Trump Sebut Kasus Wabah Pes Rusia Bukan Senjata Biologis

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. The New York Times

Trump Sebut Kasus Wabah Pes Rusia Bukan Senjata Biologis

Muhammad Reyhansyah • 8 October 2026 12:11

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pejabat AS tidak meyakini kematian seorang pekerja laboratorium Rusia berkaitan dengan senjata biologis.

“Kami akan segera mengetahuinya, tetapi kami rasa tidak,” kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih, Rabu, 7 Oktober 2026.

Pekerja laboratorium berusia 28 tahun tersebut meninggal pekan lalu dan menjadi perhatian internasional karena bekerja di sebuah institut di Siberia yang mempelajari wabah pes.

Respons Rusia, termasuk penerapan karantina, serta minimnya informasi yang dipublikasikan mengenai kasus tersebut turut memunculkan pertanyaan. Langkah yang diambil Rusia disebut jauh lebih luas dibandingkan respons normal terhadap kematian yang berkaitan dengan penyakit pes.

Trump mengatakan pejabat Rusia telah meyakinkan mitra mereka di AS bahwa situasi berada dalam kendali.

“Tiongkok tidak banyak mengatakan, dan Rusia juga tidak banyak mengatakan. Tetapi mereka mengatakan bahwa mereka benar-benar mengendalikan situasi,” ujar Trump, merujuk pada pernyataan awal pejabat Tiongkok pada 2020 mengenai pengendalian virus Covid-19 sebelum kemudian terjadi pandemi global.

Trump mengatakan dirinya berharap otoritas Rusia memberikan lebih banyak informasi mengenai kasus tersebut setelah AS merasa Rusia belum cukup terbuka.

“Saya baru saja bertemu dengan orang-orang kami. Kami memiliki para ahli yang brilian. Mereka mengetahui semua yang terjadi. Dan semua informasi itu melalui mereka,” katanya, dikutip dari The Washington Post, Kamis, 8 Oktober 2026.

WHO Masih Cari Kepastian

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan otoritas Rusia telah memberi tahu mereka bahwa pekerja laboratorium tersebut mengalami pneumonia yang didapat dari komunitas.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, Rusia juga sedang dimintai informasi mengenai laporan yang belum terkonfirmasi bahwa pekerja kedua di laboratorium Siberia mengalami pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui.

WHO mengatakan masih belum mengetahui patogen yang menyebabkan penyakit fatal pada pekerja pertama, patogen apa yang diuji oleh laboratorium Rusia, maupun alasan sekitar 200 orang ditempatkan dalam karantina atau observasi medis.

Tanpa informasi tersebut, WHO mengatakan belum dapat menilai risiko kesehatan masyarakat secara menyeluruh.

Badan kesehatan masyarakat Rusia sebelumnya mengatakan seorang pekerja di institut yang khusus mempelajari penyakit pes di wilayah Irkutsk meninggal setelah didiagnosis mengalami pneumonia dengan penyebab “tidak diketahui”.

Dalam pembaruan pada Rabu, badan tersebut mengatakan situasi berada dalam kondisi “stabil”. Mereka juga menyatakan penyakit pes tidak ditemukan dalam pemeriksaan lanjutan terhadap ribuan orang di wilayah tersebut.

“Langkah-langkah pencegahan dan antipidemik telah dilakukan secara menyeluruh, tidak ada risiko epidemi terhadap penduduk Irkutsk dan wilayah Irkutsk,” kata badan tersebut.

Salah satu laporan media Rusia menyebut pekerja tersebut diduga memecahkan tabung berisi patogen pes pneumonik pada 25 September. Ia kemudian jatuh sakit dan dibawa ke rumah sakit sebelum meninggal pada Jumat. Informasi tersebut belum dikonfirmasi secara independen.

AS Minta Informasi Rusia

Pemerintahan Trump pada pekan ini mengirimkan pesan diplomatik resmi kepada Rusia untuk meminta informasi lebih lanjut mengenai kematian pekerja tersebut.

Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) Erica Schwartz mengatakan ancaman terhadap Amerika Serikat “sangat rendah”.

Schwartz mengatakan sekitar 200 penerbangan dari Siberia tiba di AS setiap tahun dan sejumlah lembaga federal memantau kedatangan dari wilayah tersebut.

Saat ini tidak ada penerbangan langsung dari Rusia ke AS akibat sanksi dan penghentian layanan setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Namun, pelancong masih dapat terbang melalui Istanbul dan sejumlah hub lainnya.

Schwartz menambahkan bahwa penyakit pes pneumonik “sangat dapat diobati” dengan antibiotik jika kasus teridentifikasi sejak dini.

(Fajar Nugraha)