Wapres ke-6 RI Try Sutrisno. Foto: MI/Susanto
Try Sutrisno: Prajurit yang Menjembatani Militer dan Negara
4 March 2026 20:07
Oleh: Safriady*
Kepergian Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno menandai berakhirnya perjalanan salah satu tokoh militer yang memiliki posisi penting dalam sejarah politik dan pertahanan Indonesia. Ia bukan sekadar seorang perwira tinggi TNI yang mencapai puncak karier militer, tetapi juga figur yang merepresentasikan generasi prajurit yang membentuk hubungan erat antara militer dan negara pada masa Orde Baru.
Konteks tradisi militer Indonesia, ketokohan tidak hanya diukur dari pangkat atau jabatan, tetapi dari proses panjang yang ditempuh dalam pengabdian. Try Sutrisno adalah contoh dari perwira yang meniti karier dari level bawah hingga mencapai puncak struktur militer dan pemerintahan. Ia lahir di Surabaya pada 15 November 1935 dan memulai karier militernya melalui pendidikan di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad). Latar belakang pendidikan teknis ini menunjukkan bahwa karier militernya tidak dibangun dari jalur elite akademi perwira yang lebih populer pada masa itu, melainkan melalui proses profesional yang bertahap.
Kariernya berkembang melalui berbagai jabatan komando teritorial, yang pada masa itu merupakan tulang punggung sistem pertahanan Indonesia. Pengalaman tersebut membentuk pemahamannya tentang realitas sosial dan keamanan di berbagai wilayah Indonesia. Dalam sistem pertahanan yang menempatkan konsep pertahanan rakyat semesta sebagai fondasi strategis, pengalaman di lapangan menjadi faktor penting dalam membangun legitimasi kepemimpinan seorang perwira.
Try Sutrisno semakin terlihat ketika ia dipercaya memegang jabatan strategis dalam struktur militer. Ia pernah menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam), Kepala Staf Angkatan Darat, hingga akhirnya menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada akhir 1980-an. Jabatan tersebut menempatkannya pada posisi yang sangat menentukan dalam pengelolaan stabilitas nasional, terutama dalam konteks geopolitik regional yang masih dipengaruhi oleh dinamika Perang Dingin.
Sebagai Panglima ABRI, Try Sutrisno berada dalam sistem politik yang dikenal dengan konsep “dwifungsi ABRI”. Dalam kerangka tersebut, militer tidak hanya menjalankan fungsi pertahanan dan keamanan, tetapi juga memiliki peran sosial-politik dalam kehidupan negara. Konsep ini menjadikan militer sebagai salah satu pilar utama dalam stabilitas pemerintahan pada masa Orde Baru.
Ketokohan Try Sutrisno kemudian mencapai dimensi politik nasional ketika ia terpilih sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia pada 1993, mendampingi Presiden Soeharto. Masa jabatannya berlangsung hingga 1998, sebuah periode yang berada di ujung era Orde Baru dan menjelang perubahan besar dalam sistem politik Indonesia.
Sebagai Wakil Presiden, perannya tidak selalu tampil dominan di ruang publik, namun ia tetap menjadi bagian penting dalam struktur pemerintahan yang mengelola stabilitas negara. Dalam banyak catatan politik Indonesia, posisi Wakil Presiden pada masa itu lebih banyak berfungsi sebagai figur penyeimbang dalam sistem kekuasaan yang terpusat pada presiden. Namun, keberadaan tokoh militer seperti Try Sutrisno dalam posisi tersebut memperlihatkan bagaimana hubungan sipil-militer masih menjadi faktor penting dalam pengelolaan negara.
Sikap Try Sutrisno juga mencerminkan karakter generasi perwira yang terbentuk pada masa awal pembangunan nasional. Generasi ini tumbuh dalam kultur disiplin militer yang kuat, dengan orientasi utama pada stabilitas negara dan integrasi nasional. Dalam konteks tersebut, kepemimpinan militer tidak hanya dilihat sebagai instrumen pertahanan, tetapi juga sebagai bagian dari manajemen negara.
Dalam perspektif sejarah politik Indonesia, sosok Try Sutrisno merepresentasikan fase ketika militer memainkan peran yang sangat signifikan dalam struktur kekuasaan. Setelah reformasi 1998, peran tersebut mengalami transformasi besar melalui pemisahan TNI dan Polri serta penghapusan dwifungsi militer dalam politik. Namun, memahami tokoh seperti Try Sutrisno tetap penting untuk membaca perjalanan panjang hubungan antara militer, negara, dan masyarakat di Indonesia.
Ketokohan seorang pemimpin sering kali tidak hanya diukur dari kebijakan yang dihasilkan, tetapi juga dari simbol pengabdian yang ditinggalkannya. Try Sutrisno adalah figur yang menempuh hampir seluruh fase pengabdian tersebut, mulai prajurit, komandan, panglima, hingga wakil presiden. Jalur karier ini menunjukkan bentuk mobilitas dalam institusi militer yang menempatkan pengalaman lapangan sebagai dasar legitimasi kepemimpinan.
Kepergiannya menjadi momen refleksi bagi bangsa Indonesia untuk melihat kembali perjalanan sejarah pertahanan dan politik nasional. Di tengah perubahan besar dalam sistem demokrasi dan hubungan sipil-militer saat ini, warisan generasi perwira seperti Try Sutrisno tetap menjadi bagian dari mozaik sejarah negara.
Sebagai prajurit, ia dikenang karena disiplin dan loyalitasnya terhadap institusi. Sebagai negarawan, ia tercatat sebagai salah satu figur yang pernah berada di pusat kekuasaan negara dalam periode penting sejarah Indonesia. Ketokohannya menjadi pengingat bahwa perjalanan republik ini dibentuk oleh berbagai generasi pemimpin dengan konteks zamannya masing-masing.
Dalam catatan sejarah, nama Try Sutrisno akan selalu berada pada satu bab penting yaitu bab tentang bagaimana seorang prajurit dapat menjelma menjadi tokoh negara, dan bagaimana pengabdian militer dapat bertransformasi menjadi peran politik dalam perjalanan panjang Republik Indonesia.
*Penulis adalah pemerhati isu strategis