Kebakaran TPA Jatiwaringin Belum Padam, BNPB Terapkan Sistem Inject

Kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Istimewa

Kebakaran TPA Jatiwaringin Belum Padam, BNPB Terapkan Sistem Inject

Lukman Diah Sari • 3 July 2026 09:22

Tangerang: Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, di Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, belum padam sejak Selasa, 29 Juni 2026. Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB Brigjen Djohan Darmawan mengatakan, saat ini akan melakukan sistem inject untuk memadamkan api. 

Djohan mengatakan, sistem inject yakni memasukan pipa ke dalam tumpukan sampah di sejumlah titik api di TPA Jatiwaringan. Sehingga, api bisa segera padam dari dalam. 

"Titik api sudah tidak terlalu banyak, dimungkinkan ada tumpukan sampah di bawah-bawah masih hidup, kayak lahan gambut," ujar Djohan dalam siaran Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Jumat, 3 Juli 2026. 

Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB Brigjen Djohan Darmawan. (tangkapan layar)

Dia mengungkap tim dari Kementerian Lingkungan Hidup serta Manggala Agni turun melakukan pengecekan dan penangan kebakaran TPA Jatiwaringin. Selain itu, tim dari BNPB, BPBD setempat, dan pemerintah daerah pun terus berusaha untuk melakukan pemadaman api. 

"Kemarin sore, pukul 17.30, kami dengan Manggala Agni mengecek langsung titik yang perlu penanganan langsung, hasilnya ada beberapa titik yang perlu ditindaklanjuti," kata dia. 

Kebakaran TPA Jatiwaringin Dipastikan Tidak Meluas

Sementara itu, Djohan memastikan kebakaran di TPA Jatiwaringin tidak meluas. Menurut dia, arah angin berpengaruh dengan lokasi yang tebakar, 

"Karena ini angin dari barat ke timur dan timur ke barat, jadi bekas terbakar, terbakar lagi. Jadi tidak meluas," kata Djohan. Dia mengungkap, saat ini petugas pemadam kebakaran terus siaga di beberapa titik api. Kemudian, eskavator dikerahkan untuk membuka jalan dan mengurai sampai diduga ada lokasi api, untuk bisa memadamkan kebakaran.

"Kendala lain, tadi disampaikan ketinggian hampir 20-30 meter, dari rekan pemadam tidak bisa menembus ke puncak, makanya kita gunakan water bombing," jelas dia.

(Lukman Diah Sari)