Pengecekan tempah dedodo atau tempat sampah yang saat ini sedang digencarkan Pemerintah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebagai solusi penanganan sampah mulai dari sumber. ANTARA/Nirkomala.
Hotline Penanganan Sampah Segera Hadir di Mataram
Silvana Febiari • 22 July 2026 17:57
Mataram: Pemerintah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), segera menghadirkan layanan hotline untuk mempercepat penanganan sampah. Layanan tersebut mempermudah pengolahan sampah dari tingkat rumah tangga.
Layanan terpadu tersebut disiapkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram untuk mendukung efektivitas program Tempah Dedoro. Program ini merupakan fasilitas pengolahan sampah organik berbasis masyarakat di tingkat rumah tangga.
"Layanan itu, sebagai komitmen kuat kami untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) dengan memilah dan mengolah sampah dari sumber atau mulai dari tingkat rumah tangga," kata Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana, dilansir dari Antara, Rabu, 22 Juli 2026.
Jika kompos dari Tempah Dedoro tidak dimanfaatkan warga, DLH akan membantu mengangkutnya. Kompos kemudian didistribusikan untuk memupuk tanaman di ruang terbuka hijau (RTH) Kota Mataram.
Program Tempah Dedoro yang diluncurkan sejak Januari 2026 disiapkan sebagai program stimulan. Pemerintah berharap program ini dapat direplikasi secara luas dan mandiri oleh masyarakat.

Pengecekan tempah dedodo atau tempat sampah yang saat ini sedang digencarkan Pemerintah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebagai solusi penanganan sampah mulai dari sumber. ANTARA/Nirkomala.
Kepala DLH Kota Mataram H. Nizar Denny Cahyadi mengatakan sistem pengolahan sampah organik melalui Tempah Dedoro dinilai efektif. Dari 1 ton sampah organik, metode tersebut dapat menghasilkan sekitar tiga karung kompos dengan berat masing-masing sekitar 25 kilogram.
Apabila program tersebut dilakukan secara masif tahun 2026, maka 2027 volume sampah di Kota Mataram yang dibuang ke TPA akan turun drastis hingga 60 persen. "Apalagi tahun depan, TPST Kebon Talo Ampenan juga ditargetkan mulai beroperasi," ucapnya.
Denny menambahkan, sistem pengolahan sampah tersebut menggunakan buis beton yang dilengkapi penutup dan lubang untuk memasukkan sampah organik. Melalui wadah itu, masyarakat dapat mengolah sampah organik secara mandiri di rumah maupun lingkungan masing-masing.