Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Rerie). Foto: Istimewa
Peningkatan Angka Partisipasi Kerja Penyandang Disabilitas Butuh Langkah Nyata
Muhamad Marup • 6 August 2026 23:53
Jakarta: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Rerie) mengatakan, butuh langkah konkret dan kolaboratif untuk mengatasi kesenjangan angka partisipasi kerja bagi penyandang disabilitas. Menurutnya, regulasi saja tidak cukup untuk mengatasi hal tersebut.
"Butuh langkah konkret dan kolaboratif untuk mengatasi kendala yang ada," kata Rerie, dalam keterangan resminya, Kamis, 6 Agustus 2026.
Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dalam Global Disability Summit 2025 menyebut, tingkat partisipasi angkatan kerja penyandang disabilitas di dunia masih sekitar 30 persen. Angka tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan kelompok nondisabilitas.
Dari sisi regulasi, pemerintah terus memperkuat perlindungan melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Ketentuan tersebut juga diperkuat melalui Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 8 Tahun 2026 tentang Pemberian Penghargaan dalam Penghormatan, Pelindungan, dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas.
Menurut Lestari, saat ini realisasi di lapangan dari sejumlah kebijakan yang dibuat menjadi penting. Kuota bekerja bagi penyandang disabilitas yang diamanatkan UU Nomor 8 Tahun 2016 harus dipatuhi dan direalisasikan secara konsisten.
"Ini adalah bagian dari upaya mewujudkan inklusivitas dan pembangunan yang merata," jelas Rerie.
Rerie yang juga Anggota Komisi X DPR RI itu menegaskan bahwa sanksi dan penghargaan, seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 8 Tahun 2026, harus benar-benar efektif untuk mendorong kepatuhan.
Kolaborasi Dibutuhkan untuk Mengatasi Hambatan
Rerie menegaskan bahwa regulasi saja tidak cukup jika hambatan struktural dan sosial masih tinggi. Setidaknya, jelas Rerie, ada sejumlah hambatan yang harus segera diatasi untuk mengatasi kesenjangan yang dihadapi penyandang disabilitas dalam mendapatkan pekerjaan.Hambatan itu, ujar Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, antara lain masih adanya anggapan bahwa penyandang disabilitas kurang produktif. Padahal, tambah Rerie, produktivitas dapat setara jika penyandang disabilitas diberikan akomodasi yang layak.
Selain itu, jelas dia, kurangnya pelatihan vokasional yang sesuai kebutuhan industri dan tingkat pendidikan yang masih rendah juga masih menjadi hambatan. Rerie berpendapat bahwa infrastruktur yang ada saat ini belum ramah bagi penyandang disabilitas, seperti lingkungan kerja fisik dan digital yang belum sepenuhnya aksesibel, termasuk sistem rekrutmen daring yang tidak mendukung kebutuhan spesifik, seperti pembaca layar bagi tunanetra atau bahasa isyarat bagi tunarungu.
"Dengan kondisi yang dihadapi saat ini, dibutuhkan kolaborasi nyata antara sektor pendidikan, bisnis, pemerintahan, dan masyarakat agar tidak ada lagi kesenjangan dalam kesempatan bekerja bagi setiap warga negara, termasuk bagi penyandang disabilitas," tuturnya.
Fasilitasi Siswa Penyandang Disabilitas
Sementara itu, melalui program corporate social responsibility PELITA, PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (MSIG Life) mendampingi 20 siswa mempersiapkan diri sebelum terjun ke dunia kerja. Para siswa berasal dari SLB Nurasih, SLBN 01 Jakarta, dan SLB Santi Rama.Melalui program bertema "My Story, My Future" yang memperingati Hari Anak Nasional 2026, MSIG Life mempertemukan para siswa dengan karyawan serta mitra tenaga pemasar yang tergabung dalam Million Dollar Round Table (MDRT) Alpha Circle. Setiap berdiskusi dengan seorang Dream Partner sepanjang hari menggunakan bahasa isyarat, dan menutup kegiatan dengan membuat satu rencana masa depan.
"Melalui kegiatan ini mereka mengenal dunia kerja lebih dekat, menuliskan cita-citanya, dan pulang membawa langkah awal untuk mencapainya. Suatu hari nanti, giliran merekalah yang memberikan inspirasi bagi orang lain," kata CEO & Presiden Direktur MSIG Life, Wianto Chen.

Program PELITA MSIG Life. Foto: Istimewa
Di luar kegiatan ini, MSIG Life juga menjalankan prinsip kesempatan yang setara (equal opportunity) dalam proses rekrutmen, tanpa memandang gender, agama, etnis, suku, maupun ras. Sejak 2023, karyawan penyandang disabilitas telah menjadi bagian dari tim kanal distribusi perusahaan sebagai pegawai tetap.
"Setiap karyawan di MSIG Life memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkarier, termasuk penyandang disabilitas," terangnya.