LippoLand Perkuat Bisnis Hunian Terjangkau di Tengah Backlog 9 Juta

CEO LippoLand David Iman Santosa. Foto: dok LippoLand.

LippoLand Perkuat Bisnis Hunian Terjangkau di Tengah Backlog 9 Juta

Ade Hapsari Lestarini • 2 October 2026 18:52

Jakarta: Kebutuhan hunian di Indonesia masih menjadi tantangan di tengah backlog kepemilikan rumah yang mencapai sekitar sembilan juta keluarga. Kondisi tersebut mendorong pengembang untuk memperluas pilihan hunian, termasuk pada segmen yang lebih terjangkau.

CEO LippoLand David Iman Santosa mengatakan pengalaman perusahaan selama 39 tahun di industri properti diarahkan untuk menjawab perubahan kebutuhan masyarakat, termasuk persoalan akses terhadap hunian.

"Selama 39 tahun, LippoLand tumbuh bersama Indonesia. Karena itu, kami tidak hanya ingin melihat bagaimana industri properti berkembang, tetapi juga bagaimana kami dapat tetap relevan dan memberikan kontribusi terhadap kebutuhan masyarakat, termasuk dalam persoalan perumahan," ujar David, dalam keterangan tertulis, Jumat, 2 Oktober 2026.

Menurut David, penyediaan hunian tidak dapat menjadi tanggung jawab satu pihak. Pengembang, perbankan, pemerintah, dan pemangku kepentingan dalam ekosistem perumahan perlu berkontribusi untuk memperluas akses masyarakat terhadap rumah.

Salah satu upaya yang dilakukan LippoLand adalah mengembangkan hunian dengan harga mulai sekitar Rp100 juta dengan skema cicilan sekitar Rp600 ribu per bulan. Perusahaan mengklaim telah menjual sekitar 5.000 unit pada segmen tersebut.

"Angka backlog sekitar sembilan juta keluarga menunjukkan kebutuhan perumahan di Indonesia masih sangat besar. Kami menyadari, LippoLand tidak mungkin menjawab kebutuhan tersebut sendirian. Dibutuhkan partisipasi yang lebih luas dari seluruh pengembang, perbankan, pemerintah, dan seluruh ekosistem perumahan," kata David.

Selain hunian terjangkau, portofolio LippoLand mencakup berbagai segmen, mulai dari essential dan affordable, hingga premium dan ultra luxury. Pada 2025, LippoLand mencatat pra-penjualan sebesar Rp5,32 triliun dengan penjualan 6.047 unit.


CMO LippoLand Jopy Rusli. Foto: dok LippoLand.
 

 

Bidik segmen hunian menengah


LippoLand juga melihat segmen hunian menengah pada kisaran harga Rp1 miliar hingga di bawah Rp2 miliar sebagai salah satu pasar yang potensial.

David mengatakan persaingan pada segmen tersebut menuntut pengembang menghadirkan kombinasi desain, kualitas, harga, dan pilihan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

"Di market Rp1 miliar sampai di bawah Rp2 miliar, hampir semua pengembang bermain. Karena itu, kami harus kreatif dan menggunakan kembali seluruh pengalaman 39 tahun kami dalam menyediakan hunian. Tujuannya bukan hanya membuat produk, tetapi menghasilkan produk yang excellent di market, dengan price point yang tepat dan pilihan pembiayaan yang luas melalui partner perbankan kami," jelas David.

Salah satu produk yang disiapkan untuk segmen premium adalah Brentwood Villas yang akan diperkenalkan di tujuh lokasi di Indonesia. Produk tersebut mengusung konsep hunian vertikal untuk keluarga multigenerasi dengan pilihan rumah dua dan tiga lantai.

CMO LippoLand Jopy Rusli mengatakan konsep tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan perubahan kebutuhan konsumen terhadap hunian.

"Rumah saat ini tidak lagi hanya dinilai dari luas atau lokasinya. Konsumen semakin mempertimbangkan bagaimana sebuah rumah mendukung kehidupan sehari-hari. Brentwood Villas kami hadirkan untuk menjawab perubahan tersebut melalui kombinasi desain, functionality, quality, dan enduring value," ujar Jopy.

Di sisi lain, LippoLand juga menyebut kontribusi terhadap kebutuhan perumahan dilakukan melalui penghibahan lahan sekitar 30 hektare di kawasan Lippo Cikarang kepada negara.

Memasuki usia ke-39, perusahaan menyatakan akan terus mengembangkan perannya dari pengembang kawasan menjadi property enabler dengan mengandalkan pengalaman, kemitraan, dan pengembangan produk untuk menjangkau berbagai segmen kebutuhan hunian.

(Ade Hapsari Lestarini)