Ilustrasi. Foto: Pexels.
Apa Itu Sociopreneurship? Ini Contoh Bisnis Anak Muda yang Bantu Warga Desa
Eko Nordiansyah • 28 October 2026 21:15
Jakarta: Membangun bisnis tidak hanya bertujuan memperoleh keuntungan, tetapi juga dapat menjadi cara untuk membantu masyarakat dan menyelesaikan persoalan sosial. Konsep ini dikenal sebagai sociopreneurship, yakni kewirausahaan yang menggabungkan kegiatan bisnis dengan misi sosial.
Melansir Glints, sociopreneurship tetap menghasilkan keuntungan, tetapi keuntungan tersebut juga dimanfaatkan untuk mendukung aksi sosial. Maka keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari pendapatan, tetapi juga dari dampak positif yang diberikan kepada masyarakat.
Contoh Sociopreneurship di Indonesia
Ada sejumlah bisnis sosial di Indonesia yang menggabungkan kegiatan usaha dengan upaya menyelesaikan persoalan masyarakat. Berikut beberapa contohnya.1. Du Anyam, Memberdayakan Perempuan di Desa
Du Anyam merupakan bisnis sosial yang memasarkan produk kerajinan anyaman berbahan daun lontar, seperti tas, sepatu, dan suvenir. Produk tersebut dibuat oleh perempuan di 15 desa di Flores, Nusa Tenggara Timur.Bisnis ini berangkat dari persoalan malnutrisi di Flores. Melalui penjualan produk kerajinan, Du Anyam berupaya meningkatkan pendapatan perempuan sekaligus melestarikan budaya menganyam.
Du Anyam memiliki tiga pilar utama, yakni pemberdayaan perempuan, pelestarian budaya, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Pendapatan perempuan di Flores meningkat hingga 40 persen.
Contoh ini menunjukkan bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus membuka peluang pendapatan bagi warga desa.
2. Mendekor, Mengembangkan Industri Kreatif Lokal
Mendekor merupakan bisnis yang bergerak dalam pembuatan dan penjualan produk interior, seperti furnitur, dekorasi, dan lampu hias. Usaha ini melibatkan pengrajin lokal dalam proses produksi.Mendekor didirikan pada 2016 untuk memajukan industri kreatif Indonesia. Selain mendukung pengrajin lokal, mendekor juga meresmikan taman bacaan ramah anak bersama Taman Bacaan Pelangi di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, pada Maret 2020.
Bisnis ini memperlihatkan kegiatan usaha di sektor kreatif dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan pengrajin dan dukungan terhadap pendidikan anak.
.jpg)
(Ilustrasi Waste4Change. Foto: Dok istimewa)
3. Waste4Change, Mengolah Sampah secara Bertanggung Jawab
Waste4Change merupakan bisnis sosial yang berfokus pada pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Berdiri pada 2014, perusahaan ini menjalankan berbagai kegiatan melalui kolaborasi dan pemanfaatan teknologi.Waste4Change memiliki prinsip 4C, yakni Consult untuk konsultasi pengelolaan sampah, Campaign untuk edukasi masyarakat, Collect untuk pengumpulan sampah, dan Create untuk mengolah sampah menjadi bahan daur ulang.
Model bisnis tersebut, menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan dapat menjadi peluang usaha yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
4. WeCare.id, Membantu Pasien yang Membutuhkan
WeCare.id merupakan bisnis sosial di bidang kesehatan yang bertujuan membantu pasien dengan keterbatasan finansial, terutama mereka yang tinggal di daerah sulit dijangkau dan belum terdaftar sebagai peserta BPJS.
Melalui platformnya, masyarakat dapat melihat informasi pasien yang membutuhkan donasi. Di sisi lain, transparansi dalam proses penggalangan dan pencairan dana merupakan bagian penting dari pendekatan WeCare.id.
Contoh ini memperlihatkan pemanfaatan teknologi untuk memperluas akses bantuan kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Peluang Sociopreneurship bagi Anak Muda
Selain empat contoh tersebut, anak muda juga dapat mengembangkan bisnis sosial dengan memanfaatkan potensi daerah masing-masing. Misalnya, membantu petani memasarkan hasil panen, mengembangkan produk kerajinan lokal, atau membangun usaha pengolahan sampah yang melibatkan warga desa.Bidang yang dapat dikembangkan dalam sociopreneurship mencakup industri kreatif, agrikultur dan perikanan, pendidikan, kesehatan, serta penyediaan akses di daerah terpencil.
Agar dapat memberikan dampak yang berkelanjutan, bisnis sosial perlu memiliki misi yang jelas, menghadirkan inovasi, dan terbuka terhadap masukan masyarakat yang menjadi penerima manfaat.
Dengan pendekatan tersebut, sociopreneurship dapat menjadi salah satu cara bagi anak muda untuk membangun usaha sekaligus membuka peluang ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan menjawab persoalan sosial di lingkungan sekitar. (Natasya Dwi Putri)