Siap Ambil Alih Selat Hormuz, Trump: Tidak Akan Gratis

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Anadolu

Siap Ambil Alih Selat Hormuz, Trump: Tidak Akan Gratis

Muhammad Reyhansyah • 13 July 2026 23:52

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, negaranya kemungkinan akan mengambil alih pengelolaan Selat Hormuz dan meminta negara-negara lain memberikan kompensasi atas upaya Washington mengamankan jalur pelayaran strategis tersebut.

Dalam wawancara melalui sambungan telepon dengan Fox News pada Senin, 13 Juli 2026, Trump mengatakan, AS akan menjadi penjaga jalur pelayaran strategis tersebut.

"Kami akan menjaga selat itu, dan kemungkinan besar kami akan mengelolanya. Kami akan menjadi penjaga selat itu. Mungkin kami akan menyebut diri kami malaikat pelindung selat itu. Dan kami harus mendapatkan bayaran untuk itu," kata Trump, dikutip dari Channel News Asia.

Trump menilai AS tidak seharusnya menanggung sendiri biaya pengamanan Selat Hormuz, mengingat jalur tersebut juga menjadi kepentingan banyak negara.

"Kami akan menjaganya. Kami akan dibayar untuk menjaganya, dalam jumlah besar. Negara-negara lain sangat kaya. Mereka berada di pihak kami, dan kami tidak bisa diharapkan melakukan itu secara cuma-cuma," ujar Trump.

Pernyataan Trump disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz setelah Iran menutup jalur pelayaran tersebut pada akhir pekan lalu. 

Teheran menyatakan penutupan dilakukan menyusul pelayaran yang disebut tidak mendapat izin, dan hingga kini akses masih ditangguhkan sampai situasi keamanan dinilai kembali stabil.

Trump juga menuding Iran melanggar kesepakatan yang sebelumnya telah dicapai dengan AS.

"Kami sudah punya kesepakatan. Semuanya sudah selesai, tetapi mereka melanggarnya. Mereka selalu melanggarnya. Kami sudah membuat 10 kesepakatan dengan mereka, jadi kami akan menghantam mereka dengan sangat keras," kata Trump.

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan satu-satunya cara memulihkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz adalah dengan mengakhiri intervensi militer AS di kawasan. Iran juga memperingatkan bahwa keterlibatan Washington yang berlanjut dapat memicu gangguan yang lebih besar terhadap sektor minyak dan gas dunia.

Dalam beberapa hari terakhir, AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan rudal dan drone. Teheran mengklaim telah menyerang fasilitas militer AS di kawasan Teluk serta tetap menutup Selat Hormuz, yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.

(Fajar Nugraha)