Harga Emas Naik Tipis, Pelemahan Dolar AS dan Peningkatan Obligasi Jadi Pemicunya

Harga Emas Naik Tipis, Pelemahan Dolar AS dan Peningkatan Obligasi Jadi Pemicunya

Eko Nordiansyah • 7 October 2026 08:15

Chicago: Harga emas dunia mencatat kenaikan tipis pada Selasa, 6 Oktober 2026, didukung oleh dolar AS yang melemah dan meredanya aksi jual obligasi Treasury AS. Kenaikan harga emas batangan tertahan oleh pergerakan harga minyak yang kembali naik.

Dikutip dari Investing, Rabu, 7 Oktober 2026, emas spot naik 0,6 persen dan ditutup pada level USD4.163,97 per ons. Sementara emas berjangka naik tipis 0,1 persen dan ditutup pada USD4.192,80 per ons.

Dolar AS turun dan aksi jual obligasi mereda

Harga emas cenderung tertahan belakangan ini di tengah penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil (yield) Treasury AS yang terus-menerus, yang juga berdampak pada pasar obligasi lain di seluruh dunia. Biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat membebani aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding), seperti emas.

Kekhawatiran akan lonjakan inflasi akibat harga minyak, kekhawatiran mengenai besarnya utang yang diterbitkan perusahaan untuk mendanai pembangunan infrastruktur AI, sikap hawkish bank sentral, serta membengkaknya utang fiskal telah berkontribusi pada aksi jual obligasi tersebut. Gejolak yang terjadi khususnya di Prancis turut memperparah kekhawatiran pasar.

Namun, obligasi Treasury AS mengalami pemulihan (rally) pada Selasa, yang menyebabkan penurunan imbal hasil. Imbal hasil acuan tenor 10 tahun turun 3,5 basis poin dan ditutup pada 5,278 persen. Sementara imbal hasil tenor 30 tahun turun tipis ke level 5,661 persen.

Kedua instrumen tersebut baru-baru ini mencapai level tertinggi yang belum pernah terlihat sejak awal 2002. Sementara itu, indeks dolar AS turun 0,3 persen.

"Meskipun kemarin sempat terjadi sedikit penyimpangan dari pola biasanya, emas dan perak tetap memiliki korelasi negatif yang kuat dengan dolar AS. Hal ini tidak selalu terjadi, namun demikianlah kondisinya saat ini," ujar analis pasar senior di Trade Nation David Morrison.

"Meski demikian, argumen bullish menyatakan bahwa ketika logam mulia memutuskan untuk bergerak naik, maka tidak ada yang bisa menghentikannya, bahkan lonjakan nilai dolar sekalipun. Hal itu mungkin saja terjadi," ujar dia.
(Ilustrasi. Foto: Unplash)

Harga minyak naik tipis

Beralih ke aspek geopolitik, perubahan arah harga minyak pada Selasa membatasi kenaikan harga emas. Kontrak berjangka minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, naik 0,9 persen dan ditutup pada level USD101,21 per barel. 

Pemulihan arus minyak mentah dari Timur Tengah dan dorongan negara-negara G7 untuk melepas cadangan darurat diimbangi oleh serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz serta kekhawatiran pasokan akibat pertempuran antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.

Negara-negara pengekspor minyak di kawasan Teluk berhasil melampaui tingkat volume sebelum perang selama sekitar separuh bulan September, menurut data pelayaran yang dikutip oleh Reuters. 

Data Kpler menunjukkan rata-rata bergerak tujuh hari untuk ekspor minyak mentah dari kawasan tersebut mencapai 18,3 juta barel per hari pada 30 September, dengan volume yang melampaui tingkat sebelum dimulainya perang Iran pada akhir Februari selama 14 hari pada bulan lalu.

Kekhawatiran pasokan juga sedikit mereda setelah negara-negara G7 sepakat untuk melepas 100 juta barel solar dan minyak mentah dari cadangan darurat serta tidak menerapkan pembatasan ekspor energi, sebagai respons atas tekanan dari Presiden Donald Trump.

Namun, meskipun arus pasokan telah membaik, para pedagang tetap merasa was-was di tengah tidak adanya tanda-tanda terobosan diplomatik antara AS dan Iran.

Dalam beberapa hari terakhir, Teheran juga meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi jalur perairan vital tersebut. 

Badan United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sembilan insiden pada bulan ini. Angka tersebut sudah setara dengan separuh dari total insiden yang dilaporkan sepanjang bulan September, baik di selat itu maupun di Teluk Persia.

(Eko Nordiansyah)