Tumpukan bantuan air mineral siap diantar dari posko penanganan bencana di Kantor Kecamatan Palue ke desa-desa terdampak bencana. Foto: Metrotvnews.com/Anggi Tondi Martaon.
Talas Rebus, Ikan Kering, dan Kopi 'Jamin' Kebutuhan Air Bersih di Palue NTT
Anggi Tondi Martaon • 26 August 2026 13:35
Palue: Mulut relawan sibuk mengunyah talas rebus dan ikan kering saat matahari mulai naik. Sesekali, mereka menyeruput kopi hangat. Istilah kerennya, relawan tengah carbo loading sebelum mendistribusikan air bersih di Kecamatan Palue, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Asupan tersebut seolah menjadi 'amunisi' penting sebelum mereka 'turun perang' untuk berjibaku mendistribusikan air bersih dari Kantor Kecamatan Palue kepada warga terdampak gempa NTT di tenda pengungsian.
Talas rebus hingga kopi tampak sederhana, namun cukup mengisi perut relawan. Seketika ikan kering berubah jadi energi dan membuat mereka bangkit, mengangkat kardus berisi air bersih untuk warga.
Kebutuhan air bersih menjadi sangat penting di tengah kondisi pascabencana. Sebab, tak ada sumber air selain sulingan uap gunung berapi, itu pun tak cukup bagi warga. Apalagi, bak penampung air hujan banyak retak karena gempa.
Usai kardus dan boks berisi air bersih diangkut ke truk, mesin dinyalakan dan membuat kendaraan yang biasa mengangkut pasir itu, menjelma jadi armada penghapus haus warga.
Manfaatkan segala roda empat
Camat Palue Rudolfus Riba menceritakan pihaknya sengaja mengubah kendaraan roda empat apa pun, untuk mengantar bantuan. Rudolfus mengaku mendatangkan khusus dump truck dari Maumere yang diberikan Satgas Kabupaten Sikka, untuk mendistribusikan logistik.
Bahkan, Rudolf bernegosiasi dengan pemilik mobil pick up. Agar, mereka bersedia mengangkut barang logistik ke posko bencana di desa.
"Kalau kami harus utang dulu, tidak apa-apa mereka mau antar ini barang bantuan," kata Rudolfus, Rabu, 26 Agustus 2026.
Hasilnya, distribusi bantuan dipercepat. Semua rintangan dibabat, dibantu relawan berbekal talas rebus, ikan kering, dan kopi.
Stok bahan bakar aman
Persoalan tersebut sudah disampaikan Rudolfs kepada Satgas Penanganan Bencana Kabupaten Sikka. Keluhan tersebut sudah didengarkan. Sementara waktu, Ketua Satgas, Margaretha Movaldes Da Maga Bapa (Mefi), menyarankan agar pihak Kecamatan Palue bekerja sama dengan para pemilik kendaraan pick up.
"Kamu minta saja mobil-mobil itu mengantarkan bantuan. Nanti, minyaknya (bahan bakar minyak/BBM) mereka kamu isi dengan minyak bantuan itu," kata Rudolf menirukan pernyataan Mefi.
Instruksi tersebut dilakukan. Para pemilik mobil diajak bekerja sama mengantar bantuan ke posko bencana yang berada di delapan desa yang menghuni Pulau Palue. Sehingga, kebutuhan para pengungsi tetap terpenuhi selama tanggap darurat.
Tak hanya mengandalkan akses darat. Pihak kecamatan meminta para nelayan mengirim bantuan dengan kapal motor mereka. Pengiriman bantuan ke sejumlah desa lebih cepat melalui laut.
Skema yang diterapkan sama, yaitu kerja sama. Para nelayan mengantar bantuan menggunakan kapal motor, sedangkan pihak kecamatan mengisi penuh tangki minyak mereka.

Drum berisi stok BBM untuk membantu pendistribusian bantuan logistik ke desa-desa di Pulau Palue. Foto: Metrotvnews.com/Anggi Tondi Martaon.
Rudolf menyampaikan, pihak kecamatan mendapat bantuan 22 drum BBM. Masing-masing drum berkapasitas 200 liter. Bantuan BBM yang diberikan berupa 10 drum Solar, 10 drum Pertalite, dan dua drum minyak tanah untuk korban. Dengan jumlah tersebut, urusan bahan bakar aman.
Stok bahan bakar tersebut sudah ada sejak dua hari pascagempa Flores. Ribuan liter bahan bakar tersebut diserahkan perusahaan energi pelat merah melalui Satgas Penanganan Bencana Kabupaten Sikka.
Bantuan bahan bakar tersebut langsung dikirim ke Pulau Palue. Pengiriman dilakukan melalui kapal feri. Penyeberangan ke pulau itu sekitar 5-6 jam.
Keberadaan ribuan liter bahan bakar tersebut setidaknya memastikan kendaraan pengantar logistik tetap bergerak memenuhi kebutuhan para korban.