Menteri Sosial Saifullah Yusuf. Antara/M Riezko Bima Elko Prasetyo
Kasus Bunuh Diri Anak di NTT, Mensos Tekankan Penguatan Data Keluarga Rentan
Ficky Ramadhan • 4 February 2026 13:31
Jakarta: Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyampaikan duka cita dan keprihatinan mendalam atas meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga bunuh diri karena persoalan ekonomi keluarga. Dia menilai peristiwa tragis tersebut harus menjadi perhatian serius seluruh pihak.
"Tentu kita prihatin dulu ya dan turut berduka. Yang kedua, ya tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama,” kata Gus Ipul, Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.
Gus Ipul menegaskan pentingnya penguatan data sosial dan pendampingan terhadap keluarga rentan, khususnya agar tidak ada masyarakat yang terlewat dari jangkauan program perlindungan sosial pemerintah. Menurut dia, akurasi data menjadi kunci utama dalam memastikan bantuan tepat sasaran.
"Ya tentu bersama pemerintah daerah, kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita. Kita harapkan tidak ada yang tidak terdata," tegas dia.
Dia menambahkan ketersediaan data yang komprehensif akan memungkinkan pemerintah menjangkau keluarga yang membutuhkan perlindungan, rehabilitasi, hingga pemberdayaan sosial.
"Ini hal yang sangat penting saya kira kembali kepada data. Bagaimana data ini kita sajikan sebaik mungkin, sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi, dan memerlukan pemberdayaan. Ya jadi itu, sampai di situ dulu dan ini sungguh-sungguh menjadi perhatian kita bersama," ujar dia.
Baca Juga:
KPAI: Indonesia Darurat Bunuh Diri Anak |

Ilustrasi garis polisi. Foto- Medcom
Seorang anak laki-laki berinisial YBR, 10, siswa kelas IV SD, ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di sebuah pohon pada Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, Kamis, 29 Januari 2026. Saat proses evakuasi, aparat kepolisian menemukan sepucuk surat tulisan tangan milik korban.
Surat tersebut ditulis dalam bahasa daerah Bajawa dan ditujukan kepada ibu korban. Kepolisian masih mendalami penyebab pasti kejadian tersebut, termasuk dugaan kekecewaan YBR karena tidak dibelikan peralatan tulis akibat keterbatasan ekonomi keluarga.