Kapal tanker yang berada di Selat Hormuz. Foto: Anadolu
Trump Klaim Iran Izinkan 10 Tanker Minyak Melintas sebagai Hadiah bagi AS
Fajar Nugraha • 27 March 2026 10:18
Washington: Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Kamis, 26 Maret, mengeklaim bahwa Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz pada pekan ini.
Trump menyebut langkah tersebut sebagai hadiah dari Teheran di tengah upaya mediasi untuk mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung selama hampir empat minggu.
"Mereka mengatakan ingin menunjukkan iktikad baik dan mengizinkan delapan kapal melintas. Mereka kemudian menambah dua kapal lagi sebagai bentuk permohonan maaf atas suatu hal, sehingga total ada 10 kapal," ujar Trump dalam rapat kabinet di Gedung Putih, seperti dikutip CNBC, Jumat, 27 Maret 2026.
Kapal-kapal tersebut dilaporkan berbendera Pakistan.
Meskipun Teheran membantah adanya komunikasi langsung, Pemerintah AS menegaskan bahwa dialog substansial terus berjalan melalui pihak ketiga. Utusan Khusus AS, Steve Witkoff, mengonfirmasi bahwa Washington telah menyerahkan kerangka kerja perdamaian yang terdiri dari 15 poin.
"Kami menerima banyak permintaan dari kawasan dan pihak lain yang ingin berperan dalam mengakhiri konflik ini secara damai. Kerangka kerja tersebut telah disampaikan melalui Pakistan yang bertindak sebagai mediator," kata Witkoff.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran telah menolak tawaran gencatan senjata dari AS dan mengajukan daftar syarat mereka sendiri. Poin utamanya, Teheran menuntut kendali kedaulatan atas Selat Hormuz, sementara Trump sempat melontarkan gagasan agar selat tersebut dikelola bersama antara AS dan pemimpin Iran sebagai bagian dari resolusi perang.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan jajaran kabinet mengatakan bahwa operasi militer AS telah melemahkan kemampuan pertahanan Iran secara signifikan. Trump mengeklaim misi militernya berjalan lebih cepat dari jadwal semula yang diperkirakan memakan waktu empat hingga enam minggu.
Namun, Trump mengakui bahwa ancaman terhadap navigasi di Selat Hormuz belum sepenuhnya teratasi. Mengingat jalur tersebut mengalirkan sekitar 20 juta barel minyak atau seperempat pasokan minyak dunia setiap harinya, risiko sekecil apa pun dianggap tidak dapat diterima.
"Masalahnya adalah, meskipun kita berhasil mengamankan 99 persen wilayah tersebut, sisa 1 persen tetap tidak bisa diterima. Satu misil saja yang menghantam lambung kapal bernilai miliaran dolar akan menjadi masalah besar," tegas Trump.
Meski demikian, ia optimistis situasi keamanan di selat tersebut akan membaik dalam waktu dekat.
(Kelvin Yurcel)