Presiden AS Donald Trump tandatangani MoU dengan Iran di depan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Foto: X
Disaksikan Macron, Trump Tandatangani MoU Gencatan Senjata dengan Iran
Fajar Nugraha • 18 June 2026 08:49
Paris: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah menandatangani nota kesepahaman secara elektronik untuk mengakhiri perang AS dan Israel terhadap Iran.
Kedua pihak mengatakan kesepakatan itu berlaku, dan pejabat AS mengatakan kesepakatan itu mencakup Iran untuk tidak mengembangkan atau membeli senjata nuklir, mengakhiri perang di semua lini, dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Pasukan Israel melanjutkan operasi militer di Lebanon meskipun negara itu termasuk dalam MoU AS-Iran. Pimpinan Hizbullah Naim Qassem memuji perjanjian itu sebagai "kemenangan besar" dan mengatakan negosiasi Lebanon dengan Israel seharusnya hanya fokus pada "keamanan bersama".
Sementara Presiden Prancis Emmanuel Macron memposting video Trump menandatangani MoU AS-Iran, di Istana Versailles di Paris.
“Presiden Trump menandatangani perjanjian antara Iran dan Amerika Serikat di Versailles malam ini,” tulisnya di X, seperti dikutip dari Al Jazeera, Kamis 18 Juni 2026.
“Perjanjian ini membuka jalan bagi perdamaian abadi dan memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz. Ini adalah langkah penting ke arah yang benar bagi rekan-rekan sebangsa kita yang akan segera memungkinkan penurunan harga energi,” ucap Macron.
Ini adalah titik balik dan momen penting antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik di kawasan tersebut.
Perjanjian ini ditandatangani setelah berbulan-bulan perang, aktivitas diplomatik yang intensif, dan periode ketidakpastian yang panjang yang memengaruhi setiap aspek kehidupan sehari-hari di Teheran dan kawasan ini. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Republik Islam Iran, Masoud Pezeshkian pun mengakui MoU ini.
Perjanjian ini mengakhiri perang di Iran dan juga di semua front lain di kawasan tersebut, terutama Lebanon – front Lebanon yang diduduki. Perjanjian ini membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri blokade angkatan laut AS, yang akan menstabilkan kawasan tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, dalam beberapa jam terakhir, mengatakan bahwa penandatanganan tersebut berasal dari otoritas tertinggi antara kedua negara karena memiliki validitas yang lebih besar dan, jika terjadi pelanggaran dalam beberapa hari mendatang, akan menimbulkan biaya yang lebih tinggi.