Dokter spesialis/Ilustrasi MI
Bahaya Campak: Penyebab Utama hingga Penularan
M. Iqbal Al Machmudi • 10 March 2026 17:33
Jakarta: Wabah campak telah terdeteksi di 73 kota di seluruh Indonesia dan angka kasus terus bertambah. Dokter Spesialis Anak, Meisy Grania Amalinda Salekede mengatakan penyebab utama campak adalah infeksi virus dari famili Paramyxovirus. Metode penularannya terjadi melalui droplet (percikan air liur saat batuk atau bersin) serta melalui udara.
"Virus ini bisa bertahan di udara atau pada permukaan benda selama beberapa jam, sehingga anak-anak yang berada di ruangan yang sama dengan penderita sangat berisiko tertular jika belum memiliki kekebalan tubuh yang cukup," kata Meisy dikutip dari Media Indonesia, Selasa, 10 Maret 2026.
Gejala campak sering kali dimulai dengan tanda-tanda yang mirip dengan flu biasa, namun bisa makin memburuk dengan pola yang sangat khas seperti demam tinggi yang terus menerus. Kasus ini adalah gejala awal yang paling mencolok. Anak akan mengalami demam tinggi terus-menerus di atas 38°C selama kurang lebih 4 hingga 7 hari.
Kemudian muncul batuk, pilek, dan kondisi mata yang memerah (konjungtivitis) serta sensitif terhadap cahaya. Sering kali disertai dengan diare. Setelah beberapa hari demam, muncul ruam kemerahan yang dimulai dari wajah dan leher, biasanya diawali dari area belakang telinga. Ruam ini kemudian menyebar ke seluruh tubuh hingga ke tangan dan kaki.
"Ruam biasanya bertahan selama sekitar 7 hari. Uniknya, saat ruam mulai mereda, warnanya akan berubah menjadi kehitaman (hiperpigmentasi) sebelum akhirnya mengelupas dan hilang," ujar Meisy.

Ilustrasi campak. Foto: Istimewa
Meisy menjelaskan banyak orang menganggap campak akan sembuh dengan sendirinya. Namun, jika dibiarkan tanpa penanganan medis yang tepat atau jika kondisi imun anak sangat lemah, campak dapat memicu komplikasi serius yang mengancam nyawa, antara lain pneumonia atau infeksi paru-paru yang merupakan penyebab kematian paling umum pada kasus campak.
Kemudian ensefalitis (radang selaput otak), komplikasi ini menyerang sistem saraf pusat dan dapat menyebabkan kerusakan otak permanen. Diare berat: bisa menyebabkan dehidrasi akut pada balita.
"Hingga kematian, jika tidak ditangani, campak dapat menyebabkan gagal organ yang berujung pada kematian," kata Meisy.