Kabut Asap Karhutla Selimuti Kota Palembang, Warga Diimbau Gunakan Masker

Ilustrasi Kabut asap di Kotawaringin Timur. (Metro TV/Akhmaddiannor)

Kabut Asap Karhutla Selimuti Kota Palembang, Warga Diimbau Gunakan Masker

Jian Piere Papin • 12 August 2026 13:26

Palembang: Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah Provinsi Sumatra Selatan kini mulai berdampak pada warga Palembang. Aktivitas masyarakat mulai terganggu, dan banyak yang terpaksa menggunakan masker saat keluar rumah untuk menghindari partikel debu yang mengganggu pernapasan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mencatat 1.077 kejadian karhutla dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 1.329 hektare. Sebanyak 11 kabupaten di Sumsel masuk dalam zona merah.

Akibat kebakaran lahan yang masih terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir (OI), Musi Banyuasin (Muba), dan Banyuasin, Kota Palembang dalam beberapa hari terakhir mulai dikepung kabut asap.

Lantaran kabut asap semakin pekat pada pagi hari, aktivitas warga mulai terganggu hingga terpaksa harus mengenakan masker saat beraktivitas keluar rumah. Hal itu untuk mencegah menghirup debu-debu kecil partikel kebakaran lahan yang bisa masuk ke jalur pernapasan dan menyebabkan penyakit ISPA atau infeksi saluran pernapasan akut.
 


Tebalnya kabut asap di wilayah seperti Kecamatan Kertapati, Jakabaring, dan Kecamatan Sukarami Palembang membuat warga berharap agar pemerintah bisa menangani karhutla sehingga aktivitas warga baik di pagi hingga malam hari tidak lagi terganggu.

"Kabut asap ini ganggu nafas karena debu. Mengganggu kita karena sering masuk nafas," ujar Sri, warga Palembang, Rabu, 12 Agustus 2026.

Hingga saat ini, satgas gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, BPBD, serta TNI-Polri masih melakukan upaya pemadaman di titik-titik lokasi karhutla dengan menggunakan helikopter water bombing. Namun, lokasi dekat sumber api yang tidak ada air atau kekeringan menyulitkan pemadaman melalui helikopter.


Kabut asap di Kotawaringin Timur. (Metro TV/Akhmaddiannor)

Berdasarkan data dari BMKG, kebakaran lahan di Sumsel kuat diduga dipicu oleh badai panas El Nino dengan puncak kemarau pada bulan Agustus hingga September. Warga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla.

Masyarakat diimbau untuk tidak membakar lahan dan segera melapor jika melihat titik api. Pemerintah daerah terus berupaya melakukan pemadaman dan sosialisasi untuk mencegah meluasnya kebakaran.

(Whisnu M)