Perkuat Respons Cepat Tanggap Darurat di Mina, Kemenhaj Siagakan Mobile Crisis Rescue

Lempar jumrah, Dok: Metro TV/Renggi Putrima

Perkuat Respons Cepat Tanggap Darurat di Mina, Kemenhaj Siagakan Mobile Crisis Rescue

Ficky Ramadhan • 28 May 2026 19:42

Jakarta: Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memperkuat sistem pelindungan bagi jemaah haji Indonesia selama fase Mina dengan menyiagakan Mobile Crisis Rescue (MCR) di kawasan Jamarat. Tim ini disiapkan untuk memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, hingga membantu mengurai kepadatan saat pelaksanaan lontar jumrah pada hari-hari Tasyrik.

Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, mengatakan keberadaan MCR menjadi bagian penting dalam penguatan layanan di titik-titik rawan pergerakan jemaah.

"MCR atau Mobile Crisis Rescue adalah tim khusus dan posko dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji yang disiagakan di kawasan Jamarat, Mina. Tim ini bertugas memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, dan membantu mengurai kepadatan jemaah selama puncak ibadah haji," kata Maria di Jakarta, Kamis, 28 Mei 2026.

Menurut Maria, posko-posko MCR ditempatkan di sejumlah titik strategis di area Jamarat dan jalur perlintasan jemaah. Penempatan tersebut dilakukan agar petugas dapat memantau situasi secara langsung dan merespons kondisi darurat dengan cepat.

"MCR dibentuk khusus untuk merespons kondisi darurat, termasuk memberikan penanganan bagi jemaah yang pingsan, tersesat, mengalami kelelahan ekstrem, hingga melakukan evakuasi bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas," jelas dia.

Dia menegaskan pelindungan jemaah menjadi prioritas utama pemerintah dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Oleh karena itu, petugas tidak hanya disiagakan di tenda-tenda jemaah, tetapi juga ditempatkan di jalur pergerakan dan titik yang berpotensi menimbulkan kepadatan.

"Pelindungan jemaah adalah prioritas. Karena itu, petugas tidak hanya berada di tenda-tenda jemaah, tetapi juga disiagakan di jalur pergerakan, pos pantau, dan titik-titik yang berpotensi terjadi kepadatan. Setiap jemaah yang membutuhkan bantuan harus bisa segera ditangani," tegas Maria.

Pada 11 Zulhijah 1447 Hijriah, jemaah haji Indonesia mulai melaksanakan lontar tiga jumrah, yakni Ula, Wustha, dan Aqabah. Kemenhaj mengingatkan seluruh jemaah agar mengikuti jadwal resmi lontar jumrah sesuai pengaturan masing-masing kloter.

Untuk 11 Zulhijah, lontar jumrah dibagi dalam dua sesi, yaitu pukul 17.00–24.00 waktu Arab Saudi dan dilanjutkan pada 12 Dzulhijjah pukul 00.00–04.00 waktu Arab Saudi. Waktu larangan melontar berlaku mulai pukul 11.00 hingga 18.00 waktu Arab Saudi.

Sementara itu, pada 12 Zulhijah, jadwal lontar dilaksanakan pukul 05.00–10.30 dan 18.00–24.00 waktu Arab Saudi, dengan larangan melontar pada pukul 11.00–14.00 waktu Arab Saudi. Sedangkan pada 13 Zulhijah, lontar jumrah dijadwalkan pukul 05.00–12.00 waktu Arab Saudi tanpa waktu larangan khusus.

Maria mengingatkan jemaah untuk tidak berangkat sendiri menuju Jamarat dan tetap bergerak bersama rombongan yang didampingi petugas.

"Kami mengimbau jemaah untuk tidak terburu-buru dan tidak memaksakan diri. Ikuti jadwal, gunakan jalur resmi, dan jangan memisahkan diri dari rombongan. Keselamatan jemaah harus menjadi perhatian bersama," ujar dia.

Prosesi ibadah haji lempar jumrah. Metro TV/Mahmud Fauzi

Baca Juga: 

Momen Jutaan Jemaah Haji Menuju Jamarat untuk Lempar Jumrah

Selain itu, jemaah diminta memperhatikan waktu larangan melontar guna menghindari cuaca panas ekstrem dan kepadatan di kawasan Jamarat. Selama waktu larangan, jemaah diimbau tetap berada di tenda, menjaga kondisi tubuh, serta memperbanyak konsumsi air putih.

Dalam rangka memperkuat layanan selama fase Mina, Kemenhaj turut menyiagakan sebanyak 1.356 Petugas Satgas Mina. Para petugas ditempatkan di berbagai titik strategis seperti jalur pergerakan jemaah, pos rute Jamarat, pos MCR bawah dan atas, hingga pos koordinator tanazul.

Beberapa titik pantau Satgas Mina berada di Jalan 616, Jalan 533, depan Mina Al-Wadi Hospital, Jalan 627, bawah Jalan Abdullah bin Abdul Aziz, gawang Terowongan Muaisim Turki, serta sejumlah pos pengarah arus jemaah menuju dan kembali dari Jamarat.

Pos-pos tersebut bertugas membantu pengaturan arus pejalan kaki, mengantisipasi kepadatan, sekaligus memastikan jemaah tidak mengambil jalur pintas yang berisiko.

Maria mengingatkan suhu udara di Mina pada siang hari masih cukup tinggi. Oleh karena itu, jemaah diminta menjaga kesehatan dengan makan teratur, menggunakan pelindung kepala saat berada di luar tenda, dan membatasi aktivitas fisik yang tidak diperlukan.

"Kami meminta keluarga kloter, ketua rombongan, ketua regu, dan sesama jemaah untuk memberikan perhatian lebih kepada jemaah lansia, disabilitas, perempuan, dan jemaah dengan risiko kesehatan tinggi. Jika ada jemaah yang terlihat kelelahan, kebingungan, terpisah dari rombongan, atau mengalami gangguan kesehatan, segera laporkan kepada petugas terdekat," ucap dia.

Kemenhaj memastikan seluruh layanan selama fase Mina, mulai dari transportasi, akomodasi, konsumsi, kesehatan, bimbingan ibadah, hingga pelindungan jemaah terus diperkuat hingga seluruh rangkaian Armuzna selesai.

"Kami mengajak seluruh jemaah untuk menjaga kekompakan, saling membantu, saling mengingatkan, dan saling menjaga. Semangat gotong royong dan ukhuwah menjadi bagian penting dalam mewujudkan ibadah haji yang aman, tertib, nyaman, dan penuh keberkahan," ujar dia.

(Achmad Zulfikar Fazli)