Sedikitnya tiga orang terluka dalam 51 serangan pembakaran dan ledakan yang terjadi secara terkoordinasi di Thailand selatan. (Anadolu Agency)
Thailand Selatan Diguncang 51 Serangan Terkoordinasi, 3 Orang Terluka
Willy Haryono • 23 August 2026 20:35
Bangkok: Sedikitnya tiga orang terluka dalam rangkaian 51 serangan pembakaran dan peledakan yang terjadi secara terkoordinasi di sejumlah wilayah Thailand selatan pada Sabtu malam.
Komando Operasi Keamanan Dalam Negeri Thailand (ISOC) mengatakan serangkaian serangan tersebut menargetkan kantor pemerintah daerah, kendaraan, serta sejumlah fasilitas lainnya di provinsi-provinsi perbatasan selatan.
"Sejumlah insiden terkoordinasi yang bertujuan menciptakan keresahan terjadi di berbagai lokasi di provinsi perbatasan selatan," kata ISOC dalam pernyataan yang dikutip Al Jazeera, Minggu, 23 Agustus 2026.
Serangan berlangsung sekitar pukul 20.00 hingga tengah malam waktu setempat atau sekitar pukul 13.00 hingga 17.00 GMT.
Sebagian besar serangan terjadi di Provinsi Narathiwat. Tiga warga sipil terluka dalam sebuah ledakan di pinggir jalan, sementara sejumlah kantor pemerintah dan kendaraan mengalami kerusakan atau terbakar.
Ketiga korban terdiri dari dua perempuan berusia 45 dan 46 tahun serta seorang pria berusia 21 tahun. Mereka telah dibawa ke rumah sakit dan berada dalam kondisi stabil.
Otoritas juga memberlakukan jam malam di Narathiwat setelah serangkaian serangan tersebut.
Rekaman televisi lokal Thai PBS menunjukkan petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan ban yang dibakar dan diletakkan di tengah jalan serta api yang membakar sebuah gerai 7-Eleven. Polisi juga melakukan pemeriksaan terhadap pengendara di sejumlah lokasi.
Serangan turut terjadi di Provinsi Yala dan Pattani.
Jalur Kereta Rusak
Operator kereta api nasional Thailand untuk sementara menghentikan sebagian perjalanan di Narathiwat setelah menemukan kerusakan pada jalur yang disebut disebabkan oleh ledakan.Di salah satu lokasi, sebuah kendaraan dicuri dari kantor organisasi administrasi tingkat kecamatan di Narathiwat sebelum kantor tersebut dibakar. Kendaraan pikap yang telah terbakar kemudian ditemukan ditinggalkan di sebuah jalan.
Gubernur Narathiwat Boonchuay Homyamyen mengatakan aparat terkait masih menyelidiki lokasi-lokasi serangan pada Minggu, termasuk kantor pemerintah daerah, menara telekomunikasi, dan tiang listrik.
Komandan militer Thailand untuk wilayah selatan, Norathip Poinok, mengatakan pelaku diduga bertujuan menghancurkan fasilitas pemerintah dan melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap negara.
Menurutnya, aparat telah menerima informasi intelijen selama sekitar dua bulan mengenai kemungkinan serangan terhadap kantor-kantor pemerintah daerah.
"Kami menerima laporan intelijen selama sekitar dua bulan bahwa akan terjadi serangan terhadap kantor-kantor lokal," kata Norathip.
Namun, ia mengatakan aparat tidak mengetahui secara pasti kapan dan di mana serangan akan dilakukan. Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas rangkaian serangan tersebut.
Konflik Separatis Thailand Selatan
Thailand selatan telah mengalami konflik berkepanjangan sejak 2004. Pemberontak di wilayah yang mayoritas penduduknya Muslim tersebut menuntut otonomi yang lebih besar dari pemerintah Thailand yang mayoritas penduduknya beragama Buddha.Konflik di provinsi paling selatan Thailand telah menewaskan lebih dari 7.000 orang sejak 2004.
Pemberontak secara berkala menyerang aparat keamanan dan fasilitas pemerintah. Pada bulan lalu, lima tentara tewas dalam serangan penembakan dan bom di sebuah pos pemeriksaan di Narathiwat.
Di tengah meningkatnya kekerasan, pemerintah Thailand dan Barisan Revolusi Nasional (BRN), kelompok separatis utama di wilayah tersebut, berupaya melanjutkan proses perdamaian.
Perundingan sempat dijadwalkan kembali pada Juni, tetapi proses tersebut masih menghadapi perbedaan mengenai pemerintahan sendiri, langkah-langkah keamanan, dan keterwakilan politik.
Pekan ini, Kepala Badan Intelijen Nasional Thailand Thanut Suvarnananda mengatakan dirinya ingin mengubah pendekatan pemerintah dalam proses perdamaian.
Thanut mengatakan pemerintah perlu melihat BRN bukan hanya sebagai lawan, tetapi juga sebagai calon mitra dalam menyelesaikan tuntutan masyarakat di wilayah selatan, khususnya Pattani, Yala, dan Narathiwat.
Sementara itu, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dan sejumlah anggota kabinet dijadwalkan mengunjungi Hat Yai, Provinsi Songkhla, pekan depan untuk membahas investasi, pencegahan banjir, serta isu keamanan.
Baca juga: Aksi Teror Kelompok Separatis di Thailand, 7.300 Tewas