Ilustrasi bencana longsor. Foto: Dok. Kemensos.
Tanah Longsor Jadi Bencana Paling Mematikan Sepanjang 2025
Atalya Puspa • 1 January 2026 18:57
Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lonjakan signifikan kejadian tanah longsor sepanjang 2025, baik dari sisi frekuensi maupun dampak korban jiwa. Bahkan, tanpa memperhitungkan kejadian Siklon Sinyar, tanah longsor menjadi bencana paling mematikan di Indonesia sepanjang tahun ini.
Kepala Pusat Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengungkapkan, peningkatan tersebut terlihat dari rangkaian peristiwa longsor besar yang terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. “Sekiranya tidak ada Siklon Sinyar, maka tanah longsor adalah kejadian paling mematikan sepanjang tahun 2025,” kata Abdul dikutip dari Media Indonesia, Kamis, 1 Januari 2026.
BNPB mencatat, longsor besar terjadi beruntun sejak awal tahun. Pada Januari 2025, longsor di Petungkriyono, Pekalongan, menewaskan 25 orang.
Pada Maret, longsor di Sukabumi merenggut sembilan jiwa. Lalu, April, longsor di Mojokerto menyebabkan 10 orang meninggal dunia.
Tragedi berlanjut pada Mei di Gunung Kuda, tambang pasir di Jawa Barat, dengan korban 21 jiwa. Kemudian, longsor di Pegunungan Arfak, Papua Barat, yang menewaskan 16 orang.
Pada bulan tersebut, longsor di Cilacap menewaskan 21 orang, disusul Banjarnegara dengan 17 korban meninggal dan 11 orang masih hilang. Di Papua, longsor di Induga bahkan menelan 23 korban jiwa dan 15 orang hilang.
Menurut BNPB, tingginya korban tidak semata dipicu hujan ekstrem. Namun, dipengaruhi penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan.
.jpg)
Bencana longsor di Cilacap, Jateng. Foto: BPBD Cilacap.
“Kondisi-kondisi kelerengan ini sudah mulai sangat rentan, sehingga kita harus melihat ulang tata ruang dan peruntukan lahan agar kejadian tanah longsor ini tidak berulang dan intensitasnya makin tinggi,” tegas Abdul.
Ia menekankan, pengurangan risiko longsor harus menjadi fokus utama kesiapsiagaan nasional ke depan. “Selain banjir, kita sudah harus menaruh atensi yang sangat tinggi, sangat fokus pada pengurangan potensi kejadian tanah longsor,” ujar Abudl.