Ketua Umum Ikadim Jazuli Juwaini. Istimewa
Fondasi Kepemimpinan Mesti Berorientasi pada Kesejahteraan Masyarakat
Whisnu Mardiansyah • 1 January 2026 15:41
Jakarta: Menutup akhir tahun, Ikatan Doktor Ilmu Manajemen (IKADIM) bekerja sama dengan Amanah Human Capital (AHC) menggelar Webinar Nasional Happiness Leadership.
Kegiatan mengangkat tema “Memimpin SDM di Era Penuh Tekanan dan Ketidakpastian”, sebagai ikhtiar menggugah kesadaran akan pentingnya kepemimpinan yang membahagiakan dan menyejahterakan.
Ketua Umum IKADIM Jazuli Juwaini mengatakan IKADIM bersama AHC mengambil peran strategis menyebarkan nilai kebahagiaan melalui praktik kepemimpinan beretika dan berorientasi pada kesejahteraan manusia.
“Pemimpin sejati adalah mereka yang memberi teladan, memiliki tujuan yang jelas, memberdayakan, memotivasi kemajuan, dan menyejahterakan yang dipimpinnya baik karyawan, masyarakat, maupun bangsa,” ujar Jazuli Juwaini, Kamis, 1 Januari 2026.
Ketua Umum IKADIM periode 2025–2030 ini menekankan kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah yang menuntut tanggung jawab penuh untuk membahagiakan orang lain. Ia mengutip Hadits Nabi Muhammad SAW tentang pemimpin yang saling mencintai dan mendoakan.
“Kita berharap dan berdoa pemimpin bangsa ini benar-benar mencintai rakyatnya dan dicintai rakyatnya, karena di sanalah ada ketulusan, keikhlasan, kesabaran, dan tanggung jawab sejati. Doa yang sama untuk kita semua para pemimpin di levelnya masing-masing,” ujarnya.
Sementara itu, Pakar SDM dan Asesor BNSP Dr Dingot Hamonangan Ismail menguraikan kebahagiaan yang langgeng dan berkualitas dibangun di atas sembilan pilar utama. Antara lain iman dan takwa, zikir, pikir, sabar, syukur, serta keluarga atau tim yang bahagia.
“Pemimpin yang sadar akan hal ini akan terus berkarya, mewariskan legacy, dan mencetak kader,” jelasnya.
Dari perspektif korporasi, Dr Baskara Agung Wibawa memaparkan realitas kepemimpinan di dunia usaha yang kerap dihadapkan pada karyawan yang tidak bahagia. Menurutnya, pemimpin memiliki peran kunci untuk menghadirkan kebahagiaan dengan menjadi sosok yang melindungi dan memberi rasa aman.
Adapun Dr Sri Sundari menekankan inti kebahagiaan terletak pada kesadaran akan rahmat Tuhan yang melekat dalam diri setiap manusia.
“Akar kebahagiaan bersifat internal dan harus terus ditumbuhkan sepanjang hayat,” tutur Pejabat di lingkungan Sekretariat DPD RI ini.