Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto: Media Indonesia (MI)/Ebet.
Podium Media Indonesia
Dua Menit yang Menentukan
Abdul Kohar, Media Indonesia • 5 October 2026 06:27
Sepak bola barangkali diciptakan bukan semata-mata untuk mencari pemenang. Kalau cuma itu tujuannya, kita cukup membaca skor setelah pertandingan selesai. Tidak perlu menonton 90 menit sambil berteriak, mengepalkan tangan, memaki wasit, memeluk orang di sebelah, lalu mendadak terdiam seperti orang baru kehilangan dompet.
Sepak bola menjadi indah justru karena kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana akhirnya. Kamis (1/10) malam memberikan pelajaran itu dengan cara yang hampir keterlaluan. Dua pertandingan Grup A FIFA ASEAN Cup dimainkan bersamaan. Indonesia menghadapi Banglades di Jakarta. Malaysia melawan Singapura di Bandung.
Yang diperebutkan cuma satu, yakni tiket ke final. Namun, rupanya satu tiket itu cukup untuk membuat dua stadion berubah menjadi panggung drama.
Indonesia mengamuk pada babak pertama. Mitchell Baker dan kawan-kawan unggul 6-1. Baker sendiri mencetak empat gol sebelum turun minum. Sepertinya tiket final sudah bisa dicetak, dilaminasi, lalu dimasukkan ke saku. Ternyata sepak bola paling gemar menertawakan perasaan aman.
Di Bandung, Malaysia yang semula hanya unggul 2-0 mulai mengejar. Gol ketiga datang. Lalu, keempat. Kelima. Akhirnya Bergson da Silva menyempurnakan hattrick pada masa tambahan waktu. Malaysia menang 6-0.
'Harimau Malaya' pun bersorak. Mereka pantas bersorak. Pertandingan mereka sudah selesai lebih dahulu. Dengan hasil itu, Malaysia seperti sudah menjejakkan sebelah kaki ke final. Pemain dan pendukung merayakannya. Tinggal menunggu kabar dari Jakarta.
Celakanya, kabar dari Jakarta belum selesai ditulis. Di Gelora Bung Karno, Indonesia justru sedang mengalami keadaan yang mungkin hanya dapat diterangkan dengan satu kalimat, 'menang besar, tetapi belum tentu menang'.
Indonesia sempat unggul 7-1. Lalu Banglades mencetak gol kedua pada 90+1. Di tempat lain, Malaysia sudah menyelesaikan tugas mereka dengan enam gol tanpa balas. Mendadak papan skor menjadi lebih menegangkan daripada pertandingan itu sendiri. Indonesia butuh gol. Bukan satu. Dua.
Luke Vickery memang membuat skor 7-1 pada menit ke-90, tetapi gol Banglades semenit kemudian menjadikannya 7-2. Waktu yang tersisa pun seperti menyusut menjadi lubang jarum. Kemudian, datang menit ke-96. Kevin Diks mencetak gol, 8-2.
Satu lagi. Menit ke-97, Baker muncul dan mencetak gol kelimanya malam itu. Skor berubah jadi 9-2. GBK meledak. Di situlah sepak bola memperlihatkan wataknya yang kadang lebih kejam daripada penulis sinetron.
Di Bandung, orang-orang yang beberapa menit sebelumnya merayakan kemenangan 6-0 harus menerima kenyataan, Indonesia menyalip pada tikungan terakhir. Indonesia dan Malaysia sama-sama mengumpulkan tujuh poin. Selisih gol pun sama-sama +9. Pembeda akhirnya ialah jumlah gol: Indonesia 11, Malaysia 9. 'Garuda' ke final lawan Tailan, malam ini. Begitulah sepak bola.

Pelatih kepala Timnas Indonesia John Herdman (kiri) dan pemain Kevin Diks (kanan) berpose pada jumpa pers pra-pertandingan final FIFA ASEAN Cup 2026 melawan Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Foto: ANTARA/Zaro Ezza Syachniar.
Indonesia dan Malaysia pada malam itu sesungguhnya tidak sekadar melawan Banglades dan Singapura. Mereka seperti sedang bertanding satu sama lain dari dua kota berbeda. Setiap gol di Bandung menjadi pesan ke Jakarta, 'ayo, kejar kami'. Setiap gol di Jakarta seperti balasan, 'jangan senang dulu'.
Ada gengsi. Ada rivalitas. Ada hasrat saling membuktikan. Bahkan, mungkin ada sedikit kenakalan khas tetangga, 'kalau saya tidak bisa membuat Anda kalah secara langsung, saya akan membuat Anda terus melihat papan skor'.
Itulah mengapa sepak bola tidak pernah sekadar soal mengangkat trofi. Trofi memang penting. Kelak, orang memotretnya, mengangkatnya, mengaraknya. Beberapa tahun kemudian, mungkin kita lupa siapa pencetak gol ketiga atau bagaimana proses gol kelima. Namun, kita akan lama mengingat perasaan.
Perasaan Malaysia ketika skor 6-0 seolah membuka pintu final. Perasaan Indonesia ketika Banglades membuat skor 7-2. Perasaan ketika Kevin Diks menjadikannya 8-2. Lalu Baker mencetak gol kesembilan ketika waktu tinggal seujung kuku. Itulah dramaturgi sepak bola. Ada harapan, kecemasan, kegembiraan, lalu keputusasaan yang bisa saja bertukar tempat hanya dalam 2 menit.
Barangkali, itulah sebabnya jutaan manusia rela menonton 22 orang mengejar sebuah bola. Sesungguhnya yang mereka kejar bukan bola. Mereka mengejar kemungkinan. Selama peluit panjang belum berbunyi, kemungkinan itu belum mati.
Mari merayakan itu semua. Termasuk jika timnas mengangkat trofi di GBK, nanti malam, di depan 67 ribu pasang mata langsung, dan jutaan rakyat Indonesia lewat layar kaca.