Kabut Asap dan Kekeringan, Warga Kubu Raya Rela Antre Demi Air Bersih

Pipin mengendarai kendaraannya menuju Danau Hoce, Desa Kuala Dua, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Metrotvnews.com/Muhamad Marup

Kabut Asap dan Kekeringan, Warga Kubu Raya Rela Antre Demi Air Bersih

Muhamad Marup • 9 September 2026 22:46

Kubu Raya: Pagi belum sepenuhnya terang ketika Pipin mengendarai kendaraannya menuju Danau Hoce, Desa Kuala Dua, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Dua galon dibawanya untuk diisi air bersih.

Hoodie abu-abu menutupi kepalanya saat ibu rumah tangga tersebut melaju di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Asap membatasi jarak pandang sekaligus membuat udara terasa berat untuk dihirup.

Namun, kondisi itu tidak menyurutkan langkah Pipin. Air menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi setelah persediaan di rumahnya habis.

Setibanya di Danau Hoce, Pipin melihat sejumlah warga sudah lebih dahulu berkumpul. Mereka datang dengan membawa berbagai wadah untuk menampung air yang dibagikan Satuan Brimob Kepolisian Daerah Kalimantan Barat (Polda Kalbar).

Pipin pun ikut mengantre. Dua galon yang dibawanya diletakkan berjajar menunggu giliran. Air tersebut nantinya digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga, mulai dari kebutuhan minum hingga mencuci sayuran.

"Kondisi air di rumah habis om. Habis sekali," ujar Pipin kepada Metrotvnews.com, Kamis, 9 September 2026.
 


Distribusi air bersih di lokasi tersebut sudah dilakukan sebanyak dua kali. Setiap kali pembagian berlangsung, warga datang dan menunggu giliran untuk mendapatkan pasokan air.

Bagi Pipin, informasi mengenai pembagian air menjadi kesempatan untuk kembali mengisi persediaan di rumah. Setelah mengetahui adanya distribusi air, ia langsung bergegas menuju Danau Hoce.

"Pas kebetulan hari ini habis, lihat ada pengumuman ini, saya bergegas lagi ke sini," kata Pipin, antusias.

Persoalan serupa dirasakan Ferry Irawan. Ia mengatakan kondisi air yang tersedia di lingkungannya juga tidak ideal untuk memenuhi kebutuhan warga.

"Air asin kalau sungai asin terus," ucapnya.


Kekeringan Hampir Dua Bulan

Kondisi sulit mendapatkan air bersih turut menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat. Di tengah situasi karhutla dan kabut asap, warga juga menghadapi persoalan kekeringan yang berlangsung cukup lama.

Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalbar Daniel mengatakan masyarakat membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

"Kami mendorong bagi seluruh pihak untuk membantu penanganan kekeringan di Kalbar. Masyarakat saat ini sedang butuh sekali air," jelasnya.


Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Rabu, 2 September 2026. (ANTARA/Rendra Oxtora)


Kekeringan disebut telah berlangsung hampir dua bulan di hampir seluruh wilayah Kalimantan Barat. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap air bersih semakin mendesak bagi masyarakat.

Di tengah situasi tersebut, Satuan Brimob Polda Kalbar mengoperasikan teknologi water treatment untuk mengolah sumber air menjadi air yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Setiap kali pendistribusian, perangkat tersebut mampu menyediakan hingga 11 ribu liter air. Teknologi ini menjadi salah satu upaya untuk membantu memenuhi kebutuhan warga yang kesulitan memperoleh air bersih.

Katim 1 Water Treatment Sat Brimobda Kalbar Ipda Robert mengatakan saat ini terdapat empat unit water treatmentyang dimiliki Brimobda Kalbar. Keempat unit tersebut ditempatkan di Pontianak, Singkawang, Sintang, dan Ketapang.

"Untuk mobil water treatment sendiri di Kalimantan Barat sudah ada sejak 2022," tuturnya di sela pendistribusian air.


Air Danau Diolah Jadi Air Konsumsi

Pengolahan air melalui perangkat water treatment dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek keamanan dan kesehatan. Dalam prosesnya, Brimob berkoordinasi dengan puskesmas setempat untuk memastikan kualitas air yang dibagikan kepada masyarakat.

Menurut Robert, air hasil pengolahan rata-rata memiliki tingkat keasaman atau pH 7,5 dan dapat digunakan untuk kebutuhan konsumsi.

"Ini bisa digunakan untuk kebutuhan harian, termasuk langsung diminum pun bisa," terangnya.

Teknologi tersebut memiliki kemampuan mengolah sumber air yang tersedia di lingkungan masyarakat. Air danau maupun air payau dapat menjadi sumber yang diproses melalui perangkat tersebut.

Kapasitas produksi setiap unit berbeda-beda, bergantung pada jenis sumber air yang digunakan serta tujuan pemanfaatannya. Pengolahan untuk kebutuhan air bersih memiliki kapasitas lebih besar dibandingkan pengolahan untuk air minum.

"Air bersih itu 6000-7000 liter, air minum 400-2500 liter per jam," katanya.

(Whisnu M)