Jelang Puncak Kemarau, BPBD Sumsel Ajukan Tambahan 4 Helikopter Water Bombing

Helikopter water bombing milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk penanganan karhulta di Sumsel. ANTARA/HO-BPBD Sumsel

Jelang Puncak Kemarau, BPBD Sumsel Ajukan Tambahan 4 Helikopter Water Bombing

Lukman Diah Sari • 18 June 2026 19:16

Palembang: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Selatan (Sumsel) mengusulkan penambahan empat unit helikopter water bombing untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menjelang puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026.

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumatera Selatan Sudirman mengatakan, usulan tersebut merupakan bagian dari dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla di wilayah tersebut. Secara keseluruhan, Sumsel membutuhkan dua helikopter patroli udara dan delapan helikopter water bombing untuk mendukung operasi penanggulangan karhutla.

"Saat ini yang siaga di Sumsel sebanyak enam unit, terdiri atas dua helikopter patroli udara dan empat helikopter water bombing," kata Sudirman di Palembang, Kamis, 18 Juni 2026, melansir Antara.

Menurut dia, pengalaman penanganan karhutla pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan kebutuhan armada udara yang cukup besar, terutama untuk operasi pemadaman melalui udara di wilayah yang sulit dijangkau jalur darat. Sehingga, tambahan empat helikopter water bombing diusulkan untuk mendukung percepatan penanganan karhutla.

"Penambahan helikopter water bombing ini sesuai petunjuk BNPB, namun tetap bergantung pada kondisi karhutla di Sumsel," ujar dia.

Helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan pemadaman kebakaran lahan dari udara (water bombing). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Sudirman menambahkan keberadaan armada udara menjadi faktor penting dalam upaya pemadaman, karena sejumlah daerah rawan karhutla memiliki akses yang terbatas bagi kendaraan dan personel darat. Selain mempercepat pemadaman, penggunaan helikopter water bombing juga dinilai efektif untuk menekan potensi meluasnya kebakaran ke kawasan rawan lainnya.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sumsel telah menetapkan status siaga darurat karhutla sejak 22 April 2026 hingga 30 November 2026 sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau. BPBD Sumsel juga mengimbau masyarakat maupun perusahaan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar karena berisiko memicu kebakaran yang lebih luas.

"Pencegahan tetap menjadi langkah utama agar kejadian karhutla dapat diminimalkan," kata Sudirman.

(Lukman Diah Sari)