Ilustrasi Hujan Meteor Lyrids. (via University Hertfordshire)
Hujan Meteor Lyrids 2026: Catat Jadwal Puncak dan Tips Melihatnya
Putri Purnama Sari • 21 April 2026 17:42
Jakarta: Fenomena Hujan Meteor Lyrids kembali menghiasi langit pada April 2026. Peristiwa langit ini menjadi salah satu yang paling dinanti oleh para pecinta astronomi maupun masyarakat umum karena dapat disaksikan tanpa alat khusus.
Hujan meteor ini terjadi ketika Bumi melintasi jalur debu yang ditinggalkan oleh Komet Thatcher (C/1861 G1). Saat memasuki atmosfer Bumi, partikel-partikel kecil tersebut terbakar dan menghasilkan cahaya terang yang tampak seperti garis-garis meteor melintas di langit malam.
Asal-usul Nama Hujan Meteor Lyrids
Nama “Lyrids” berasal dari Lyra, yaitu rasi bintang yang menjadi titik radian atau pusat tampak munculnya meteor. Meski demikian, meteor sebenarnya dapat terlihat dari berbagai arah di langit, tidak hanya di sekitar rasi tersebut.
Jadwal Puncak Hujan Meteor Lyrids 2026
Puncak Hujan Meteor Lyrids diperkirakan terjadi pada Rabu, 22 April 2026. Pada waktu puncaknya, pengamat berpeluang melihat sejumlah meteor per jam, tergantung kondisi langit dan lokasi pengamatan.
Dilansir dari laman astronomi In the Sky dan Space, aktivitas meteor biasanya meningkat sejak malam hari hingga menjelang fajar.
Cara Melihat Hujan Meteor Lyrids dengan Jelas
Agar dapat menikmati fenomena ini secara maksimal, ada beberapa tips yang bisa dilakukan:
1. Cari lokasi minim polusi cahayaPilih tempat gelap seperti pegunungan, pantai, atau pedesaan agar langit terlihat lebih jelas.
2. Hindari cahaya terang
Jangan menyalakan ponsel atau lampu terang agar mata dapat beradaptasi dengan gelap selama 20–30 menit.
3. Amati langit secara luas
Tidak perlu fokus pada satu titik tertentu, karena meteor bisa muncul di berbagai arah.
4. Perhatikan kondisi cuaca
Pastikan langit cerah dan tidak tertutup awan untuk pengalaman terbaik.
Fenomena Langit yang Bersejarah
Hujan Meteor Lyrids dikenal sebagai salah satu hujan meteor tertua yang pernah dicatat dalam sejarah manusia. Catatan pengamatan fenomena ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu, menjadikannya peristiwa langit yang memiliki nilai historis sekaligus ilmiah.