Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti. Foto: Metrotvnews.com/Duta Erlangga.
Proyek Hilirisasi Rp116 Triliun Berpotensi Ubah Struktur Industri Nasional
Ade Hapsari Lestarini • 30 April 2026 15:46
Jakarta: Kelanjutan proyek hilirisasi nasional tahap II mengemban misi besar dalam meningkatkan nilai ekonomi dan pendapatan negara. Di sisi lain, aspek yang tak kalah krusial adalah sejauh mana program ini mampu memberikan dampak sosial nyata bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti menyampaikan hal tersebut usai Presiden Prabowo Subianto bersama CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani meresmikan (groundbreaking) 13 proyek hilirisasi nasional tahap II senilai Rp116 triliun di Refinery Unit IV Cilacap, Jawa Tengah, Rabu, 29 April 2026. Proyek ini dibangun sebagai bagian dari percepatan transformasi industri berbasis nilai tambah sumber daya alam.
"(Ini bisa menjadi) peluang baik jika ada peningkatan produktivitas sektor yang menjadi fondasi penting dalam keberhasilan hilirisasi," kata Esther, Kamis, 30 April 2026.
Menurut Esther, hilirisasi nasional tahap II ini akan mampu memberikan nilai tambah dan ekonomi pengolahan dalam negeri. Selain itu lagi hilirisasi nasional tahap II ini dapat meningkatkan nilai ekspor dan menambah pendapatan negara secara signifikan. Esther mencontohkan pengolahan nikel, sawit dan tembaga.
Esther juga menyoroti perlunya sentuhan inovasi dan teknologi. Penerapan teknologi modern dalam proses pengolahan, termasuk pembangunan fasilitas seperti smelter, hal tersebut dapat mendorong efisiensi operasional sekaligus meningkatkan kualitas hasil produksi. "Dengan demikian, hilirisasi tidak hanya menjadi proses industrialisasi, tetapi juga perjalanan menuju ekonomi yang lebih maju, adaptif, dan berkelanjutan," kata dia.
Esther juga optimistis hilirisasi nasional tahap II ini mampu memberikan dampak sosial. "Penciptaan kawasan industri di daerah tentu saja akan berdampak membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan petani/petambang, dan kesejahteraan masyarakat lokal," kata dia.

Presiden Prabowo Subianto saat groundbreaking 13 proyek hilirisasi nasional secara serentak di Cilacap Jawa Tengah, Rabu, 29 April 2026. Foto: dok Kementerian Sekretariat Negara.
Presiden minta hilirisasi harus adaptif
Menjawab pentingnya sentuhan inovasi, dalam seremoni groundbreaking proyek hilirisasi tahap II di Cilacap, Presiden menegaskan hilirisasi harus adaptif terhadap perkembangan teknologi dan terus dikaji, dengan keberanian untuk menyesuaikan rencana apabila tersedia teknologi yang lebih baik, lebih efisien, dan lebih menguntungkan bagi rakyat, sehingga setiap keputusan benar-benar berbasis perhitungan objektif dan memberi dampak optimal.
Secara terpisah, Direktur Program dan Kebijakan, Center for Policy Studies Prasasti Piter Abdullah menilai hilirisasi sebagai langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah komoditas yang selama ini diekspor dalam bentuk mentah. Ia mencontohkan kelapa yang kerap langsung dikirim ke luar negeri tanpa proses lanjutan memiliki nilai ekonomi terbatas.
"Hilirisasi itu ya sederhananya adalah upaya untuk meningkatkan nilai tambah," ujar dia.
Piter melihat percepatan pelaksanaan program hilirisasi dari fase awal hingga fase berikutnya sebagai sinyal positif. "Ini cukup agresif, karena sekali lagi hilirisasi ini sebuah proses panjang, bukan instan," kata dia.
Piter juga menilai konsistensi pemerintah dalam menjalankan tahapan tersebut menunjukkan keseriusan agar program ini memberikan dampak besar, mulai dari peningkatan penerimaan negara hingga penciptaan lapangan kerja.