Presiden Kolombia Gustavo Petro. (EFE/Carlos Ortega)
Profil Gustavo Petro, Presiden Kolombia yang Tegas Hadapi Ancaman Trump
Riza Aslam Khaeron • 7 January 2026 15:33
Jakarta: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah melontarkan ancaman terhadap Kolombia setelah Washington berhasil menyerang Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro pada 3 Januari 2026.
Dalam pernyataan di pesawat Air Force One pada Minggu, 4 Januari 2026, Trump menyebut Venezuela dan Kolombia sebagai negara yang “sangat sakit” dan menuduh pemerintahan di Bogotá dipimpin “orang sakit” yang “suka membuat kokain dan menjualnya ke AS”—merujuk pada Presiden Kolombia Gustavo Petro.
Ketika ditanya apakah ucapannya berarti operasi AS terhadap Kolombia, Trump menunjukan sikap yang membuka kemungkinan aksi militer di negara tersebut.
Di tengah ketegangan tersebut, Petro merespons dengan tegas. Ia meminta Trump “berhenti memfitnah” dirinya dan menyerukan agar negara-negara Amerika Latin bersatu, atau berisiko diperlakukan sebagai “pelayan dan budak”.
Gustavo Petro merupakan mantan anggota gerilya sayap kiri yang telah menjabat sebagai Presiden Kolombia sejak tahun 2022. Pada masa perjuangan, ia pernah dipenjara dan disiksa, sebelum akhirnya berhenti dari gerakan bersenjata dan mengadopsi prinsip non-violence. Ia sudah bersitegang dengan Trump sejak awal 2025 dan berulang kali menentang presiden tersebut.
Berikut merupakan profil tokoh yang tidak gentar menghadapi ancaman orang nomor satu di dunia.
Latar Belakang dan Pejuangan di M-19
Gustavo Francisco Petro Urrego lahir di Ciénaga de Oro, Departemen Córdoba, Kolombia, pada 19 April 1960. Ia merupakan putra dari Gustavo Petro Sierra dan Clara Nubia Urrego. Dari sisi keluarga, Petro memiliki garis keturunan Italia—yang turut membuatnya memiliki kewarganegaraan ganda Kolombia dan Italia.
Petro dibesarkan dalam tradisi Katolik. Ia pernah menyatakan pandangan tentang Tuhan yang dipengaruhi oleh teologi pembebasan, meskipun pada waktu lain ia juga mempertanyakan keberadaan Tuhan. Pada dekade 1970-an, keluarganya pindah ke Zipaquirá, kota di pedalaman yang lebih makmur di utara Bogotá, dengan harapan memperoleh masa depan yang lebih baik.
Memasuki usia sekitar 17 tahun, Petro bergabung dengan kelompok gerilya 19th of April Movement (M-19). Ia percaya bahwa perjuangan bersenjata dapat mengubah sistem politik dan ekonomi Kolombia. M-19 sendiri muncul pada 1974, dalam konteks penolakan terhadap koalisi National Front setelah dugaan kecurangan pada pemilu 1970.
Pada periode ini, Petro menggunakan nama samaran “Aureliano," terinspirasi dari tokoh dalam novel One Hundred Years of Solitude.
Selama berada di M-19, Petro berkembang menjadi salah satu pemimpin organisasi. Ia terpilih sebagai ombudsman Zipaquirá pada 1981 dan menjabat sebagai anggota dewan kota pada 1984 hingga 1986.
Konflik bersenjata pada masa itu sangat keras. M-19 disebut terlibat dalam pembunuhan 13 politikus Kolombia di Palace of Justice pada 1985 serta penculikan dan kekerasan di sejumlah wilayah. Dalam masa itu, Petro memimpin aksi penguasaan lahan untuk menampung 400 keluarga miskin yang terusir akibat kekerasan kelompok paramiliter.
Ia turut berkontribusi membangun kawasan yang kemudian dikenal sebagai permukiman Bolívar 83.
Ia lalu bergerak di bawah tanah dan membangun aliansi dengan Carlos Pizarro—salah satu komandan utama M-19—seraya mendorong solusi politik melalui negosiasi damai dan transisi ke arah pembentukan Majelis Konstituante.
Pada 1985, Petro ditangkap oleh militer Kolombia atas tuduhan kepemilikan senjata ilegal. Ia disiksa selama 10 hari di kandang kuda Brigade XIII dan kemudian dijatuhi hukuman penjara selama 18 bulan.
Dalam masa penahanannya, Petro mengubah pandangannya terhadap strategi perjuangan bersenjata. Ia tidak lagi memandang kekerasan sebagai jalan efektif untuk memperoleh dukungan rakyat. Pada 1987, M-19 memulai proses perundingan damai dengan pemerintah Kolombia.
Perjalanan Politik dan Menjadi Presiden
Setelah proses demobilisasi M-19, para mantan anggotanya—termasuk Petro—mendirikan partai politik M-19 Democratic Alliance. Partai ini meraih kursi signifikan dalam pemilihan anggota Chamber of Representatives pada 1991, mewakili Departemen Cundinamarca.
Pada Juli 1994, Petro tercatat menghadiri pertemuan dengan Letnan Kolonel Hugo Chávez—yang baru dibebaskan dari penjara setelah percobaan kudeta di Venezuela pada 1992—dalam sebuah forum pemikiran Bolivarian di Bogotá.
Karier legislatif Petro terus berlanjut. Pada 2002, ia terpilih sebagai anggota Chamber of Representatives mewakili Bogotá dalam gerakan politik Vía Alterna yang ia dirikan bersama Antonio Navarro Wolff dan sejumlah eks anggota M-19 lainnya.
Pada 2006, Petro meraih 25 suara dari 125 anggota yang disurvei dan dinobatkan sebagai “Best Congressman”—melampaui 24 suara yang menyatakan tidak ada anggota parlemen yang layak mendapat penghargaan tersebut.
Pada 2005, Vía Alterna berkoalisi dengan Frente Social y Político untuk membentuk Independent Democratic Pole (PDI), yang kemudian bergabung dengan Alternativa Democrática dan menjadi Alternative Democratic Pole (PDA).
Pada 2006, Petro terpilih sebagai Senator Kolombia dengan perolehan suara tertinggi kedua secara nasional. Dalam perannya sebagai senator, ia menyoroti skandal “parapolitics” yang melibatkan tokoh-tokoh pemerintah dan kelompok paramiliter.
Petro mencalonkan diri dalam pemilihan presiden 2010. Ia memenangkan pemilihan pendahuluan internal PDA pada 27 September 2009, dan dalam pemilu 30 Mei 2010 ia memperoleh 1.331.267 suara (9,1%) dan finis di posisi keempat.
Langkah politik berikutnya adalah pencalonan sebagai wali kota Bogotá. Petro memenangkan pemilihan pada 30 Oktober 2011 dan mulai menjabat pada 1 Januari 2012. Ia menjadi eks gerilyawan pertama yang memegang jabatan wali kota ibu kota Kolombia.
Pada pemilu presiden 2018, Petro kembali mencalonkan diri. Ia lolos ke putaran kedua setelah menempati posisi kedua di putaran pertama pada 27 Mei, namun kalah dalam runoff pada 17 Juni. Ia kembali ke Senat hingga menjelang pembentukan Kongres baru pada 2022.
Pada pemilu presiden 2022, Petro mencatat sejarah. Ia memenangkan pemilihan dan dilantik pada 7 Agustus 2022 sebagai Presiden Kolombia ke-35. Ia menjadi presiden berhaluan kiri pertama dalam sejarah Kolombia modern. Ia didampingi oleh Wakil Presiden Francia Márquez.
| Baca Juga: Trump Segera Invasi Kuba, Kolombia, dan Greenland |
Ketegangan dengan Trump
Ketegangan antara Kolombia dan Amerika Serikat kian meningkat sejak awal 2025 dikarenakan tekanan dari Washington.
Pada Januari 2025, hubungan antara Bogotá dan Washington memanas ketika Petro menolak pendaratan dua pesawat militer AS yang sebelumnya telah diberikan izin. Masing-masing pesawat tersebut membawa sekitar 80 warga Kolombia yang dideportasi. Sebagai respons, Presiden Trump mengancam akan meningkat tarif terhadap Kolombia.
Memasuki paruh kedua tahun 2025, tekanan terhadap Petro kembali meningkat. Pada 27 September 2025, visa Petro dicabut oleh Amerika Serikat, sehari setelah ia berpidato dalam demonstrasi pro-Palestina di depan markas besar PBB di New York.
Dalam orasinya pada 26 September, Petro menyerukan agar tentara AS tidak mengarahkan senjata kepada rakyat dan agar tidak menaati perintah Trump, melainkan perintah kemanusiaan.
Bulan berikutnya, Oktober 2025, Trump menuduh Petro sebagai pemimpin kartel narkoba Kolombia. Ia menyebut bahwa subsidi Amerika untuk menekan produksi narkoba di Kolombia merupakan "penipuan" yang akan dihentikan secara permanen.
Pada 24 Oktober 2025, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepada Petro, memasukkan namanya, istrinya, anak laki-lakinya ke dalam daftar Specially Designated Nationals and Blocked Persons atas tuduhan terlibat dalam perdagangan narkoba internasional.
Trump juga menyatakan bahwa apabila produksi kokain di wilayah Kolombia tidak dihentikan, AS akan mengambil tindakan langsung untuk menghentikan produksi dan peredarannya, termasuk dengan tindakan di wilayah Kolombia.
Trump kembali melontarkan ancaman tersebut pada 4 Januari 2026, setelah Amerika Serikat melancarkan operasi militer di Venezuela.
Ia mengatakan kepada wartawan bahwa melakukan operasi serupa terhadap pemerintahan Petro “terdengar bagus” Ia menyebut Kolombia sebagai negara “sangat sakit,” dipimpin oleh “orang sakit” yang “suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat,” serta menyatakan Petro “tidak akan melakukan itu untuk waktu lama.”
Petro menanggapi ancaman tersebut pada Senin, 5 Januari 2026, dengan sikap yang tegas mengatakan akan kembali "memegang senjata" demi melindungi negara.
“Saya bersumpah tidak akan menyentuh senjata lagi. Tetapi demi tanah air, saya akan mengangkat senjata lagi,” ujarnya.
“Saya meminta rakyat membela presiden dari tindakan kekerasan apa pun yang tidak sah terhadap dirinya,” sebut Petro.