Cetak Sejarah di Moto3, Ini Profil Veda Ega yang Siap Tampil di MotoGP Mandalika

Veda Ega Pratama. Foto: Dok. MotoGP

Cetak Sejarah di Moto3, Ini Profil Veda Ega yang Siap Tampil di MotoGP Mandalika

Angel Rinella • 7 October 2026 16:47

Jakarta: Pebalap Indonesia Veda Ega Pratama akan tampil pada MotoGP Indonesia 2026 di kelas Moto3 bersama Honda Team Asia. Ia akan menjalani balapan kandangnya bersama Mario Suryo Aji yang tampil di kelas Moto2 bersama Idemitsu Honda Team Asia di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, 9-11 Oktober 2026.

Menjelang seri Mandalika, Veda dan Mario bertemu dengan komunitas otomotif, bengkel rekanan, serta sejumlah mitra dalam acara "United to Race Forward" yang digelar Idemitsu Indonesia di Jakarta. Kegiatan tersebut juga dihadiri dua pebalap Honda Team Asia lainnya, yakni Taiyo Furusato yang berlaga di Moto2 dan Zen Mitani di Moto3.

Penampilan di Mandalika menjadi momen penting bagi Veda setelah mencatat sejarah pada awal musim Moto3 2026. Pebalap bernomor 9 itu menjadi pebalap Indonesia pertama yang naik podium Grand Prix setelah finis di posisi ketiga pada Grand Prix Brasil.

Pencapaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Veda di dunia balap. Dari Wonosari, Gunungkidul, ia berkembang melalui berbagai kompetisi hingga akhirnya tampil di Kejuaraan Dunia Moto3 pada usia 17 tahun.

Pembalap muda Indonesia Veda Ega Pratama berpose dengan motor yang digunakannya di Red Bull Rookies Cup 2024. (ANTARA/Red Bull Rookies Cup)


Profil Veda Ega Pratama

Veda Ega Pratama lahir di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 23 November 2008. Ia mulai mengenal dunia balap sejak usia lima tahun dan mendapat dukungan dari sang ayah, Sudarmono, yang juga pernah berkompetisi di Kejuaraan Nasional Supersport 600.

Veda mulai mengendarai minibike pada usia lima tahun dan sudah mengikuti balapan motor ketika berusia enam tahun. Pada 2019, saat baru berusia 10 tahun, ia berhasil memenangi Kejuaraan Nasional Balap Underbone.

Selain sang ayah, Veda juga memiliki sosok yang menjadi idolanya di dunia balap. Ia mengagumi Casey Stoner, legenda MotoGP asal Australia yang pernah menjadi juara dunia pada 2007 dan 2011.

Di luar lintasan, Veda gemar memancing dan bersepeda. Ia juga menyukai pelajaran olahraga di sekolah dan menyebut Sirkuit Motegi sebagai salah satu lintasan favoritnya karena memiliki karakter yang menantang dan teknis.

Veda sebelumnya menggunakan nomor balap 54, tetapi kini tampil dengan nomor 9 di Moto3. Pada awal 2026, ia juga berstatus sebagai atlet resmi Red Bull dan tercatat sebagai pebalap Indonesia pertama sekaligus satu-satunya pebalap Grand Prix asal Asia yang memiliki kontrak penuh dengan Red Bull pada musim ini.

Veda memiliki target besar dalam kariernya. Ia ingin menjadi pebalap MotoGP Indonesia pertama sekaligus meraih gelar juara dunia.

"Saya ingin menjadi pembalap MotoGP Indonesia pertama dan menjadi Juara Dunia," kata Veda dikutip laman resmi MotoGP, Rabu, 7 Oktober 2026.

Perjalanan Veda Ega Pratama Menuju MotoGP

Perjalanan Veda menuju panggung dunia dimulai ketika ia mendapat kesempatan menjadi pebalap wildcard Asia Talent Cup 2021 di Mandalika. Saat itu, ia masih berusia 12 tahun dan kesempatan tersebut menjadi pengalaman balap internasional pertamanya.

Asia Talent Cup, yang kini bernama Idemitsu Moto4 Asia Cup, menjadi salah satu ajang pembinaan pebalap muda di Asia dalam jalur Road to MotoGP. Sejumlah pebalap yang pernah tampil di kompetisi tersebut kemudian melanjutkan karier ke kelas Grand Prix, termasuk Ai Ogura dan Somkiat Chantra.

Veda menunjukkan perkembangan pesat setelah menjalani musim penuh pertamanya pada 2022. Ia mengakhiri musim di posisi ketiga sebelum tampil dominan pada 2023 dengan memenangi sembilan dari 12 balapan.

Hasil tersebut membuat Veda menjadi pebalap Indonesia pertama yang meraih gelar Asia Talent Cup. Ia memastikan gelar tersebut setelah meraih kemenangan di Sepang, Malaysia.

Veda menyebut gelar tersebut sebagai pencapaian terbesar dalam kariernya saat itu. Ia juga menganggap balapan di Malaysia sebagai penampilan terbaik karena berhasil memastikan gelar juara.

"Prestasi terbesar saya sejauh ini adalah gelar Asia Talent Cup karena saya adalah juara Indonesia pertama di kompetisi ini. Balapan terbaik saya adalah di Ronde 5 di Malaysia karena saya berhasil mengamankan gelar juara di sana," tuturnya.

Keberhasilan tersebut kemudian membawa Veda melanjutkan perjalanan ke Eropa melalui Red Bull MotoGP Rookies Cup. Kompetisi tersebut menggunakan motor KTM yang identik sehingga kemampuan masing-masing pebalap menjadi faktor penting dalam persaingan.

Pada musim pertamanya pada 2024, Veda menempati posisi kedelapan klasemen akhir. Setahun kemudian, ia meraih tiga kemenangan, yakni dua kemenangan di Mugello, Italia, dan satu kemenangan di Sachsenring, Jerman.

Kemenangan di Mugello juga mencatatkan sejarah baru bagi Indonesia. Veda menjadi pebalap Indonesia pertama yang memenangi balapan Red Bull MotoGP Rookies Cup dan membuat lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang dalam akhir pekan Grand Prix di Eropa.

Veda kemudian menutup musim 2025 sebagai runner-up Red Bull MotoGP Rookies Cup dengan 181 poin. Ia mengoleksi enam podium dan tujuh kali finis di posisi empat besar, serta mengikuti JuniorGP World Championship dan menempati posisi ke-10 klasemen akhir.

Pada akhir 2025, Veda kembali mencatat sejarah dengan tampil di FIM MotoGP Awards di Valencia. Ia menjadi pebalap Indonesia pertama yang hadir dan menerima penghargaan dalam ajang tersebut atas prestasinya sebagai runner-up Red Bull MotoGP Rookies Cup.

Pembalap Indonesia Veda Ega Pratama. Foto: ANTARA / Astra Honda Racing Team

Prestasi Veda Ega Pratama di Moto3 2026

Veda naik ke kelas Moto3 pada 2026 bersama Honda Team Asia dan langsung menunjukkan kemampuan bersaing sejak seri pembuka. Pada Grand Prix Thailand di Sirkuit Internasional Chang, Buriram, ia lolos langsung ke Q2 dan mengamankan posisi start kelima.

Dalam balapan debutnya, Veda sempat bersaing untuk posisi podium sepanjang sebagian besar dari 19 lap. Ia akhirnya finis kelima dan mencatat hasil terbaik pebalap Indonesia di kategori Moto3 pada saat itu.

Penampilan tersebut mendapat perhatian dari sejumlah tokoh di paddock Grand Prix. Carlo Merlini, Direktur Pemasaran Gresini Racing, menyebut Veda sebagai "talenta Asia terkuat saat ini", sementara Alex Marquez juga memberikan perhatian terhadap kemampuan pebalap muda Indonesia tersebut.

Pada seri kedua di Grand Prix Brasil, Veda kembali tampil kuat sejak kualifikasi. Ia menempati posisi keempat di grid sebelum jalannya balapan dihentikan oleh bendera merah setelah terjadi kecelakaan yang melibatkan pebalap lain.

Setelah balapan dimulai kembali, Veda harus mengejar pebalap di depannya. Dalam empat lap terakhir, ia mampu bergerak dari posisi ketujuh ke posisi ketiga dan melakukan manuver penting pada lap terakhir untuk merebut podium.

Hasil tersebut membuat Veda menjadi pebalap Indonesia pertama yang naik podium dalam ajang Grand Prix. Ia pun mencatat finis ketiga pada balapan keduanya di Kejuaraan Dunia Moto3.

Veda mengaku bangga dengan hasil tersebut dan memberikan apresiasi kepada tim, masyarakat Indonesia, sponsor, serta keluarganya. Menurutnya, podium Brasil menjadi pencapaian terbesar dalam kariernya hingga saat itu.

"Akhirnya saya finis tiga besar pada akhir pekan balapan Grand Prix kedua saya. Tim melakukan pekerjaan yang sangat baik sehingga semuanya berjalan lancar. Saya sangat bangga dengan hasil di Brasil, pencapaian terbesar saya sejauh ini." ujarnya.

Setelah dua putaran, Veda sempat menempati posisi ketiga klasemen Kejuaraan Dunia Moto3 2026 dengan 27 poin. Ia kembali berada di posisi ketiga setelah Ronde 7 di Mugello.

Veda juga menunjukkan kemampuan mengelola balapan dalam kondisi sulit di Brasil. Sebelum bendera merah dikibarkan, ia berusaha menjaga kondisi ban karena daya cengkeram lintasan menurun dengan cepat, sedangkan setelah balapan dimulai kembali ia menggunakan ban baru untuk mengejar posisi depan.

"Sebelum bendera merah dikibarkan, saya berusaha mengelola ban karena di sirkuit ini daya cengkeram ban menurun cukup cepat dan ban cepat aus. Jadi saya mencoba tetap tenang, tetapi pada akhirnya saya kesulitan dan kehilangan beberapa posisi." tambahnya.

Setelah restart, Veda hanya memiliki lima lap untuk mengejar ketertinggalan. Ia kemudian meningkatkan kecepatannya dan berhasil merebut posisi ketiga pada akhir balapan.

"Namun, setelah bendera merah dikibarkan, saya memakai ban baru dan saya mencoba untuk memacu diri karena hanya tersisa lima lap. Jadi saya memacu diri dengan keras dan akhirnya saya berhasil finis di posisi ketiga. Luar biasa." katanya.

Target Veda Ega Pratama di MotoGP Indonesia 2026

Kini, Veda bersiap menjalani balapan kandang di Sirkuit Mandalika. Seri ini menjadi kesempatan bagi pebalap berusia 17 tahun tersebut untuk kembali menunjukkan kemampuannya di hadapan pendukung Indonesia.

Veda memiliki sejumlah kemampuan yang menjadi modal dalam menghadapi persaingan Moto3. Ia dikenal memiliki pengereman yang stabil, kemampuan beradaptasi dengan cepat, insting menyalip yang agresif, serta mental kuat ketika harus mengejar posisi setelah tertinggal.

Kemampuan tersebut berkembang sejak ia mengikuti berbagai kompetisi junior. Pengalamannya di Asia Talent Cup, Red Bull MotoGP Rookies Cup, JuniorGP hingga Moto3 membuat Veda semakin terbiasa menghadapi berbagai karakter lintasan dan tekanan balapan.

Ia juga mempersiapkan diri dengan mempelajari sirkuit melalui permainan video MotoGP dan rekaman balapan. Cara tersebut membantunya memahami karakter lintasan sebelum menjalani balapan secara langsung.

Mandalika sendiri memiliki arti khusus dalam perjalanan Veda karena menjadi tempat ia pertama kali mendapat kesempatan tampil di Asia Talent Cup pada 2021. Kini, lima tahun setelah pengalaman tersebut, ia kembali ke sirkuit yang sama sebagai pebalap Kejuaraan Dunia Moto3.

Kehadiran Veda juga menambah harapan penggemar Indonesia terhadap lahirnya pebalap yang mampu menembus kelas utama. Sebelumnya, Mario Suryo Aji menjalani dua musim di Moto3 sebelum naik ke Moto2, sedangkan Doni Tata Pradita pernah berkompetisi di kelas 250cc.

Afridza Munandar juga menjadi salah satu sosok yang dikenang dalam perjalanan pembalap muda Indonesia. Ia meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan tragis di Sepang pada 2019 dan kemudian menjadi inspirasi bagi generasi pebalap berikutnya.

Indonesia memiliki basis penggemar sepeda motor dan balap yang besar, sementara Sirkuit Mandalika menjadi salah satu fasilitas penting dalam perkembangan olahraga tersebut. Selain MotoGP, sirkuit di Lombok itu juga menjadi tuan rumah WorldSBK.

Bagi Veda, perjalanan menuju kelas utama masih panjang. Namun, setelah menjadi juara Asia Talent Cup, runner-up Red Bull MotoGP Rookies Cup, dan pebalap Indonesia pertama yang naik podium Grand Prix, ia telah menunjukkan fondasi kuat untuk mengejar mimpinya menjadi pebalap MotoGP Indonesia pertama.

(Muhamad Marup)