Industri Harus Mulai Adaptasi AI dan Drone untuk Keberlanjutan Lingkungan

Ilustrasi Drone. Foto: Istimewa

Industri Harus Mulai Adaptasi AI dan Drone untuk Keberlanjutan Lingkungan

Muhamad Marup • 16 September 2026 17:36

Jakarta: President University bersama University of Southern Queensland (UniSQ), Australia, dan Jababeka mendorong industri mengadaptasi Artificial Intelligence (AI) dan drone untuk keberlanjutan lingkungan. Prof. Syed Shams dari University of Southern Queensland menekankan pentingnya keterbukaan informasi lingkungan dan keberlanjutan bagi dunia usaha.

"Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pengungkapan lingkungan dan keberlanjutan yang kredibel berkaitan dengan nilai perusahaan yang lebih tinggi, biaya pendanaan yang lebih rendah, dan ekspektasi kinerja masa depan yang lebih kuat," ujar Shams, dalam workshop Pemanfaatan teknologi AI dan Drone untuk Mendukung Pelaporan Keberlanjutan yang Berkualitas, Kamis, 16 September 2026.

Keberlanjutan kini tidak cukup dipandang sebagai upaya perusahaan mengurangi dampak kegiatan usahanya terhadap lingkungan. Perusahaan juga perlu memahami bagaimana perubahan dan kondisi lingkungan di sekitar mereka dapat memengaruhi kesehatan pekerja, operasional, kepatuhan, reputasi, hingga keberlangsungan bisnis.

Sementara itu, Kepala Kepatuhan Regulasi Kawasan (ERC) serta Manajer Senior Bidang Air dan Lingkungan di PT Jababeka Infrastruktur, menyoroti perkembangan teknologi memungkinkan industri memantau kondisi lingkungan dengan lebih luas dan cepat. Pemanfaatan teknologi seperti AI dan drone dapat membantu industri memperoleh data lingkungan yang lebih akurat dan terukur sebagai dasar pengelolaan dan pelaporan keberlanjutan.

Workshop Pemanfaatan teknologi AI dan Drone untuk Mendukung Pelaporan Keberlanjutan yang Berkualitas. Foto: Istimewa

Drone berukuran kecil dapat membawa sensor gas dan partikulat untuk mengambil sampel udara di berbagai lokasi dan ketinggian dalam hitungan menit. Teknologi ini dapat digunakan untuk memantau emisi, sebaran polutan, kualitas udara, serta kondisi lingkungan di area yang sulit dijangkau.

Berbeda dengan stasiun pemantauan tetap yang membaca kondisi pada satu titik, drone dapat bergerak melintasi berbagai lokasi dan ketinggian untuk membantu menunjukkan area dengan tingkat polusi yang lebih tinggi. Dengan dukungan AI, data tersebut dapat dianalisis untuk mengidentifikasi pola dan perubahan kondisi lingkungan secara lebih sistematis.

Data yang lebih luas dan terukur ini membantu perusahaan memiliki dasar yang lebih kuat untuk menilai risiko lingkungan, mengambil keputusan, serta mendukung pelaporan keberlanjutan. Data tersebut juga dapat menjadi dasar untuk memahami dampaknya terhadap keputusan bisnis.

Ketua Program Studi Akuntansi President University, Dr. Supeni Mapuasari, menjelaskan bahwa perubahan iklim dapat memengaruhi kondisi keuangan perusahaan, termasuk melalui risiko terhadap operasi, aset, investasi, dan arus kas.

"Karena itu, data lingkungan yang terukur penting agar perusahaan dapat memahami risiko, mengambil keputusan yang tepat, dan menghubungkannya dengan pelaporan keberlanjutan," jelasnya.

Sebagai bagian dari sisi pendidikan, kolaborasi tersebut juga menggelar International Young Essay Competition diikuti lebih dari 200 tim dari 14 negara. Kegiatan ini memperkenalkan mahasiswa pada perkembangan teknologi dan praktik keberlanjutan yang semakin dibutuhkan dunia kerja, sekaligus membuka wawasan mengenai bidang keahlian baru yang dapat mereka persiapkan sebelum memasuki dunia profesional.

Kolaborasi President University, University of Southern Queensland, dan Jababeka mempertemukan keahlian akademik, teknologi, dan kebutuhan industri untuk mendorong praktik keberlanjutan berbasis data. Kolaborasi ini didukung hibah kerja sama Indonesia-Australia senilai sekitar AUD 42.000 dari Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT), yang diterima oleh President University dan UniSQ.

(Muhamad Marup)