Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Jabar, Dedi Mulyadi Izinkan Sekolah Gelar PJJ

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Metro TV/ Iwan Gumilar)

Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Jabar, Dedi Mulyadi Izinkan Sekolah Gelar PJJ

Roni Kurniawan • 7 September 2026 03:58

Bandung: Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, meminta kepala sekolah di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau mempertimbangkan penerapan pembelajaran secara daring mulai Senin, 7 September 2026.

Dedi mengatakan keputusan pembelajaran daring dapat diterapkan terutama di wilayah dengan intensitas sebaran abu vulkanik yang cukup tinggi. Sejumlah wilayah yang menjadi perhatian di antaranya Bogor dan Sukabumi serta daerah lain yang terdampak abu vulkanik.

"Sehubungan dengan semakin meningkatnya sebaran abu vulkanik yang disebabkan erupsi Gunung Anak Krakatau, kami sampaikan untuk wilayah-wilayah yang intensitas debunya tinggi seperti Bogor dan Sukabumi serta daerah lain yang memang ada intensitas sebaran abu vulkaniknya," kata Dedi dikutip dari akun pribadi media social, Minggu, 7 September 2026.

Menurut Dedi, kepala sekolah diberikan kewenangan untuk menentukan pola pembelajaran dengan mempertimbangkan kondisi di wilayah masing-masing.

Dedi menegaskan keputusan tersebut tidak harus diterapkan secara seragam di seluruh Jawa Barat. Kepala sekolah dapat menyesuaikan kebijakan berdasarkan situasi dan kondisi lingkungan sekolah, khususnya terkait intensitas abu vulkanik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Metro TV/ Iwan Gumilar)


"Para kepala sekolah terhitung mulai hari Senin tanggal 7 September 2026 bisa mengambil keputusan untuk membuat sistem pembelajaran secara daring di rumahnya masing-masing," jelas Dedi.

Dedi meminta, kepala sekolah mengutamakan kesehatan, keselamatan, dan kenyamanan peserta didik maupun tenaga pendidik dalam menentukan metode pembelajaran.

"Sekali lagi kepada para kepala sekolah bisa mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan kondisi di lapangan agar sistem pembelajaran dilaksanakan secara daring di rumahnya masing-masing," lanjut Dedi.

Dedi berharap kebijakan tersebut dapat menjadi pedoman bagi satuan pendidikan dalam menghadapi peningkatan sebaran abu vulkanik. Aktivitas pendidikan tetap diupayakan berjalan dengan menyesuaikan kondisi di lapangan.

"Semoga kita semua bisa menjalankan aktivitas sebagaimana mestinya dengan mempertimbangkan kesehatan, keselamatan dan kenyamanan kita semua," ujar Dedi.


(Deny Irwanto)