Pelaku Industri Optimistis Penguatan Galangan Kapal Dukung Visi Maritim RI

Ilustrasi. Foto: dok istimewa.

Pelaku Industri Optimistis Penguatan Galangan Kapal Dukung Visi Maritim RI

Ade Hapsari Lestarini • 16 July 2026 14:58

Jakarta: Ketua Umum Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan penguatan industri galangan kapal nasional merupakan salah satu prasyarat utama untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim yang berdaulat.

 
Menurut Carmelita, industri galangan memiliki karakteristik yang berbeda dengan industri pada umumnya. Galangan merupakan industri padat modal, padat karya, membutuhkan investasi jangka panjang dengan waktu balik modal yang relatif lama, serta harus memenuhi berbagai standar keselamatan dan klasifikasi internasional. 
 
Untuk itu, sambung Carmelita, pengembangan industri galangan memerlukan dukungan kebijakan yang berkesinambungan agar mampu bersaing dengan negara-negara lain seperti Tiongkok dan Korea Selatan yang memberikan keberpihakan kuat terhadap sektor tersebut. 
 
Dia menilai, Presiden Prabowo telah menunjukkan komitmen dan political will yang kuat dalam membangun industri galangan nasional. Hanya saja, komitmen tersebut perlu diimplementasikan ke dalam kebijakan yang benar-benar mendukung galangan nasional.
 
“Political will pemerintah sudah terlihat. Tantangannya sekarang adalah implementasi menjadi kebijakan yang mampu menjawab persoalan riil yang dihadapi industri galangan, mulai dari bahan baku hingga pembiayaan,” ujar dia.

 

Fondasi menjaga kemandirian industri maritim

 
Ketua Umum Institusi Perkapalan dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO), Anita Puji Utami, membenarkan jika industri galangan kapal bersifat padat karya, padat modal, dan padat teknologi sehingga keberlangsungan industri ini sangat bergantung pada kepastian pasar, dukungan pembiayaan, serta keberpihakan kebijakan pemerintah.
 
Menurut dia, industri galangan kapal juga membutuhkan berbagai insentif fiskal, peningkatan penggunaan komponen dalam negeri (TKDN), serta perlindungan terhadap praktik persaingan usaha yang tidak sehat.
 
"Jika kapal-kapal tersebut dibangun di galangan nasional, maka manfaat ekonominya akan berputar di dalam negeri. Industri baja, mesin, kelistrikan, komponen kapal, jasa rekayasa hingga ribuan tenaga kerja akan ikut bergerak. Ekosistem industri perkapalan akan tumbuh, kesejahteraan masyarakat meningkat, dan pertumbuhan ekonomi nasional ikut terdorong," jelas dia.
 
Ia menambahkan, sejumlah negara seperti Filipina, Malaysia, Thailand, dan Vietnam telah lebih dahulu memberikan berbagai insentif bagi industri galangan kapal maupun perusahaan pelayaran yang membangun kapal di dalam negeri melalui insentif perpajakan, kemudahan pembiayaan, hingga bunga kredit perbankan yang kompetitif sehingga mampu meningkatkan daya saing industri perkapalan mereka.
 
Meski demikian, Anita menegaskan pelaku industri nasional juga harus terus berbenah. Transformasi melalui modernisasi fasilitas produksi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, digitalisasi proses produksi, efisiensi biaya, serta penguasaan teknologi kapal yang ramah lingkungan harus menjadi agenda bersama agar industri galangan Indonesia semakin kompetitif di pasar global.
 
Menurut Anita, keberpihakan dan perhatian nyata pemerintah melalui kemudahan berusaha, dukungan pembiayaan, serta kebijakan yang kondusif merupakan harapan seluruh pelaku industri perkapalan nasional agar dapat terus tumbuh dan berkembang.
 
"Industri galangan kapal yang sehat dan kuat akan menjadi fondasi penting dalam menjaga kemandirian industri maritim, mendukung kesiapan transportasi laut nasional, sekaligus memperkuat ekosistem logistik nasional," ujar Anita.

(Ade Hapsari Lestarini)