Ilustrasi Pexels
Kesehatan Jemaah Haji Jadi Tantangan, BRIN Dorong Pemeriksaan Lebih Dini
Muhamad Marup • 17 May 2026 17:14
Jakarta: Kondisi kondisi kesehatan jemaah haji masih menjadi tantangan besar dalam pelaksanaan ibadah haji. Peneliti Pusat Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rustika, mengatakan, pemeriksaan kesehatan tidak seharusnya dilakukan hanya menjelang keberangkatan.
"Kami mendorong optimalisasi masa tunggu melalui pembinaan kesehatan terstruktur sejak dua tahun sebelum keberangkatan. Dengan demikian, kondisi kesehatan jemaah dapat dipantau dan dibina sejak jauh hari," ujar Rustika, dalam keterangan resminya, Minggu, 17 Mei 2026.
Ia juga mendorong integrasi data kesehatan, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan edukasi kesehatan bagi calon jemaah. Menurutnya, paradigma istitaah kesehatan perlu bergeser dari pendekatan administratif menuju pendekatan fungsional.
Jemaah komorbid mendominasi
Rustika mengungkapkan sekitar 80% jemaah haji memiliki penyakit komorbid, sedangkan 32% merupakan kelompok lanjut usia berusia di atas 60 tahun. Selain itu, hanya sekitar 30,6% jemaah yang memiliki tingkat kebugaran baik."Kita mengetahui bahwa ibadah haji sangat menitikberatkan pada kondisi fisik. Dibutuhkan ketahanan kardiorespirasi, kekuatan otot, dan kebugaran yang prima karena aktivitas ibadah di sana sangat mengandalkan fisik," katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa hingga hari ke-21 pelaksanaan haji tahun ini, sekitar 25 jemaah dilaporkan meninggal dunia dan ratusan lainnya menjalani perawatan di rumah sakit. Mayoritas kematian disebabkan penyakit jantung dan gangguan paru-paru yang diperparah oleh cuaca panas serta aktivitas fisik berlebihan.
"Berdasarkan hasil riset BRIN selama tiga tahun, kelompok lansia memiliki risiko kematian hingga tujuh kali lebih tinggi dibandingkan jemaah nonlansia yang sehat dan tanpa komorbid," ucapnya.
Antrean panjang picu risiko kesehatan
Ilustrasi ibadah haji/Metro TV
Sementara itu, Peneliti Pusat Riset Agama dan Kepercayaan, BRIN, Abdul Jamil Wahab, menilai, panjangnya antrean keberangkatan haji dinilai berdampak langsung terhadap meningkatnya risiko kesehatan dan mortalitas jemaah lanjut usia. Kondisi ini menjadi tantangan serius dalam penyelenggaraan ibadah haji Indonesia.Ia menegaskan bahwa panjangnya masa tunggu berdampak langsung terhadap meningkatnya usia jemaah saat keberangkatan sehingga memperbesar kerentanan biologis maupun sosial. Berdasarkan data penelitiannya tahun 2023, sekitar 43,79% jemaah haji Indonesia masuk kategori lansia berusia di atas 60 tahun.
"Ketika usia semakin tua, maka kerentanan biologis dan sosial juga meningkat. Kerentanan ini berdampak pada meningkatnya risiko kesehatan dan keselamatan selama menjalankan ibadah haji," tuturnya.