Editorial MI: Momentum Emas Kebangkitan Bulu Tangkis

Tim Bulu Tangkis Beregu Putra Indonesia raih medali emas di ajang Asian Games 2026. Foto: MI.

Editorial MI: Momentum Emas Kebangkitan Bulu Tangkis

Media Indonesia • 26 September 2026 06:21

DUA puluh delapan tahun jelas bukan waktu yang singkat untuk menunggu. Tujuh kali Asian Games datang dan pergi sebelum akhirnya tim bulu tangkis beregu putra Indonesia kembali berdiri di podium tertinggi.

Karena itu, medali emas yang dipersembahkan Mohammad Zaki Ubaidillah dan kawan-kawan di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 pantas disambut dengan sukacita. Terlebih, emas itu diraih dengan cara luar biasa. Di partai final melawan Tiongkok, meski sempat tertinggal 0-2, Indonesia mampu bangkit dan membalikkan keadaan menjadi 3-2.

Alwi Farhan membuka jalan kebangkitan. Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin menyamakan kedudukan. Zaki, yang akrab disapa Ubed, kemudian menyelesaikan perjuangan dengan menundukkan Weng Hongyang 23-21, 21-13.

Indonesia Raya pun kembali berkumandang dari arena bulu tangkis Asian Games. Penantian sejak Bangkok 1998 akhirnya lunas.

Namun, justru setelah penantian panjang itu berakhir, pekerjaan besar mesti dimulai. Emas Aichi-Nagoya jangan diperlakukan sebagai ujung perjalanan. Ia harus dijadikan momentum emas untuk mengembalikan bulu tangkis Indonesia sebagai kekuatan utama Asia dan dunia.

Kita pernah begitu perkasa. Bukan sekadar melahirkan juara, Indonesia juga membangun tradisi juara. Dari generasi ke generasi muncul pemain yang disegani dunia. Tradisi itulah yang belakangan menghadapi tantangan serius ketika negara-negara lain berlari semakin kencang membangun regenerasi.

Karena itu, kemenangan di Jepang harus dibaca lebih jauh daripada sekadar skor 3-2. Kemunculan pemain muda seperti Alwi dan Ubed menunjukkan harapan itu ada. Tugas PBSI ialah memastikan harapan tersebut tumbuh menjadi kekuatan yang berkelanjutan.

Tim Bulu Tangkis Beregu Putra Indonesia raih medali emas di ajang Asian Games 2026. Foto: dok. PBSI.

Regenerasi tidak boleh berlangsung secara kebetulan. Pembinaan mesti dilakukan dengan sistem yang kukuh, berjenjang, berbasis sport science, kompetisi yang memadai, serta pencarian bakat yang menjangkau sebanyak mungkin daerah.

Perhatian serupa mesti diberikan kepada sektor putri. Medali perunggu beregu putri patut diapresiasi, tetapi sekaligus menjadi pengingat bahwa pekerjaan rumah masih panjang.

Pemerintah pun tidak boleh menyerahkan seluruh urusan kepada PBSI. Membangun atlet dimulai jauh sebelum anak memasuki pelatnas. Kecukupan gizi, kebugaran, aktivitas fisik, fasilitas olahraga, kualitas pelatih, hingga budaya berolahraga sejak usia sekolah merupakan fondasi pembentukan calon juara.
 
Tantangannya semakin berat ketika anak-anak makin lekat dengan gawai dan aktivitas fisik terus berkurang. Tanpa pembenahan fondasi tersebut, kita akan semakin sulit menemukan talenta dengan kondisi fisik, daya tahan, kekuatan, dan karakter kompetitif yang dibutuhkan olahraga modern.

Emas Asian Games 2026 telah menunjukkan bahwa Indonesia masih mampu menaklukkan kekuatan terbaik Asia. Sekarang tugasnya ialah mengubah kemenangan menjadi sistem, euforia menjadi energi, dan momentum menjadi kebangkitan.

Setelah berakit-rakit selama 28 tahun, kita memang pantas berenang ke tepian. Akan tetapi, jangan terlalu lama berpesta di tepian. Olimpiade dan panggung dunia berikutnya sudah menunggu di seberang.

(Anggi Tondi)