Menteri Agama Nasaruddin Umar memberikan pernyataan pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/3/2026). (ANTARA/Andi Firdaus)
Menag: Momentum Iduladha Tidak Sekedar Ritual, tapi Saling Berbagi
Achmad Zulfikar Fazli • 27 May 2026 23:14
Jakarta: Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar menjelaskan esensi dari perayaan Iduladha tidak sekadar menjalankan ritual ibadah, melainkan momentum saling berbagi. Sehingga, seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan kebahagiaan dan pemenuhan nutrisi yang sama.
"Iduladha ini sebetulnya identik dengan bulan berbagi. Kita berharap melalui momentum ini, semua orang bisa mencicipi gizi hewani, baik melalui jalur ibadah kurban maupun skema bantuan sosial seperti yang kita lakukan, salah satunya di Masjid Istiqlal ini,” ujar Menag dalam keterangannya di Jakarta, dilansir dari Antara, Rabu, 27 Mei 2026.
Menag mengatakan dari semangat berbagi itu, tidak semua hewan yang dititipkan di Masjid Istiqlal pada momentum Iduladha 1447 Hijriah berasal dari umat Islam. Ada tiga kategori, yakni hewan kurban, Dam, dan bantuan sosial.
Menurut dia, semangat berbagi tidak hanya datang dari umat Muslim, tetapi juga masyarakat non-Muslim. Dari puluhan hewan yang diterima Istiqlal, sebagian di antaranya sumbangan dari masyarakat umum dan institusi keagamaan lain, termasuk Gereja Katedral Jakarta.
"Banyak teman kita yang non-Muslim juga menyerahkan hewan kurban. Bahkan, hampir separuh dari total hewan yang ada berasal dari masyarakat umum yang mungkin niatnya tidak dimasukkan sebagai kurban secara syariat Islam. Kami sangat mengapresiasi toleransi dan kepedulian sosial ini," kata Menag.
Menurut dia, secara hukum Islam, ibadah kurban memang diwajibkan bagi Muslim yang mampu. Namun, fakta saudara-saudara non-Muslim ikut serta menunjukkan tingginya kesadaran sosial untuk membantu sesama di tengah tingginya permintaan masyarakat terhadap daging kurban.
Guna mengakomodasi berbagai jenis penyerahan tersebut, Menag menjelaskan Istiqlal menerapkan tiga skema pengelolaan. Skema pertama adalah pengelolaan hewan kurban konvensional yang secara syariat memang diniatkan sebagai kurban wajib maupun sunah bagi umat Islam.
Selanjutnya, skema penitipan Dam yang mengakomodasi jemaah haji di Arab Saudi untuk menyalurkan denda atau penebusan mereka di Indonesia, sebuah langkah yang dinilai lebih berdampak nyata bagi masyarakat di Tanah Air.
.jpg)
Ilustrasi hewan kurban di Masjid Istiqlal. Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Baca Juga:
Sapi Kurban 350 Kg Terperosok ke Dalam Gorong-gorong di Pulogadung |
Sementara itu, skema ketiga bergerak di jalur bantuan sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR) guna menampung kontribusi dari perusahaan maupun individu non-Muslim dalam bentuk sedekah sosial untuk memperkuat ketersediaan kuota daging.
Hingga hari raya ini, Masjid Istiqlal menerima sebanyak 63 ekor sapi, 18 ekor kambing dan seekor domba. Seluruh hewan tersebut mulai disembelih pada 28 Mei 2026 dan didistribusikan secara akuntabel kepada masjid, musala, panti asuhan, majelis taklim, pondok pesantren, madrasah, hingga perguruan tinggi Islam yang berada di bawah binaan atau memiliki relasi dengan Istiqlal.
"Insyaallah sistem pertanggungjawaban di Istiqlal ini kami lakukan dengan transparan. Nanti kami laporkan kembali kepada para penyumbang sesuai dengan bentuk penyerahan dan niatnya masing-masing," kata dia.
Terkait hewan kurban dari pimpinan negara, Menag mengonfirmasi pihak Masjid Istiqlal menerima penyerahan secara resmi dari Presiden dan Wakil Presiden pada malam takbiran. Menag berharap perayaan Iduladha 1447 Hijriah menjadi kesempatan masyarakat untuk dapat menikmati gizi hewani secara merata.
"Kita ingin masyarakat kita di Indonesia ini tersenyum pada saat Iduladha, merasakan kebersamaan lewat bantuan dari manapun datangnya," kata Menag.