Hampir Seluruh Wilayah Sukabumi Rawan Kekeringan

Ilustrasi. freepik

Hampir Seluruh Wilayah Sukabumi Rawan Kekeringan

Media Indonesia • 11 May 2026 16:27

Sukabumi: Hampir seluruh wilayah di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, berpotensi mengalami kekeringan. Sektor pertanian menjadi salah satu yang diwaspadai bakal terdampak saat musim kemarau.

Bupati Sukabumi, Asep Japar, menuturkan berdasarkan hasil pemetaan, terdapat beberapa kategori wilayah yang berpotensi terdampak kemarau. Dari 47 kecamatan di Kabupaten Sukabumi, sebanyak 27 kecamatan dikategorikan agak rawan, 16 kecamatan rawan, dan dua kecamatan sangat rawan.

“Hanya ada dua kecamatan yang masuk dalam kategori aman,” kata Asep Japar, dikutip Media Indonesia, Senin, 11 Mei 2026.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi memasuki musim kemarau lebih awal, yakni pada April hingga Mei. BMKG juga memprediksi puncak kemarau berpotensi terjadi pada Agustus.

Dampak kemarau yang diwaspadai Pemerintah Kabupaten Sukabumi antara lain krisis air bersih serta gangguan pasokan terhadap lahan pertanian. Belum lama ini, Bupati Sukabumi menghadiri rapat koordinasi nasional antisipasi musim kemarau dalam upaya swasembada pangan di Kementerian Pertanian.
 


Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, menyebutkan di tengah ancaman kekeringan akibat dampak kemarau, dirinya optimistis produksi gabah dapat tercapai sesuai target. Salah satu faktor pendukung adalah penerapan kinerja luas tambah tanam (LTT) padi tahun ini yang meningkat dibanding tahun lalu.

Pada Januari 2026, realisasi LTT padi mencapai 18.352,6 hektare atau 111,2 persen dari target yang ditetapkan Kementerian Pertanian. Realisasi produksi padi mencapai 1.077.867 ton atau 119,82 persen. Luas panen padi tercatat 185.661 hektare atau 114,36 persen dari target swasembada.

“Masih terdapat potensi luas lahan panen padi sekitar 5.485 hektare yang belum terlaporkan dengan estimasi produksi sebanyak 27.425 ton,” kata Aep.


Ilustrasi-Area persawahan di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, yang kekeringan akibat musim kemarau. (DOK.PEMKABBEKASI)

Aep mengatakan, peningkatan LTT serta produksi padi didukung oleh sarana produksi, alat mesin pertanian (alsintan), serta benih bantuan dari pemerintah pusat. Selain itu, produksi gabah juga telah diserap Perum Bulog sebagai upaya menjaga stabilitas harga dan mendukung pendapatan petani.

“Kami berkomitmen akan mendukung penuh swasembada pangan berkelanjutan pada 2026. Berdasarkan RPJMD Kabupaten Sukabumi dan Renstra Provinsi Jawa Barat, sasaran produksi padi ditetapkan sekitar 876 ribu ton dan jagung sekitar 118 ribu ton,” kata Aep.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)