Generasi Muda Diajak Mengenal Politik Lewat Ruang Belajar dan Dialog

Kepala Sekolah Partai, Komarudin Watubun. Dokumentasi/ istimewa.

Generasi Muda Diajak Mengenal Politik Lewat Ruang Belajar dan Dialog

Deny Irwanto • 21 October 2026 17:45

Jakarta: Pendidikan politik bagi generasi muda tidak hanya berkaitan dengan partai dan kekuasaan, tetapi juga menyangkut persoalan sehari-hari, seperti pendidikan, pekerjaan, perkembangan teknologi, dan masa depan bangsa. Pemahaman tersebut menjadi salah satu hal yang diangkat dalam kegiatan Muda-Mudi Sekolah Partai yang diikuti mahasiswa dan konten kreator.

Kegiatan yang digelar Sekolah Partai PDI Perjuangan itu diikuti sekitar 100 mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia serta sejumlah konten kreator dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Acara ini menjadi ruang pengenalan pendidikan politik sekaligus dialog bagi generasi muda menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Kepala Sekolah Partai, Komarudin Watubun, mengatakan kegiatan tersebut menjadi langkah untuk memperluas akses pembelajaran politik bagi masyarakat. Ia menilai lembaga pendidikan politik perlu membuka ruang yang lebih luas, sehingga tidak hanya dipahami sebagai tempat belajar bagi kader partai.

"Kalau selama ini terkesan Sekolah Partai itu elitis, untuk orang partai saja, untuk kelas tertentu, maka ketika saya menjadi kepala sekolah, kami mulai membuka diri agar jangkauannya lebih luas," kata Komarudin dalam keterangan dikutip, Rabu, 21 Oktober 2026.

Menurut Komarudin, keterlibatan anak muda dalam kehidupan politik dan demokrasi perlu terus didorong. Generasi muda, kata dia, perlu memahami sejarah bangsa serta ikut memikirkan berbagai persoalan yang akan memengaruhi masa depan Indonesia.

Ia juga menilai pemikiran Bung Karno perlu dibahas dalam konteks kehidupan generasi sekarang. Isu seperti akses pendidikan, lapangan pekerjaan, ketimpangan ekonomi, perkembangan teknologi, dan kebebasan berekspresi dapat menjadi bahan diskusi untuk menghubungkan pemikiran kebangsaan dengan tantangan masa kini.

Dalam kegiatan tersebut, Komarudin turut memperkenalkan tagline pendidikan, yakni 'Etika, Logika, dan Estetika'. Ketiganya dimaknai sebagai nilai yang saling melengkapi dalam membentuk karakter, cara berpikir, dan kepekaan sosial.


Suasana kegiatan Muda-Mudi Sekolah Partai. Dokumentasi/ istimewa.

Etika berkaitan dengan moralitas, integritas, dan tanggung jawab. Logika menekankan kemampuan berpikir kritis serta mengambil keputusan secara rasional, sedangkan estetika berhubungan dengan kepekaan terhadap kemanusiaan, kebudayaan, dan nilai kehidupan.

"Etika memberikan arah, logika memberikan dasar pemikiran, dan estetika memberikan kepekaan. Ketiganya harus menjadi satu kesatuan dalam membentuk karakter dan kepemimpinan," ungkap Komarudin.

Ia berharap ruang pembelajaran tersebut dapat membantu generasi muda mengenal sejarah, memahami ideologi, mengembangkan pemikiran kritis, dan merefleksikan tanggung jawab mereka terhadap masa depan bangsa.

Sekretaris Umum Sekolah Partai, Nida Zidny Paradhisa, menjelaskan kegiatan Muda-Mudi Sekolah Partai dirancang sebagai ruang pengenalan, pembelajaran, dan dialog. Peserta diajak mengenal sejarah, fungsi, fasilitas, serta berbagai aktivitas pendidikan politik yang berlangsung di lembaga tersebut.

“Kami menyelenggarakan kegiatan ini sebagai ruang pengenalan, pembelajaran, dan dialog agar adik-adik dapat mengenal lebih dekat Sekolah Partai PDI Perjuangan,” ungkap Nida.

Ia menambahkan, pendidikan politik tidak terbatas pada pembahasan partai atau kekuasaan. Pemahaman politik juga berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, termasuk kebijakan pendidikan, kesempatan kerja, perkembangan teknologi, dan berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda.

Karena itu, kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya, bertukar pandangan, dan menyampaikan gagasan secara kritis.

"Adik-adik tidak hanya mengenal Sekolah Partai, tetapi juga dapat berdiskusi, bertanya, serta menyampaikan pandangan dan gagasan secara kritis," jelas Nida.

Melalui ruang dialog seperti ini, pendidikan politik diharapkan dapat menjadi sarana bagi generasi muda untuk memahami proses kehidupan berbangsa secara lebih luas. Kesempatan untuk berdiskusi dan menguji gagasan juga dapat membantu anak muda melihat persoalan publik dari berbagai sudut pandang, sekaligus mengenali peran mereka dalam kehidupan demokrasi.


(Deny Irwanto)