Kepala BGN Tegaskan Instruksi: Insiden Keamanan Pangan Tak Boleh Terulang

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono. Foto: Istimewa.

Kepala BGN Tegaskan Instruksi: Insiden Keamanan Pangan Tak Boleh Terulang

Gabriella Thesa Widiari • 29 October 2026 15:33

Jakarta: Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan komitmen untuk mencegah terulangnya insiden keamanan pangan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Upaya pencegahan menjadi target utama dalam pembenahan kualitas layanan di berbagai daerah.

“Bagaimana caranya, tidak boleh ada satu anak pun yang mengalami insiden keamanan pangan! Itu adalah target kita paling utama,” ujar Kepala BGN Sudaryono di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.

Menurut Sudaryono, insiden keamanan pangan merupakan tantangan besar, tetapi bukan berarti tidak dapat ditangani. Oleh karena itu, penguatan pengawasan terhadap kualitas makanan dan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kini menjadi prioritas utama BGN.

Ia mengatakan, salah satu upaya untuk memperkuat pengawasan adalah memperketat penerapan standar operasional prosedur (SOP) dalam penyajian menu MBG. Khususnya terkait penyimpanan makanan.

“Kalau kita biarkan di suhu antara 5 sampai dengan 60 derajat, menu makanan yang kita makan dalam kurun waktu yang lama pasti basi, pasti rusak. Sehingga intinya adalah bagaimana mengatur waktu dan mengatur suhu makanan, SOP ini yang kami perketat,” kata Sudaryono.

BGN juga mendorong penerapan label waktu konsumsi dan pemasangan segel pengaman pada wadah makanan. Kebijakan ini bertujuan memastikan setiap porsi makanan dikonsumsi dalam rentang waktu yang aman selama proses distribusi.

Pengawasan operasional lapangan juga diperkuat melalui pemasangan kamera pengawas atau CCTV di lingkungan SPPG. Pemasangan perangkat pemantau tersebut ditargetkan dapat menjangkau ribuan titik untuk meminamilisir pelanggaran standar kebersihan.

“Jadi, dapur itu sebenarnya sudah memiliki CCTV lokal. Namun, yang ingin kami lakukan adalah memastikan bahwa rekaman CCTV tersebut juga dapat diakses oleh Komite Dapur dan terkoneksi dengan sistem pusat,” kata Sudaryono.


Lebel MBG. Foto: dok. Humas BGN. 

Melalui pemanfaatan sistem tersebut, rasio insiden keamanan pangan atau Incidents per Million Servings (IPMS) tercatat terus menunjukkan tren penurunan. Angka rasio yang sempat berada di level 5,3 pada periode Januari–Desember 2025 berhasil ditekan turun menjadi 3,6 pada periode Agustus–Oktober 2026.

Namun, Sudaryono menilai capaian tersebut masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan standar rasio keamanan pangan di sejumlah negara lain seperti Amerika Serikat dan Jepang. Oleh karena itu, BGN bertekad terus memperbaiki sistem pengawasan hingga mencapai rasio nol kasus.

"Doakan kami, dukung kami, kasih masukan, kasih kritikan, kasih saran, kasih apa pun itu agar bagaimana caranya kita bisa sampai di level Amerika, yakni nol. Kita ingin nol, tidak boleh ada satu orang pun (yang mengalami insiden keamanan pangan)," ucap Sudaryono.

(Gabriella Thesa Widiari)