dan berpeluang menuju fase positif hingga akhir tahun 2026.

BMKG memproyeksikan fenomena El Nino bakal bertahan setidaknya hingga akhir kuartal pertama tahun 2027, namun ancaman kekeringan di tanah air diprediksi berangsur berakhir seiring masuknya musim hujan secara bertahap.

(Siti Yona Hukmana)