Jelang Brasil vs Norwegia: Kuncinya di Erling Haaland

Grafik ilustrasi pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Brasil melawan Norwegia. Foto: ANTARA INFOGRAFIK/Vintan Rahmadanti.

Piala Dunia 2026

Jelang Brasil vs Norwegia: Kuncinya di Erling Haaland

Fachri Audhia Hafiez • 5 July 2026 09:37

Jakarta: Pertandingan 16 besar Piala Dunia 2026 antara Brasil dan Norwegia di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat, pada Senin, 6 Juli 2026, pukul 03.00 WIB, adalah kontes gol antara Erling Braut Haaland dan Vinicius Jr. Tetapi sebenarnya produktivitas Haaland masih di atas Vinicius. 

Dilansir Antara, Haaland sudah mencetak lima gol, sedangkan Vinicius mencetak empat gol. Meski begitu Vinicius mengungguli Halaand dalam peluang gol; 15 berbanding 13. Kedua pemain bersaing ketat menjadi pemain paling subur walau kinerja Haaland musim ini lebih baik ketimbang Vinicius.

Haaland memasukkan 35 gol untuk Manchester City, Vinicius menyumbangkan 21 gol bagi Real Madrid. Jika Vinicius cuma mencetak dua gol dari 18 laga kualifikasi Piala Dunia zona Amerika Selatan, maka Haaland mencetak 16 gol dari delapan pertandingan kualifikasi zona Eropa.
 



Tetap saja kontes adu subur antara kedua pemain itu dalam pertemuan kedua Brasil dengan Norwegia setelah Piala Dunia 1998 ketika Brasil kalah 1-2, menarik untuk diikuti.

Tapi pertandingan di MetLife Stadium itu juga sarat duel-duel individual menarik lain, khususnya berkaitan dengan Liga Premier, di mana masing-masing tujuh pemain kedua tim bermain di liga ini.

Di antara yang paling menarik adalah duel Haaland dengan bek tengah Gabriel Magalhaes, dan Casemiro melawan Martin Odegaard.

Haaland sudah delapan kali berduel dengan Gabriel dalam kompetisi Liga Inggris dari 2023 sampai 2026. Dari delapan pertemuan itu, Haaland masih bisa mencetak enam gol dan 2 assist walau ditempel ketat oleh Gabriel. Haaland menang tiga kali bersama City, Gabriel menang dua kali bersama Arsenal.

Duel lain terjadi di lapangan tengah ketika playmaker Martin Odegaard, bertemu jenderal lapangan tengah Brasil, Casemiro.

Odegaard sudah memberikan tiga assist untuk Norwegia, selain menjadi pemain Norwegia yang paling sering membuka ruang serang, menerima umpan dan melakukan pressing.

Sedangkan Casemiro menjadi pemain yang sering menjadi penyelamat tim, seperti saat Brasil mengalahkan Jepang pada 32 besar.

Casemiro dan Odegaard sudah tujuh kali berhadapan. Sekali ketika Real Sociedad bertemu Real Madrid dan enam kali ketika Arsenal bertemu Manchester United di Liga Inggris. Bentrok mereka di level klub bakal menjalar ke pertandingan 16 besar Piala Dunia ini.

Keunggulan sekaligus kelemahan

Sulit memprediksi siapa yang lebih baik kecuali statistik lama menjadi rujukan untuk mengukur perbedaan kelas di antara mereka. Tapi jika situasi terkini yang menjadi patokan, level Norwegia tak terlalu jauh dari Brasil, meski dari peringkat FIFA sangat senjang. Brasil di peringkat 5, Norwegia di 21.

Kesenjangan itu bisa dilihat dari produktivitas gol mereka. Norwegia sudah mencetak 10 gol, Brasil 9 gol. Walau Norwegia kalah telak 1-4 dari Prancis, laga itu sudah tak lagi melibatkan 11 pemain inti Norwegia yang melumat Irak dan Senegal di fase grup, dan lalu Pantai Gading pada 32 besar.

Separuh dari jumlah gol Norwegia itu dicetak oleh Haaaland. Rata-rata gol Haaland di Piala Dunia adalah 1,25 gol, sedangkan Vinicius rata-rata 1 gol.

Haaland diprediksi akan mencetak gol lagi ke gawang Brasil, karena punya asisten-asisten kreatif yang membuatnya bisa mencetak dalam keadaan apa pun dan tetap bisa memenangkan duel. Gabriel, dan Marquinhos sekaligus. Marquinhos pernah duel dengan Haaland ketika City berhadapan dengan Paris Saint Germain di Liga Champions.

Mungkin Haaland akan sesukses itu, tetapi Stale Solbakken yang melatih Norwegia harus tahu bahwa delapan gol yang bersarang ke gawang Orjan Nyland selama Piala Dunia ini, adalah kabar baik bagi Marquinhos cs karena bisa menciptakan skenario bahwa elemen-elemen serangan Tim Samba akan mudah membobol gawang Norwegia.

Solbakken harus lebih rapat lagi di tengah dan belakang, karena Norwegia bakal menghadapi gelombang serangan dari Brasil. Walau Haaland mungkin lebih hebat dari para penyerang yang dimiliki Brasil, Norwegia tak memiliki stok pemain haus gol sebanyak yang dimiliki tim asuhan Carlo Ancelotti.

Selain Vinicius, Brasil masih punya Matheus Cunha, Neymar, Endrick, Gabriel Martinell, Rayan, Igor Thiago, dan Raphina, sedangkan Norwegia hanya punya Haaland, Alexander Sorloth, dan Jorgen Strand Larsen.

Ketergantungan Norwegia kepada Haaland adalah senjata utama Solbakken, tapi juga kelemahan terbesar Norwegia. Menjadi kelemahan karena jika pasokan bola kepada striker tinggi besar nan cepat ini dirusak, maka Norwegia akan berantakan.


Ilustrasi. Foto: Dok. FIFA.

Faktor Martin Odegaard

Haaland akan mati kutu jika pemain yang memberinya assist dan membuka ruang bermanuver dimatikan oleh lawan. Dan pemain ini adalah Odegaard. Di sini, Brasil harus mematikan Odegaard sebelum bermanuver, menciptakan ruang, dan memberikan assist kepada Haaland.

Ini pastinya menjadi tugas trio gelandang tengah, Casemiro, Bruno Guimaraes dan Lucas Paqueta, yang semuanya sudah sering berhadapan dengan Odegaard di Liga Inggris. Casemiro dan Paqueta baru saja meninggalkan Manchester United dan West Ham, sedangkan Guimaraes masih bersama Newscastle.

Jika pemain-pemain ini bisa mematikan Odegaard, maka pabrik gol Norwegia bakal lumpuh karena kehabisan bahan bakar.

Tapi Solbakken punya senjata cadangan jika Haaland dan Odegaard dimatikan. Dia akan menugaskan gelandang bertahan Sander Berge untuk melepaskan umpan-umpan langsung ke depan, atau kiper Orjan Nyland untuk mengirim umpan langsung ke sepertiga akhir lapangan dengan tujuan utama Haaland.

Dengan 198 umpan, Berge adalah pemberi umpan terbanyak Norwegia, sedangkan Nyland menjadi penerebos rapatnya sektor tengah, dengan umpan-umpan jauh dari depan gawang Norwegia, yang sudah 89 kali dia lakukan dengan 54 di antaranya efektif.

Fakta itu menunjukkan Solbaken benar-benar memanfaatkan keunggulan postur dan kecepatan Haaland. Tapi itu membuat Norwegia menjadi tim yang lumpuh tanpa Haaland. Buktinya ketika Halaand tak masuk skuad, Norwegia dibantai Prancis 1-4.

Haaland  bisa cemerlang karena adanya playmaker jenius seperti Odegaard dan pemain-pemain lain yang sama cepat dan tinggi seperti Haaland, apalagi rata-rata tinggi pemain Norwegia melebihi Brasil; 187,2 cm berbanding 182,8 cm.

Semua itu menunjukkan faktor Haaland akan sangat kuat dalam laga ini. Bahkan akhir pertandingan ditentukan oleh bagaimana Norwegia mengelola Haaland, dan bagaimana Brasil melumpuhkan Haaland.

Jika Brasil berhasil mematikan aliran bola kepada Haaland, maka merekalah yang menghadapi Inggris atau Meksiko di perempat final. Tapi jika gagal, Brasil akan mengalami periode terburuk dalam kurun 32 tahun terakhir, gagal mencapai perempat final Piala Dunia.

(Fachri Audhia Hafiez)