Pasca-Kematian Saif al-Islam Gaddafi, Nasib Politik Libya Limbung

Saif al-Islam Gaddafi, putra mendiang pemimpin Libya Muammar Gaddafi tewas ditembak. Foto: Anadolu

Pasca-Kematian Saif al-Islam Gaddafi, Nasib Politik Libya Limbung

Fajar Nugraha • 5 February 2026 16:55

Zintan: Tewasnya Saif al-Islam Gaddafi, putra mendiang pemimpin Libya Muammar Gaddafi mengejutkan banyak pihak.

Seperti dilansir dari Anadolu, Kamis 5 Februari 2026, tokoh kontroversial tersebut dilaporkan tewas setelah ditembak oleh penyerang tak dikenal di kota Zintan, wilayah barat Libya.

Penasihat Saif al-Islam, Abdullah Othman, mengonfirmasi kabar tersebut melalui media sosial, meskipun detail mengenai kronologi kejadian maupun pihak yang bertanggung jawab belum diungkapkan. Menanggapi insiden ini, Jaksa Agung Al-Siddiq al-Sour telah memerintahkan penyelidikan menyeluruh atas kasus pembunuhan tersebut.

Tim politik Saif al-Islam mengatakan bahwa pembunuhan ini merupakan pukulan telak bagi prospek perdamaian dan stabilitas negara. Kematian ini terjadi tepat saat peringatan 15 tahun revolusi yang menggulingkan kekuasaan ayahnya pada 2011.   

Bagi pendukung mantan rezim, Saif al-Islam adalah satu-satunya harapan untuk kembali ke panggung kekuasaan melalui proses pemilu. Namun, ia dianggap memiliki kelemahan strategis karena tidak memiliki kekuatan militer nyata di lapangan untuk melindunginya dari upaya penyingkiran politik, berbeda dengan kandidat lain yang didukung oleh formasi bersenjata lintas suku.

Insiden ini terjadi tak lama setelah Massad Boulos, penasihat Presiden AS urusan Arab dan Afrika, mengumumkan pertemuan produktif antara pejabat senior Libya Barat dan Timur di Paris. Diskusi tersebut difokuskan pada persatuan nasional dan stabilitas jangka panjang, yang mencakup tokoh-tokoh beberapa tokoh utama, seperti Penasihat Keamanan Nasional dari Pemerintah Persatuan Nasional (GNU), Ibrahim al-Dbeibeh, dan Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Darat di wilayah timur, Letjen Saddam Haftar sekaligus putra Khalifa Haftar.

Langkah diplomatik ini, ditambah dengan kesepakatan investasi minyak senilai USD20 miliar atau sekitar Rp336 triliun dengan perusahaan AS ConocoPhillips dan perusahaan Prancis TotalEnergies, mengindikasikan upaya internasional untuk menstabilkan Libya melalui kemitraan ekonomi dan pembagian kekuasaan politik.

Kematian Saif al-Islam menambah daftar panjang pembunuhan pemimpin keamanan dan militer di Libya. Tahun lalu, kepala Aparatus Pendukung Stabilitas, Abdul Ghani al-Kikli, tewas dalam bentrokan perebutan wilayah di ibu kota. Selain itu, Panglima Staf Umum, Letjen Mohammed al-Haddad juga meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat di Turki akhir tahun lalu.

Para analis menilai bahwa dengan hilangnya Saif al-Islam dari peta politik, faksi-faksi berpengaruh kini dapat bergerak lebih cepat menuju stabilitas. Pembagian kekuasaan diprediksi akan menjadi lebih sederhana karena hanya melibatkan dua blok utama.

Terdapat faksi barat (Tripoli) yang dipimpin oleh Abdul Hamid Dbeibeh, didukung oleh Dewan Tinggi Negara dan diakui secara internasional. Sementara itu, Faksi Timur (Benghazi), di bawah pimpinan Osama Hammad, didukung oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Field Marshal Khalifa Haftar.

Kematian ini menandai berakhirnya ambisi keluarga Gaddafi untuk kembali memerintah, memaksa para pendukung rezim lama mencari pengganti yang mungkin tidak memiliki legitimasi politik maupun warisan yang setara dengan Saif al-Islam.

(Kelvin Yurcel)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)