Lembaga pelatihan psikologi korporasi Cerita Jiwa Training Center. Foto: Dok istimewa
Program Pengembangan SDM Bantu Tingkatkan Produktivitas Perusahaan
Eko Nordiansyah • 15 May 2026 15:32
Jakarta: Di tengah dinamika dunia kerja yang semakin kompleks dan penuh tekanan, lembaga pelatihan psikologi korporasi Cerita Jiwa Training Center membantu perusahaan membangun lingkungan kerja yang lebih aman, sehat, dan manusiawi. Upaya ini dilakukan melalui program pelatihan berbasis evidence-based.
Sebagai lembaga training psikologi B2B berizin resmi, Cerita Jiwa Training Center menghadirkan berbagai program pengembangan sumber daya manusia yang dirancang untuk meningkatkan kesehatan mental, kualitas komunikasi, hingga efektivitas kepemimpinan di lingkungan kerja. Program-program tersebut ditujukan untuk seluruh level organisasi, mulai dari staf, supervisor, manajer, hingga jajaran eksekutif dan C-suite.
Direktur sekaligus trainer Cerita Jiwa Training Center, Widya Khrisanti Montoliang mengatakan, kesehatan mental dan budaya kerja kini menjadi bagian penting dalam strategi perusahaan modern. Ia percaya bahwa investasi dalam kesehatan mental dan budaya kerja bukan lagi pilihan, melainkan keharusan strategis.
“Program-program ini dikembangkan berdasarkan temuan riset psikologi industri terkini dan telah terbukti memberikan dampak terukur terhadap produktivitas tim, retensi karyawan, serta penguatan citra organisasi sebagai tempat kerja yang peduli kesejahteraan mental,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat, 15 Mei 2026.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Program pelatihan terintegrasi
Cerita Jiwa Training Center membangun program pelatihan berdasarkan empat pilar utama yang saling terintegrasi. Pilar pertama adalah regulasi emosi dan self-mastery. Program ini membantu karyawan memahami pemicu emosi, mengembangkan strategi coping yang adaptif, serta menjaga performa kerja dalam situasi penuh tekanan.Pilar kedua yakni psychological safety atau rasa aman secara psikologis di lingkungan kerja. Konsep ini dinilai penting untuk menciptakan budaya kerja yang terbuka, kolaboratif, dan inovatif, di mana anggota tim dapat menyampaikan ide maupun kritik tanpa rasa takut.
Pilar ketiga menitikberatkan pada healthy communication melalui pendekatan komunikasi berbasis empati, active listening, dan constructive feedback untuk memperkuat kepercayaan antarindividu di dalam organisasi. Sementara pilar keempat berfokus pada leadership dengan empati dan akuntabilitas. Melalui program ini, para pemimpin dibekali kemampuan memahami kebutuhan tim sekaligus menjaga standar kerja dan target bisnis perusahaan.
“Tantangan dunia kerja saat ini tidak hanya berkaitan dengan pencapaian target bisnis, tetapi juga bagaimana perusahaan mampu menjaga kesejahteraan psikologis karyawan agar tetap produktif secara berkelanjutan,” lanjut Widya.
Berbeda dengan pelatihan umum yang mudah diakses di internet, materi diberikan dengan pendekatan akademis yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia bisnis di Indonesia. Selain workshop dan training untuk perusahaan, ada layanan edutainment training bagi tim, pelatihan untuk HR professional dan leader, hingga konseling individu bagi karyawan.
“Seluruh program dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan, mulai dari ukuran organisasi, sektor industri, hingga tantangan spesifik yang dihadapi masing-masing tim. Dengan pendekatan yang terukur dan berbasis riset, kami berharap dapat membantu membangun budaya kerja yang sehat, inklusif, dan berorientasi pada keberlanjutan sumber daya manusia,” ungkap dia.