Spesifikasi Anduril Dive-LD, Kapal Selam Nirawak AS yang Direbut Iran

'Kapal Selam' AS milik AS yang direbut Iran. (Telegram IRGC)

Spesifikasi Anduril Dive-LD, Kapal Selam Nirawak AS yang Direbut Iran

Riza Aslam Khaeron • 9 September 2026 19:51

Jakarta: Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan pada Selasa, 8 September 2026 bahwa pasukan mereka telah merebut sebuah kapal selam milik Amerika Serikat (AS). Penangkapan ini terjadi di tengah konflik bersenjata yang telah berlangsung selama lebih dari enam bulan sejak pecah pada akhir Februari lalu.
 
Namun, kapal yang disita Iran tersebut bukanlah kapal selam militer konvensional, melainkan kapal selam nirawak (autonomous undersea vehicle), yang diklaim Iran sebagai kapal selam paling modern, cerdas, dan tanpa awak milik AS.

"Kami telah menjebak salah satu kapal selam paling modern, cerdas, dan tanpa awak milik tentara teroris Amerika di pintu masuk Selat Hormuz. Kapal selam ini dilengkapi dengan teknologi paling mutakhir," ungkap Angkatan Laut IRGC dalam sebuah pernyataan resmi yang disiarkan oleh media pemerintah Iran.

Setelah pengumuman pihak Iran, juru bicara Pentagon menegaskan drone tersebut mengalami gangguan fungsi sejak lebih dari sehari sebelumnya serta merupakan model lama yang rusak, yang tidak mengumpulkan data sensitif maupun membawa peralatan sonar atau radar rahasia.

“Dive-LD adalah sistem otonom yang dapat dikorbankan, artinya sejak awal memang dirancang untuk beroperasi di lingkungan berbahaya yang mana risiko kehilangan drone merupakan hal yang sudah diperkirakan,” ujar seorang juru bicara Anduril, perusahaan drone tersebut, seperti dikutip dari Al Jazeera, Rabu, 9 September 2026.

Lantas, seperti apa sebenarnya spesifikasi kapal selam nirawak milik AS yang disebut Iran paling modern dan cerdas tersebut? Berikut ulasannya.

Spesifikasi Anduril Dive-LD


Foto: Dok. Anduril Industries

Mengutip laman resmi Anduril, Dive-LD dikembangkan sebagai kendaraan bawah laut modular yang dapat dipasangi berbagai sensor dan muatan sesuai kebutuhan misi. Berdasarkan spesifikasi resmi Anduril, berikut kemampuan utama Dive-LD:
 
Spesifikasi Anduril Dive-LD
Jenis Large Diameter Autonomous Undersea Vehicle (LD-AUV)
Panjang Sekitar 5,8 meter
Diameter Sekitar 1,2 meter
Bobot Sekitar 3 ton
Daya tahan operasi Hingga sekitar 10 hari
Kedalaman maksimum Sekitar 6.000 meter
Kapasitas muatan Lebih dari 1 meter kubik
Propulsi Propulsi listrik penggerak langsung (direct-drive electric propulsion)
Awak Tanpa awak (nirawak)
Sistem Otonom dan modular
Perkiraan harga Sekitar US$2,5 juta per unit

Dengan panjang sekitar 5,8 meter, dimensinya memang cukup besar untuk ukuran sebuah drone bawah laut. Meski demikian, ukurannya masih jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kapal selam militer berawak.
 

Apa Fungsi Anduril Dive-LD?

Mengutip Newsweek, Dive-LD diperkirakan telah aktif digunakan dalam layanan Angkatan Laut AS selama satu setengah tahun terakhir. Drone ini terutama difungsikan untuk misi intelijen serta survei perairan regional, dengan dilengkapi peralatan seperti sonar, magnetometer, dan kamera, drone ini sangat berguna dalam mendukung misi survei hidrografi.

“(Drone) tersebut saat itu sedang memetakan perairan regional untuk mendukung operasi yang sedang berlangsung. Drone yang rusak itu merupakan model lama yang tidak mengumpulkan data sensitif maupun membawa peralatan sonar atau radar rahasia. Operasi AS di perairan kawasan tetap berlanjut,” ujar seorang pejabat AS, seperti dikutip dari TWZ.

Dalam konteks pertempuran AS–Iran di Selat Hormuz, drone tersebut dilaporkan digunakan untuk membantu operasi pembersihan ranjau laut. Kurang dari dua minggu lalu kawasan selat tersebut sempat diklaim AS bebas dari ranjau.

Platform bawah laut nirawak ini menawarkan cara untuk mendeteksi serta mencatat lokasi ranjau laut menggunakan sonar, kamera, dan sensor lainnya, sekaligus menjaga pasukan sekutu tetap berada dalam jarak aman dari potensi bahaya.

"Penyelam Angkatan Laut AS bekerja dalam tim-tim kecil menggunakan perahu karet bertulang (inflatable-hulled craft). Mereka melacak lokasi ranjau Iran dengan bantuan perahu robotik dan kapal selam kecil, seperti Common Uncrewed Surface Vessel milik Angkatan Laut AS, yang mengoperasikan susunan sonar tarik (towed sonar arrays)," demikian laporan dari Financial Times terkait operasi pembersihan ranjau oleh AS di Selat Hormuz.

Selain itu, drone ini dilaporkan digunakan untuk membantu misi AS dalam memfasilitasi pergerakan lalu lintas kapal yang keluar-masuk Teluk Persia. Upaya ini dilakukan guna menerobos blokade Iran di Selat Hormuz melalui rute yang menyusuri garis pantai Oman, dengan memanfaatkan kemampuan drone dalam memetakan dasar laut.

Sebagai informasi tambahan, ini bukan pertama kalinya peralatan nirawak AS jatuh ke tangan Iran. Pada 2011, Iran berhasil merebut sebuah pesawat pengintai siluman nirawak AS, RQ-170 Sentinel, dengan keadaan yang sebagian besar utuh. Peristiwa tersebut hingga kini masih memicu perdebatan mengenai sejauh mana kontribusi teknologi drone tersebut terhadap pengembangan drone Shahed milik Iran.
 

(Riza Aslam Khaeron)