Intelijen AS Ragukan Kerja Sama Presiden Interim Venezuela dengan Trump

Presiden interim Venezuela Delcy Rodriguez. (EPA / Miguel Gutierrez)

Intelijen AS Ragukan Kerja Sama Presiden Interim Venezuela dengan Trump

Muhammad Reyhansyah • 28 January 2026 13:26

Washington: Laporan intelijen Amerika Serikat (AS) menimbulkan keraguan mengenai kesediaan Presiden Interim Venezuela Delcy Rodríguez untuk bekerja sama dengan pemerintahan Presiden Donald Trump, khususnya terkait tuntutan Washington agar Caracas secara resmi memutus hubungan dengan negara-negara yang dianggap sebagai musuh AS.

Empat sumber yang mengetahui isi laporan tersebut mengatakan penilaian intelijen menyebut belum jelas apakah Rodríguez sepenuhnya mendukung strategi AS di Venezuela. Para sumber berbicara dengan syarat anonim mengingat sensitivitas informasi tersebut.

Sejumlah pejabat AS secara terbuka menyatakan keinginan agar pemerintahan interim Venezuela memutus hubungan dengan sekutu dekatnya seperti Iran, Tiongkok, dan Rusia, termasuk dengan mengusir diplomat dan penasihat dari negara-negara tersebut. Namun hingga kini, Rodríguez belum mengumumkan langkah semacam itu secara terbuka.

Upacara pelantikan Rodríguez awal bulan ini justru dihadiri perwakilan dari negara-negara tersebut. Ia menjabat sebagai presiden interim setelah Amerika Serikat menangkap mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada 3 Januari.

Direktur Central Intelligence Agency (CIA) John Ratcliffe dilaporkan mengunjungi Caracas pada 15 Januari dan bertemu dengan Rodríguez untuk membahas masa depan politik Venezuela. Reuters tidak dapat memastikan apakah pertemuan tersebut mengubah penilaian lembaga intelijen AS.

Baik CIA maupun pemerintah Venezuela tidak menanggapi permintaan komentar terkait laporan ini. Seorang pejabat senior pemerintahan Trump mengatakan presiden AS “terus menggunakan tekanan maksimum” terhadap para pemimpin Venezuela dan “mengharapkan kerja sama itu berlanjut.”

Taruhan Strategis AS di Venezuela

Menurut laporan AsiaOne, Rabu, 28 Januari 2026, Washington berupaya membatasi pengaruh para rivalnya di Belahan Barat, termasuk di Venezuela. Trump disebut ingin memanfaatkan cadangan minyak besar Venezuela, negara anggota OPEC, sebagai bagian dari strategi geopolitiknya.

Jika Rodríguez memutus hubungan dengan sekutu AS, langkah tersebut dinilai dapat membuka peluang lebih luas bagi investasi Amerika Serikat di sektor energi Venezuela. Sebaliknya, kegagalan mengendalikan arah kebijakan Rodríguez dikhawatirkan melemahkan upaya Washington untuk mengarahkan pemerintahan interim dari jarak jauh dan meningkatkan risiko keterlibatan militer AS yang lebih dalam.

CIA sebelumnya menilai bahwa pejabat-pejabat yang loyal kepada Maduro, termasuk Rodríguez, berada pada posisi terbaik untuk memerintah Venezuela pasca-penggulingan pemimpin lama tersebut. Namun, kritik terhadap strategi ini muncul dari sejumlah pihak yang meragukan kebijakan mempertahankan loyalis Maduro sebagai pemimpin sementara.

Dua sumber menyebut keraguan terhadap keandalan Rodríguez bahkan telah muncul sebelum operasi militer AS dilakukan.

Bagi Venezuela, tuntutan Amerika Serikat berarti meninggalkan sekutu-sekutu terdekatnya di luar kawasan. Iran selama ini membantu memperbaiki kilang minyak Venezuela, Tiongkok menerima pasokan minyak sebagai pembayaran utang, sementara Rusia memasok persenjataan, termasuk rudal, kepada militer Venezuela.

Trump juga menyebut Kuba sebagai musuh lain yang ingin diputus hubungannya oleh Caracas, mengingat Havana menyediakan dukungan keamanan dan intelijen dengan imbalan minyak murah dari Venezuela.

Strategi AS Tetap Fleksibel

Sejak Maduro disingkirkan, Rodríguez yang memiliki hubungan kuat dengan sektor minyak dan dianggap penting bagi stabilitas negara telah mengambil sejumlah langkah untuk menjaga hubungan dengan Washington. Di antaranya membebaskan tahanan politik serta mengizinkan penjualan antara 30 juta hingga 50 juta barel minyak ke Amerika Serikat.

Namun dalam pidatonya pada Minggu, Rodríguez mengatakan dirinya sudah “cukup” dengan campur tangan Amerika Serikat. Meski demikian, dua sumber menyebut pejabat AS juga melakukan pembicaraan yang dinilai positif dengan Rodríguez dalam beberapa hari terakhir.

Menurut dua sumber lainnya, pemerintahan Trump belum melihat alternatif langsung selain terus bekerja sama dengan Rodríguez, mengingat dukungan publik Washington terhadapnya sudah sangat kuat.

Meski begitu, seorang sumber yang memahami kebijakan AS menyebut pejabat Amerika Serikat tengah menjalin kontak dengan perwira militer dan keamanan senior sebagai langkah antisipasi jika pendekatan perlu diubah.

Machado Dinilai Opsi Jangka Panjang

Laporan intelijen terbaru juga menyebut tokoh oposisi María Corina Machado saat ini belum dinilai mampu memimpin Venezuela secara efektif. Penilaian tersebut didasarkan pada minimnya hubungan Machado dengan aparat keamanan dan sektor minyak negara itu.

Sejumlah pengamat dan pendukung Machado menyatakan gerakannya memenangkan pemilu 2024 dengan selisih besar, meski negara menyatakan Maduro sebagai pemenang. Machado tetap memiliki tingkat popularitas tinggi di kalangan warga Venezuela.

Trump pekan lalu mengatakan ia ingin Machado “terlibat” dalam kepemimpinan negara, tanpa merinci bentuk perannya. Seorang sumber yang mengetahui pembicaraan antara pemerintahan AS dan Machado menyebut ia dipandang positif oleh Gedung Putih dan dianggap sebagai opsi kepemimpinan jangka panjang.

Sumber lain menyebut Machado saat ini dipertimbangkan untuk peran penasihat, meski belum ada keputusan final. Perwakilan Machado tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Baca juga:  Trump Sambut Baik Pembebasan Tahanan Politik di Venezuela

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)