Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami. (Yeni Safak)
Iran Tegaskan Bisa Melindungi Diri Sendiri Tanpa Senjata Nuklir
Willy Haryono • 1 February 2026 17:00
Teheran: Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menegaskan bahwa negaranya tidak mencari dan tidak membutuhkan senjata nuklir untuk kepentingan pertahanan, meski saat ini terus menghadapi tekanan internasional serta ancaman militer.
Dalam wawancara dengan media lokal, Eslami menyatakan Iran memiliki daya tangkal kredibel dan tetap berpegang pada komitmen internasional terkait nonproliferasi nuklir. Ia juga mengkritik lembaga pengawas global yang dinilainya bertindak politis dalam menangani isu nuklir Iran.
Dikutip dari Yeni Safak, Minggu, 1 Februari 2026, Eslami menegaskan bahwa senjata nuklir “tidak memiliki tempat” dalam doktrin militer Iran. Ia merujuk pada fatwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang melarang kepemilikan senjata nuklir, serta menekankan bahwa Iran memiliki kemampuan konvensional yang memadai untuk mempertahankan diri.
Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan, menyusul peringatan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait ambisi nuklir Iran serta pengumuman pengerahan armada laut AS ke kawasan.
Eslami juga menegaskan bahwa pengayaan uranium hingga tingkat 60 persen yang dilakukan Iran ditujukan untuk kebutuhan sipil di masa depan, termasuk kemungkinan pengembangan teknologi propulsi nuklir, dan bukan untuk pengembangan senjata.
Kritik terhadap IAEA dan Dampak Serangan Militer
Pejabat Iran itu melontarkan kritik tajam terhadap Badan Energi Atom Internasional dan Direktur Jenderalnya Rafael Grossi, yang dituduh mempolitisasi berkas nuklir Iran dan gagal merespons serangan terhadap fasilitas nuklir negara tersebut.Eslami menyebut pemboman terhadap fasilitas Fordow, Natanz, dan Isfahan selama perang pada Juni 2025 sebagai pelanggaran hukum internasional yang “belum pernah terjadi sebelumnya."
Meski Iran masih menjadi penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), Eslami menyebut undang-undang parlemen telah menangguhkan sebagian kerja sama dengan IAEA demi alasan keamanan. Namun demikian, pengawasan dasar masih tetap berjalan di fasilitas yang tidak terdampak serangan.
Menjelang pertemuan Dewan Gubernur IAEA pada Maret mendatang, Eslami memperkirakan tekanan politik terhadap Iran akan meningkat, termasuk kemungkinan pelimpahan kembali isu nuklir Iran ke Dewan Keamanan PBB.
Ia menyalahkan Amerika Serikat serta tiga negara Eropa penandatangan kesepakatan nuklir 2015, JCPOA, atas runtuhnya perjanjian tersebut karena dinilai tidak memenuhi komitmen mereka.
Di tengah ancaman yang disebutnya masih aktif dari Amerika Serikat dan Israel, Eslami menegaskan Iran akan tetap menempuh jalur kesabaran strategis dan mematuhi prosedur keamanannya, meski perdebatan domestik terkait doktrin non-nuklir terus berlangsung.
Baca juga: Trump Sebut Iran Sedang Berbicara Serius dengan AS