Kecaman Menguat Usai Trump Serang Paus Leo dan Unggah Foto Mirip Yesus

Paus Leo XIV dianggap lemah oleh Presiden AS Donald Trump. Foto: Anadolu

Kecaman Menguat Usai Trump Serang Paus Leo dan Unggah Foto Mirip Yesus

Muhammad Reyhansyah • 14 April 2026 11:33

Washington: Gelombang kecaman internasional mencuat bertepatan dengan Paskah Ortodoks, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan kritik keras terhadap Paus Leo XIV dan membagikan gambar dirinya yang digambarkan menyerupai Yesus Kristus.

Reaksi datang dari berbagai kalangan lintas politik dan agama, yang menyebut tindakan tersebut sebagai “tidak waras”, “menjijikkan”, serta mencerminkan apa yang disebut sebagai “kompleks mesianis.”

Mengutip PressTV, Selaasa, 14 April 2026, kkontroversi ini terjadi beberapa hari setelah Paus Leo XIV mengkritik keras perang yang dilancarkan Trump terhadap Iran serta ancaman terhadap keberlangsungan peradaban Iran, yang oleh Paus disebut “benar-benar tidak dapat diterima” baik secara moral maupun hukum internasional.

Menanggapi kritik tersebut, Trump melancarkan serangan terhadap pemimpin spiritual lebih dari 1,3 miliar umat Katolik di dunia.

Analis politik Larry Sabato menyoroti apa yang ia sebut sebagai “keangkuhan luar biasa” Trump, sembari mengutip pernyataan presiden yang mengatakan, “Saya tidak menginginkan seorang Paus”

Ia juga mengingatkan kembali insiden sebelumnya ketika Trump mengunggah gambar hasil manipulasi yang menampilkan dirinya sebagai Paus, menyebut tindakan itu sebagai cerminan sikap narsistik berlebihan.

Kritik dari Politisi dan Tokoh Publik

Kecaman datang cepat dari pejabat terpilih, baik di dalam maupun luar Amerika Serikat. Senator Mark Kelly, yang beragama Katolik, menyebut serangan terhadap Paus sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima. 

“Sebagai seorang Katolik, saya merasa menjijikkan bahwa Presiden Amerika Serikat secara terbuka menyerang Penerus Santo Petrus,” ujarnya.

Ia juga mengaitkan pernyataan tersebut dengan kebijakan luar negeri Trump, dengan menyebut perang terhadap Iran telah menyebabkan korban di kalangan militer AS serta anak-anak Iran.

Anggota DPR AS Pramila Jayapal menyebut komentar Trump sebagai “tidak waras dan menjijikkan,” bahkan mempertanyakan apakah Wakil Presiden JD Vance perlu mempertimbangkan penggunaan Amandemen ke-25 untuk mencopot presiden dari jabatannya.

Mantan anggota Kongres Marjorie Taylor Greene, yang sebelumnya dikenal sebagai sekutu Trump, juga mengkritik waktu dan substansi pernyataan tersebut.

“Presiden Trump menyerang Paus karena Paus menentang perang di Iran,” tulisnya, seraya menambahkan bahwa Trump kemudian “mengunggah gambar dirinya seolah-olah menggantikan Yesus.”

Melanie Darrigo turut mengomentari kontroversi tersebut, menyebut perubahan sikap sebagian pemilih evangelis terhadap Trump sebagai sesuatu yang mencolok.

Kecaman dari Pemuka Agama

Sejumlah tokoh agama Kristen menyampaikan kritik keras terhadap tindakan Trump. Pastor Jesuit James Martin menilai bahwa meskipun Paus Leo XIV mungkin tidak terganggu secara pribadi, publik seharusnya memperhatikan implikasi moral dari tindakan tersebut.

“Ini tidak waras, tidak berbelas kasih, dan tidak mencerminkan nilai Kristiani,” ujarnya. “Apakah tidak ada batas dari kemerosotan moral ini?”

Pendeta Benjamin Cremer juga mengecam unggahan Trump yang menampilkan dirinya sebagai Yesus. Ia menilai tindakan tersebut justru memperkuat tuduhan terhadap presiden.

“Jika presiden dari Partai Demokrat melakukan hal ini, umat Kristen evangelis akan bereaksi keras,” kata Cremer.

Akademisi Michael Rectenwald turut mengkritik keras tindakan Trump, menyebutnya sebagai bentuk penghinaan terhadap umat Kristen.

Analisis dan Respons Media

Sejumlah analis dan jurnalis menilai serangan Trump sebagai respons langsung terhadap kritik Paus atas ancaman terhadap Iran.

Jurnalis CNN Jake Tapper menyatakan bahwa serangan tersebut terjadi setelah Paus mengecam ancaman Trump terhadap peradaban Iran sebagai tindakan yang tidak dapat diterima secara moral dan hukum internasional.

Komentator politik Pedro L. Gonzalez menilai tindakan Trump mencerminkan “kompleks mesianis,” serta menunjukkan bahwa ia melihat gerakannya sebagai kultus personal di mana dirinya menjadi figur sentral baik secara politik maupun spiritual.

Ia juga menilai bahwa langkah tersebut merupakan ujian loyalitas bagi para pendukung Trump.

Pernyataan Trump

Dalam sesi tanya jawab dengan wartawan di Air Force One pada Minggu, Trump kembali menegaskan kritiknya terhadap Paus.

“Kami tidak menyukai seorang Paus yang mengatakan bahwa tidak masalah memiliki senjata nuklir. Dia adalah seseorang yang tidak berpikir kita seharusnya berurusan dengan negara yang ingin memiliki senjata nuklir agar bisa menghancurkan dunia,” ujarnya.

Ia menutup dengan menyatakan, “Saya bukan penggemar Paus Leo.”

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)